Fakta atau Mitos Kerupuk Adalah Gula di Goreng

  • 02 Mei 2026 14:17 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID,Jambi - Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh klaim yang menyebut bahwa kerupuk hanyalah “gula yang digoreng”. Pernyataan ini terdengar provokatif dan mudah menarik perhatian, tetapi perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Kerupuk memang termasuk makanan tinggi karbohidrat, namun menyamakannya secara langsung dengan gula tentu tidak sepenuhnya tepat jika dilihat dari sudut pandang ilmu gizi.

Secara umum, kerupuk merupakan makanan tradisional yang dibuat dari adonan tepung seperti tapioka, sagu, atau beras. Adonan tersebut biasanya dicampur dengan bahan tambahan seperti udang, ikan, atau bumbu tertentu, kemudian melalui proses pengukusan, pengeringan, dan penggorengan. Proses ini menghasilkan tekstur renyah khas yang membuat kerupuk banyak digemari sebagai pelengkap berbagai hidangan di Indonesia.

Bahan utama kerupuk memiliki fungsi masing-masing. Tepung tapioka atau sagu berperan dalam menciptakan tekstur kenyal sekaligus kemampuan mengembang saat digoreng. Sementara itu, tambahan protein hewani seperti udang atau ikan memberikan cita rasa gurih. Bumbu seperti garam dan bawang putih memperkaya rasa, sedangkan air berfungsi sebagai pengikat adonan agar mudah dibentuk sebelum diproses lebih lanjut.

Lalu, dari mana muncul anggapan bahwa kerupuk sama dengan gula? Hal ini berkaitan dengan proses metabolisme dalam tubuh. Karbohidrat kompleks yang terdapat pada tepung memang akan dipecah menjadi glukosa saat dicerna. Glukosa inilah yang menjadi sumber energi utama bagi tubuh. Namun, fakta bahwa karbohidrat diubah menjadi glukosa tidak berarti semua makanan berkarbohidrat bisa disamakan dengan gula secara langsung.

Dari sisi nutrisi, kerupuk memang tergolong tinggi kalori dan didominasi oleh karbohidrat. Dalam jumlah tertentu, kerupuk juga mengandung lemak dari proses penggorengan serta natrium yang cukup tinggi. Konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti kenaikan berat badan atau tekanan darah tinggi, terutama jika tidak diimbangi dengan pola makan yang sehat.

Oleh karena itu, penting bagi konsumen untuk memahami konteks secara utuh. Kerupuk tetap aman dikonsumsi selama dalam porsi wajar dan tidak berlebihan. Membaca label komposisi pada produk kemasan juga bisa membantu mengetahui kandungan tambahan seperti gula atau penyedap. Alih-alih menggeneralisasi kerupuk sebagai “gula yang digoreng”, pendekatan yang lebih bijak adalah memahami kandungan gizinya dan menyesuaikan konsumsi dengan kebutuhan tubuh masing-masing.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....