Waspadai Musim Kemarau Namun Curah Hujan Tetap Tinggi
- 04 Agt 2025 17:19 WIB
- Jambi
KBRN, Jambi: Pada bulan April hingga September di Indonesia identik dengan musim kemarau. Namun, tahun 2025 justru menunjukkan terjadinya anomali cuaca.
Meski seharusnya sudah memasuki periode kemarau, curah hujan tetap tinggi di banyak wilayah. Fenomena ini disebut sebagai kemarau basah. Dan kemarau basah bukan hal baru di Indonesia karena sebelumnya, pola cuaca serupa juga tercatat terjadi pada 2013 dan 2023.
Kemarau basah terjadi karena suhu permukaan laut di sekitar wilayah Indonesia lebih hangat dari biasanya. Ini memicu penguapan yang tinggi dan menyebabkan hujan, meski secara kalender kita berada di musim kemarau. Kelembapan udara yang tetap tinggi menjadi salah satu indikator utama kemarau basah. Saat musim kemarau seharusnya udara kering, tetapi sekarang justru sangat lembab. Ini menunjukkan atmosfer masih menyimpan banyak uap air.
Udara lembap seperti ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tapi juga memicu berkembangnya berbagai mikroorganisme. Akibatnya, beberapa penyakit menjadi lebih sering muncul yang tentunya harus diwaspadai atau bahkan dicegah, yaitu:
1. Leptospirosis
Yang disebabkan oleh bakteri Leptospira yang menyebar melalui urin tikus atau hewan lain. Genangan air hujan menjadi medium penyebarannya. Gejala awal mirip flu, namun bisa berujung pada gangguan hati, ginjal, bahkan kematian bila tak ditangani. Menurut data Kementerian Kesehatan RI per Juni 2025, terdapat 384 kasus leptospirosis yang tersebar di 16 provinsi.
2. Demam Berdarah Dengue
Tingginya kelembapan membuat nyamuk Aedes aegypti lebih aktif. Genangan air di pot bunga, talang, dan ember jadi tempat sempurna bagi nyamuk berkembang biak. Per 2025, kasus DBD di Indonesia tercatat lebih dari 59.000, dengan angka kematian mencapai 422 orang. Ini naik sekitar 15% dibanding tahun lalu.
3. ISPA
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih mendominasi sebagai penyakit dengan kasus terbanyak tahun ini. Udara lembap memicu penumpukan partikel mikro di dalam rumah, memperparah kondisi pernapasan. Kemenkes mencatat lebih dari 2,3 juta kasus ISPA hingga pertengahan tahun 2025.
4. Diare dan gangguan pencernaan
Cuaca hujan mempermudah kontaminasi air dan makanan. Bakteri penyebab diare mudah menyebar di lingkungan yang lembap dan basah. Sebagian besar kasus menyerang anak-anak usia dini. Total ada 1,2 juta kasus diare tercatat sepanjang 2025.
5. Penyakit Kulit
Kelembapan tinggi menjadi kondisi ideal bagi jamur dan bakteri penyebab infeksi kulit. Gatal, ruam, dan infeksi jamur meningkat drastis, apalagi jika pakaian tidak kering sempurna sebelum digunakan. Lebih dari 800.000 kasus penyakit kulit tercatat secara nasional hanya dalam paruh pertama tahun 2025.
Jika udara luar tak bisa dikendalikan, menjaga kelembapan di dalam rumah menjadi salah satu langkah penting. Penggunaan dehumidifier direkomendasikan untuk mencegah pertumbuhan jamur, virus, dan bakteri, bau tidak sedap dan juga kerusakan pada barang-barang. Dehumifier bekerja dengan cara menyerap kelembaban berlebih dari udara sehingga menciptakan lingkungan yang lebih kering dan nyaman. Dehumidifier membantu menjaga kelembapan udara dalam ruangan tetap stabil, terutama di musim kemarau basah seperti saat ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....