Bahaya Fatal TBC Resisten Obat akibat Putus Pengobatan

  • 19 Mei 2026 13:49 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi – Ancaman penularan Tuberkulosis (TBC) di Provinsi Jambi kini memasuki fase yang kian mengkhawatirkan. Asosiasi Dinas Kesehatan (Adinkes) Wilayah Provinsi Jambi memberikan peringatan keras mengenai melonjaknya risiko TBC Resisten Obat (TBC-RO), sebuah kondisi di mana bakteri penyebab TBC telah kebal terhadap regimen obat-obatan standar.

Koordinator Program Resilient and Sustainable Systems for Health (RSSH) AIDS, Tuberculosis, and Malaria (ATM) Adinkes Jambi, Didik Sunaryadi, menegaskan bahwa TBC-RO merupakan ancaman kesehatan yang jauh lebih fatal dan sulit dikendalikan dibanding TBC biasa.

"TBC Resisten Obat terjadi utamanya karena pasien TBC biasa tidak disiplin atau terputus di tengah jalan saat menjalani masa pengobatan 6 bulan. Ketika bakteri menjadi kebal, taruhannya adalah nyawa, dan proses penyembuhannya menjadi berkali-kali lipat lebih berat," tutur Didik kepada RRI, Selasa 19 Mei 2026.

Mengapa TBC Resisten Obat (TBC-RO) Sangat Berbahaya?

Dalam sesi edukasi tersebut, Didik merinci beberapa faktor utama yang membuat TBC-RO menjadi momok menakutkan bagi kesehatan masyarakat:

Masa Pengobatan Lebih Lama: Berbeda dengan TBC biasa yang berkisar 6 bulan, pasien TBC-RO harus menjalani pengobatan kompleks selama 9 hingga 24 bulan (dua tahun).

Efek Samping Obat Lebih Berat: Regimen obat TBC-RO memiliki dosis yang lebih tinggi, yang sering kali memicu efek samping fisik dan psikologis yang signifikan bagi pasien.

Biaya dan Beban Sosial Tinggi: Meskipun obat-obatan disediakan gratis oleh pemerintah di Puskesmas, proses kuratif yang lama berdampak besar pada produktivitas dan ekonomi keluarga pasien.

Risiko Penularan Strain Kebal: Pasien TBC-RO yang tidak diisolasi atau terlambat ditangani dapat menularkan bakteri yang sudah resistan langsung kepada orang lain di sekitarnya.

Deteksi Dini: Kunci Memutus Rantai TBC-RO

Guna mencegah masyarakat jatuh ke dalam fase Resisten Obat, Didik mengimbau warga Jambi untuk mengenali gejala awal TBC secara jeli. Batuk berdahak lebih dari 2 minggu, demam berkepanjangan, penurunan berat badan drastis, serta keringat malam tanpa aktivitas harus segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan.

"Kuncinya adalah TOSS TBC (Temukan TBC, Obati Sampai Sembuh). Jangan tunggu sampai parah atau sampai obat biasa tidak mempan lagi. Semua Puskesmas di Jambi sudah siap dengan alat diagnosis modern," tambah Didik.

Melalui program RSSH ATM, Adinkes Provinsi Jambi terus memperketat pengawasan minum obat (PMO) berbasis komunitas untuk memastikan tidak ada lagi pasien TBC yang putus obat di tengah jalan. Langkah preventif dan kedisiplinan ini diharapkan mampu menekan angka fatalitas TBC-RO demi mewujudkan Jambi bebas TBC.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....