Kram Betis, Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya
- 29 Mar 2025 19:15 WIB
- Sungaipenuh
KBRN, Sungai Penuh: Setelah kram mereda, otot betis akan terasa pegal dan kaku selama beberapa waktu, sehingga kaki pun terasa lemas dan sulit digerakkan. Meski umumnya tidak berbahaya, kram betis dapat mengganggu aktivitas, sehingga penting untuk diketahui penyebab, penanganan, dan pencegahan agar kram tidak muncul kembali.
Kram Betis dan Penyebab yang Mendasarinya
Penyebab kram betis sebenarnya belum diketahui secara pasti. Meski begitu, terdapat beberapa faktor yang dapat memicu timbulnya kram betis, di antaranya:
1. Kelelahan otot
Kelelahan otot merupakan salah satu pemicu utama kram betis. Saat Anda melakukan aktivitas berat atau olahraga intens tanpa pemanasan yang memadai, otot betis akan terbebani dan kewalahan sehingga tidak mampu berkontraksi dengan normal. Kondisi ini dapat memicu kram betis di saat itu juga atau saat di malam hari setelah beraktivitas.
2. Duduk atau berdiri terlalu lama
Otot juga bisa mengalami kram apabila tidak digerakkan dalam beberapa waktu yang lama. Ketika Anda duduk atau berdiri terlalu lama, tindakan ini dapat menghambat suplai oksigen dan nutrisi ke otot betis. Kondisi ini membuat otot betis menjadi lebih tegang dan rentan terhadap kontraksi yang tidak terkendali.
3. Kekurangan elektrolit
Pemicu kram betis yang berikutnya adalah kekurangan elektrolit atau mineral, seperti magnesium, kalsium, dan kalium. Elektrolit berperan penting untuk mengatur kontraksi otot dan fungsi saraf. Apabila kadarnya kurang di dalam tubuh, hal ini dapat mengganggu proses kontraksi dan relaksasi otot, sehingga memicu timbulnya kram betis. Kekurangan elektrolit di dalam tubuh dapat disebabkan oleh dehidrasi, malnutrisi, diet ekstrem, atau penyakit tertentu, seperti gagal ginjal.
4. Dehidrasi
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, dehidrasi dapat menyebabkan kekurangan elektrolit sehingga memicu kram betis. Tidak hanya itu, dehidrasi juga menyebabkan kekurangan nutrisi dan oksigen pada jaringan tubuh, tidak terkecuali pada otot betis. Hal ini membuat otot betis jadi lebih cepat lelah dan tidak dapat berfungsi dengan optimal.
5. Kehamilan
Kram betis merupakan salah satu keluhan yang cukup sering dialami ibu hamil yang sudah memasuki trisemester akhir. Meski penyebabnya belum diketahui secara pasti, peningkatan bobot badan dipercaya dapat memberikan tekanan tambahan pada otot betis, sehingga berujung pada timbulnya kram betis.Selain itu, perubahan sirkulasi darah saat hamil juga dapat menyebabkan otot kaki dan betis menjadi mudah tegang, sehingga memicu kontraksi otot dan kram betis. Ibu hamil juga lebih rentan mengalami kekurangan kalium dan magnesium, yang juga dapat memicu kram betis.
6. Penuaan
Seiring bertambahnya usia, otot-otot betis cenderung mengalami penurunan kekuatan dan elastisitas, sehingga lebih rentan terhadap kontraksi dan ketegangan otot yang tidak terkendali. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh kurangnya aktivitas fisik yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kram betis.
7. Gangguan saraf
Gangguan atau penyakit pada saraf juga dapat menyebabkan kram betis. Salah satu contohnya gangguan saraf akibat kekurangan vitamin B12 dan vitamin D. Vitamin ini merupakan jenis vitamin yang berperan penting dalam mendukung kerja dan fungsi saraf serta otot. Selain itu, gangguan saraf lainnya, seperti multiple sclerosis dan neuropati diabetik, juga bisa membuat kaki sering mengalami kebas, kesemutan, hingga kram pada kaki dan betis.
8. Penyakit arteri perifer
Kram betis juga dapat dipicu akibat adanya penyakit arteri perifer. Penyakit ini terjadi ketika pembuluh darah di kaki menyempit akibat penumpukan kolesterol, sehingga aliran darah dan oksigen untuk otot terhambat. Akibatnya, otot kaki, termasuk otot betis, menjadi lebih rentan mengalami penegangan atau kontraksi yang tidak terkendali. Selain menimbulkan kram, penyakit ini juga ditandai dengan gejala lain yang timbul pada kaki dan area sekitarnya, seperti nyeri, telapak kaki panas, kesemutan, dan mati rasa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....