Fakta Medis di Balik Dada Nyeri saat Patah Hati

  • 11 Mei 2026 22:34 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID,Jambi - Perasaan sedih mendalam atau patah hati ternyata dapat memicu nyeri dada hingga sesak napas yang nyata dirasakan tubuh. Kondisi tersebut bukan sekadar perasaan berlebihan, melainkan fenomena medis yang dikenal dengan istilah Takotsubo Cardiomyopathy atau sindrom patah hati. Dalam dunia medis, kondisi ini terjadi ketika stres emosional yang sangat kuat memengaruhi fungsi jantung secara sementara.

Dokter sekaligus edukator kesehatan, Dr. Saddam Ismail menjelaskan bahwa stres emosional ekstrem seperti putus cinta, kehilangan orang tersayang, konflik berat, hingga kabar mengejutkan dapat membuat tubuh melepaskan hormon stres adrenalin dalam jumlah besar. Lonjakan hormon tersebut memicu reaksi pada tubuh yang tidak hanya memengaruhi pikiran, tetapi juga organ vital seperti jantung.

“Lonjakan hormon adrenalin yang sangat tinggi ini bisa memengaruhi otot jantung sehingga bilik jantung mengalami pembengkakan dan kelumpuhan sementara,” ujarnya. Kondisi itu menyebabkan kemampuan jantung memompa darah menjadi terganggu sehingga aliran darah ke seluruh tubuh tidak berjalan optimal dalam beberapa waktu.

Akibat gangguan tersebut, seseorang dapat merasakan gejala yang mirip dengan serangan jantung. Keluhan yang paling sering muncul antara lain nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar, tubuh terasa lemas, hingga keringat dingin saat mengalami tekanan emosional berat. Karena gejalanya menyerupai serangan jantung, banyak penderita akhirnya memerlukan pemeriksaan medis untuk memastikan penyebabnya.

Menurut Dr. Saddam, rasa sakit di dada saat patah hati merupakan reaksi biokimia tubuh terhadap syok emosional yang dialami seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa emosi dan kesehatan fisik memiliki hubungan yang sangat erat. Saat seseorang mengalami tekanan mental berat, tubuh dapat memberikan respons nyata yang memengaruhi kondisi organ dalam, termasuk jantung.

Meski umumnya bersifat sementara dan dapat membaik setelah kondisi emosional stabil, sindrom patah hati tetap tidak boleh dianggap sepele. Penanganan yang tepat, istirahat cukup, dukungan emosional, serta mengelola stres dengan baik sangat penting untuk membantu pemulihan. Jika nyeri dada atau sesak napas terasa berat dan berkepanjangan, segera periksakan diri ke tenaga medis agar mendapatkan penanganan yang tepat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....