Menggapai Pribadi Orang yang Bertaqwa
- 11 Mar 2025 09:58 WIB
- Jambi
KBRN, Jambi : Hamka dalam tafsirnya Al-Azhar, menjelaskan takwa dari kata wiqayah yang berarti memelihara. Yaitu memelihara hubungan baik dengan Allah SWT, jangan sampai terperosok kepada perbuatan yang tidak diridhai dan memelihara segala perintah-Nya agar dapat dijalankan. Memelihara kaki jangan terperosok ke tempat yang penuh lumpur atau duri.
Orang yang bertakwa adalah orang yang selalu berhati-hati menjaga setiap tutur kata dan perilakunya dari setiap hal yang dilarang atau dimurkai Allah. Pada saat yang sama setiap perbuatan yang dilakukan menjadikan Allah ridha kepadanya.
Ali bin Thalib mengatakan, Takwa adalah tidak mengulang- ulang perbuatan maksiat, dan tidak terperdaya dengan merasa puas melakukan ketaatan”. Sebagian ulama juga mendefinisikan Takwa dengan mencegah diri dari adzab Allah dengan membuat amal sholeh dan takut kepada-Nya dikala sepi atau terang-terangan.
Takwa lahir sebagai konsekuensi logis dari keimanan yang kokoh, keimanan yang selalu dipupuk dengan muqorobatullah; merasa takut terhadap murka dan adzab-Nya, dan selalu berharap atas limpahan karunia dan ampunan-Nya.
Ali bin Abi Thalib mengatakan, orang bertaqwa kepada Allah akan senantiasa memiliki empat sifat yang melekat pada dirinya yaitu:
Pertama, Al-Khaufu Minal Jalil (taqwa itu akan menjadikan seseorang merasa takut kepada Allah swt yang memiliki sifat Jalal). Dengan adanya rasa takut kita kepada Allah yang mempunyai sifat Jalal ini menjadikan kita untuk berpikir kembali atau mempertimbangkan terlebih dahulu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah Ta’ala. Dan tentunya dengan adanya rasa takut itu kita menjadi timbul keinginan untuk bertaqwa dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Kedua, Wal ‘amalu bit tanzil (beramal dengan dasar al-Qur’an dan as Sunnah). Dengan adanya pedoman hidup berupa Al-Quran dan As-Sunnah yang telah diturunkan oleh Allah dan ditinggalkan Rasulullah ﷺ tentunya menjadikan kita tidak melakukan suatu perbuatan tanpa mengetahui dalil/dasarnya atau biasa disebut taqlid buta. Sehingga derajat taqwa yang akan kita capai sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah.
Ketiga, Al-Qana’atu bil Qalil (menerima terhadap yang sedikit). Setiap orang yang bertaqwa akan selalu merasa cukup dengan rizki yang sedikit, sesungguhnya orang yang memiliki rizqi yang sedikit dan merasa cukup dengan rizqi tesebut adalah bukti sekaligus tanda bahwa orang itu dicintai oleh Allah Ta’ala. Misalkan saja kita sudah mempunyai penghasilan dari menjadi seorang PNS, seharusnya penghasilan tersebut harus diterima dan disyukuri berapapun itu. Namun inilah karena nafsu manusia terlalu banyak keiinginan sehingga terkadang penghasilan yang ada pun tidak mencukupi baginya. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang bersyukur bukan orang yang kufur akan rizki yang diterima.
Keempat, Al-isti’dadu li yaumir rakhil (bersiap-siap menghadapi hari perpindahan). Perpindahan dari alam dunia ke alam kubur lalu alam akhirat. Artinya segala amal orang yang bertaqwa senantiasa dalam rangka menyiapkan diri akan hadirnya hari kematian. yaitu hari keberangkatan dari alam dunia menuju alam akhirat.
Oleh karena itu ketika Rasulullah ditanya “siapakah manusia yang paling cerdas dan paling mulia di hadapan Allah?” beliau menjawab mereka adalah manusia yang paling banyak mengingat kematian dan paling semangat mempersiapkan diri menghadapinya.
Agar empat sifat taqwa tersebut dapat kita raih, para ulama telah memberikan jalan dengan cara yaitu; pertama dengan cara mu’ahadah. Yaitu mengingat perjanjian dengan Allah SWT dengan cara menyendiri (berkhalwat) guna mengintropeksi diri terhadap kesalahan dan dosa yang diperbuat. Kedua dengan muraqabah (merasa diri dekat dan diawasi Allah SWT). Ketiga dengan cara muhasabah (mengintropeksi) diri terhadap segala kesahan dan dosa. Keempat adalah mu’aqobah (memberikan sangsi diri) terhadap kesalahan yang diperbuat. Kelima yaitu mujahadah (optimalisasi) yaitu memanfaatkan segala kesempatan yang diberikan Allah dengan bersungguh-sungguh beribadah kepadanya sebelum ajal menjemput.
Begitu beratnya menjadi orang bertakwa, Allah SWT menjanjikan keutamaan yang sangat besar, salah satunya sebagaimana firman Allah SWT:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar
(QS. At Talaq ayat 2)
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ
Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya (QS. At Talaq ayat 3)
Dari ayat tersebut, Allah SWT memberikan karunia yang luar biasa bagi orang yang bertakwa, yaitu memberikan jalan keluar dari segala macam persoalan kehidupan. Setiap manusia dalam kehidupannya pasti dihadapkan oleh permasalahan-permasalahan kehidupan. Allah SWT memberikan jaminan apabila yang menghadapi masalah adalah orang yang bertakwa, maka Allah memberikan jalan keluarnya. Termasuk apabila yang dihadapi terkait masalah ekonomi, maka Allah akan memberikannya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka datangnya.
Itu adalah balasan Allah bagi orang bertakwa di dunia, sementara dalam kehidupan di akhirat Allah menjanjikan sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ
فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa. (QS. Al – Qamar ayat 54-55)
Demikian keutamaan balasan di dunia dan di akhirat bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk tetap istiqomah menuju derajat takwa yang kita idam-idamkan.
Bagaimana cara untuk meningkatkan ketakwaan di hati kita? Sungguh saya telah membuang-buang waktu dengan menonton TV dan permainan (games), apa yang harus dilakukan?
Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafizhahullah menjawab:
Pertama
Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan untuk kita bertakwa kepada-Nya, dan memberitakan bahwa ketakwaan adalah tanda keberhasilan dan kemenangan di dunia dan akhirat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman betakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan jangan kalian mati kecuali dalam keadaan Islam” (Ali Imron: 102).
Allah juga berfirman,
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
“Barang siapa yang mentaati Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang menang” (An-Nur: 52).
Allah memberitakan bahwa sesungguhnya Dia bersama orang-orang yang bertakwa, Allah berfirman
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan mereka yang muhsin (berbuat kebaikan)” (An-Nahl:128).
Demikian juga sesungguhnya Allah adalah penolong mereka, Allah berfirmanm,
وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ
“Dan Allah adalah wali orang-orang yang bertakwa” (Al-Jatsiyah:19)
Dan Dia juga memberitakan bahwa kesudahan yang baik diperuntukkan bagi mereka yang bertakwa. Allah berfirman,
وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan kesudahan yang baik diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa” (Al-A’raf: 128).
Orang-orang yang bertakwa adalah golongan yang selamat dan sukses di dunia dan akhirat. Allah berfirman akan hal tersebut,
وَنَجَّيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
“dan kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka bertakwa” (Fushilat: 18).
Allah juga berfirman,
ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا
“Kemudian kami selamatkan orang yang bertakwa” (Maryam: 72).
Allah juga berfirman,
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapatkan kemenangan” (An-Naba’: 31).
Dan orang-orang mukmin yang bertakwa adalah wali-wali Allah. Allah berfirman,
أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ ، الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ
“Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih, yaitu mereka yang beriman dan mereka bertakwa” (Yunus: 62, 63).
Berbagai ayat yang menunjukkan hal ini amatlah banyak.
Kedua
Definisi takwa adalah melaksanakan segala yang diperintahkan Allah dan meninggalkan segala yang dilarang.
Dan diantara hal yang dapat membantu hamba untuk bertakwa adalah:
Merenungkan perkara dunia dan akhirat, membandingkan kadar nilai keduanya, karena dengan mengetahui hal tersebut akan mengarahkan manusia untuk lebih fokus mencari kesuksesan akhirat, yaitu dengan memperoleh berbagai kenikmatan surgawi dan terselematkan dari neraka.
Oleh karena itu Allah ‘Azza wa Jalla memberitakan kepada kita bahwa sesungguhnya surga itu,
أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“(Surga) disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (Ali Imran: 133).
Kemudian, salah satu perkara yang dapat menambah ketakwaan di dalam hati adalah bersungguh-sungguh dalam mentaati Allah Ta’ala karena Allah akan membalas atas usahanya tersebut dengan menambahkan hidayah dan ketakwaan. Dengan demikian, Allah membantunya untuk melaksanakan perintah Allah, membukakan pintu-pintu kebaikan dan ketaatan, serta memudahkan dirinya untuk melakukan ketaatan dan kebaikan yang sebelumnya sulit untuk dilakukan.
Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْواهُمْ
“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah akan menambah hidayah kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaan.” (Muhammad: 17).
Diantara hal yang dapat mengantarkan manusia ke derajat takwa adalah bersemangat untuk melakukan dan memperbanyak puasa. Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan keitimewaan dalam puasa yang dapat membantu hamba melakukan dan mencintai ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman tentang keutamaan puasa,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan puasa atas kalian sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi bertakwa.” (Al-Baqarah: 183).
Demikian juga, mengingat pentingnya berpuasa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepada sahabat beliau untuk berpuasa. Beliau memberi penegasan dalam wasiatnya dan memberitakan bahwa tidak ada yang semisal dengan puasa dalam memperoleh ketakwaan. Dari Abu Umamah ia berkata
يَا رَسُولَ اللَّهِ، مُرْنِي بِعَمَلٍ، قَالَ: ( عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا عَدْلَ لَهُ )، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي بِعَمَلٍ، قَالَ: ( عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا عِدْلَ لَهُ )
“Wahai Rasulullah perintahkanlah aku dengan sebuah amalan. Berkata Nabi: lakukanlah puasa karena sesungguhnya tidak ada yang sepadan dengannya. Aku berkata (lagi): wahai Rasulullah perintahkanlah aku dengan sebuah amalan. Ia berkata: lakukanlah puasa karena sesungguhnya tidak ada yang sepadan dengannya” (HR Ahmad 22149, An Nasa-i 165/4, dan selainnya dan dishohihkan oleh Al-Albani).
Termasuk juga perkara yang mengantarkan kepada ketakwaan adalah berakhlak dengan akhlak dan sifat orang yang bertakwa yang telah Allah Ta’ala sebutkan di Al-Quran. Allah Ta’ala berfirman,
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُتَّقُونَ
“Bukanlah termasuk kebajikan menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, akan tetapi kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang memerlukan pertolongan ditengah perjalanannya, dan orang yang meminta-minta dan memerdekakan budak, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang jujur (keimanannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (Al-Baqoroh: 177).
Dan Allah Ta’ala juga berfirman,
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنْ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ * وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ * أُوْلَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka mengingat Allah kemudian memohon ampun atas dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak melanjutkan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya adalah Ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, mereka kekal didalamnya dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal” (Ali Imran: 133-136).
Termasuk juga perkara yang mengantarkan kepada ketakwaan adalah berpegang teguh dengan petunjuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, dan menjauhi bid’ah yang diada-adakan dalam agama. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu Allah perintahkan agar kamu bertakwa.” (Al-An’am: 153).
Termasuk juga perkara yang mengantarkan kepada ketakwaan adalah tidak melanggar batasan-batasan yang telah ditetapkan Allah. Allah Ta’ala berfirman,
تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
“Itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah maka jangan kalian mendekatinya, demikianlah Allah jelaskan ayat-ayatNya kepada manusia agar semoga mereka bertakwa.” (Al-Baqoroh: 187).
Termasuk juga perkara yang mengantarkan kepada ketakwaan adalah merenungkan ayat-ayat Allah yang bersifat syar’iyah dan kauniyah. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ)
“Sesungguhnya pada pergantian siang dan malam dan seluruh yang Allah ciptakan di langit dan di bumi sunggu terdapat tanda-tanda bagi orang yang bertakwa” (Yunus: 6).
Dan Allah Subhanahu juga berfirman,
وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ أَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا
“Dan demikianlah kami turunkan padanya Al-Quran berbahasa Arab dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, didalamnya sebagian dari ancaman agar mereka bertakwa atau agar Al-Quran itu menimbulkan pengajaran bagi mereka” (Thoha: 113)
Termasuk juga perkara yang mengantarkan kepada ketakwaan adalah sebagai berikut:
Memperbanyak dzikir kepada Allah dan membaca Al-Quran;
Bersahabat dengan orang-orang baik, yang senantiasa memberikan nasihat dan saling mengingatkan, serta menjauhi orang-orang yang berbuat kejelekan dan bid’ah;
Membaca biografi (siroh) orang-orang yang bertakwa, seperti orang-orang yang beirman dan shalih serta para ulama, ahli zuhud dan ibadah.
Ketiga
Hendaknya orang yang berakal selalu mempersiapkan diri untuk bertemu Allah di setiap saat, karena ia tidak tahu kapan kematian menjemput. Dengan begitu, tidak mungkin dirinya mampu memperbaiki kelalaian yang telah dilakukan semasa hidup sehingga yang ada hanyalah penyesalan akan berlalunya waktu tanpa ada manfaat yang diperoleh.
Setiap manusia akan diminta pertanggungjawaban di hari kiamat. Terkait umur, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
“Manusia akan ditanya tentang umurnya dihabiskan untuk apa, dan dari masa mudanya dihabiskan untuk apa” (HR Tirmidzi 2416 dan dishohihkan oleh Al-Albani).
Kesehatan serta tersedianya waktu luang adalah salah satu kenikmatan dari Allah Ta’ala yang tidak disadari nilainya oleh mayoritas manusia kecuali setelah hal tersebut berlalu. Oleh sebab itu nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang manusia banyak terperdaya tentangnya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang” (HR Bukhori 6412)
الغبن berarti kerugian dalam jual beli, sedangkan makna yang dimaksud dalam hadits di atas adalah manusia tidak mengambil manfaat dari hal tersebut bahkan ia nengorbankan kesehatan dan waktu luang yang dimiliki untuk sesuatu yang tidak memberikan manfaat di dunia dan akhirat. Tentu kerugian ini lebih besar daripada kerugian yang dialami pedagang dalam perniagaannya.
Maka orang yang berakal akan mengetahui bahwa dirinya tengah berjalan untuk menyongsong perkara yang besar, yaitu kehidupan akhirat sehingga dia harus mempersiapkan diri menghadapinya. Segala kelelahan yang dirasakan ketika menaati Allah di dunia kelak akan menjadi kegembiraan di akhirat. Oleh karena itu terdapat sebagian salaf yang memforsir jiwanya untuk mentaati Allah, setiap kali orang-orang menyarankan dirinya untuk beristirahat sejenak, maka dia berkata,
راحتَها أريد
“Justru dengan berpeluh dalam ketaatan, aku mencari hakikat kenyamanan jiwa di akhirat”
Sebaliknya, setiap kenyamanan dan kenikmatan yang dirasakan ketika bermaksiat kepada Allah di dunia kelak akan diganjar dengan penyesalan dan azab jika Allah tidak mengampuni pelakunya pada hari kiamat.
Dan Allahlah yang Maha Mengetahui
Buah Ketakwaan yang Disegerakan di Dunia
1. Diberikan jalan keluar dari berbagai kesempitan dan kesusahan hidup serta diberi rezeki dari arah yang tanpa ia duga.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya” (QS. At-Thalaq: 2-3)
2. Dengan takwa hidup seseorang akan menjadi mudah
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
“Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Thalaq: 4)
3. Allah akan memberikan ilmu yang bermanfaat bagi orang yang bertakwa.
واتقوا الله ويعلمكم الله
“Bertakwalah kepada Allah niscaya Allah akan mengajarimu (ilmu).” (QS. Al-Baqarah: 282)
4. Orang yang bertakwa akan senantiasa dilindungi oleh Allah Ta’ala dari tipudaya orang fasik
إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا
“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (QS. Ali Imran: 120)
5. Orang yang bertakwa akan diberikan berkah yang melimpah
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al-A’raf: 96)
Buah Ketakwaan di Akherat
1. Diampuni dosa-dosana serta diagungkan pahalanya
مَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (QS. Ath-Thalq: 5)
2. Orang bertakwa adalah orang-orang yang akan mewarisi surga.
3. Akan mendapatkan kedudukan yang tinggi pada hari kiamat
وَٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ فَوْقَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ
“Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia (tinggi kedudukan) daripada mereka di hari kiamat” (QS. Al-Baqarah: 212)
4. Akan dimasukkan ke dalam surga Bersama rombongan orang yang bertakwa.
وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلْجَنَّةِ زُمَرًا
“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula).” (QS. Az-Zumar: 73)
5. Surga akan didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa.
وَأُزْلِفَتِ ٱلْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ
“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka).” (QS. Qof: 31)
Daftar Pustaka
1. Muhammad Fatwa Hamidan https://hamalatulquran.com/menjadi-pribadi-yang-bertakwa
2. Dede Muslimin, M.Pd. https://www.muallimienbogor.sch.id/read/48/keistimewaan-takwa-dan-cara-menggapainya
3. Handanawirya Narottama https://muslim.or.id/27584-bagaimana-kita-menumbuhkan-ketakwaan-dihati
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....