Penggunaan Chatbot AI Rentan Pengaruhi Masalah Emosional pada Remaja
- 02 Sep 2026 11:23 WIB
- Jambi
RRI. CO. ID, Jambi - Penggunaan chatbot berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di kalangan remaja terus berkembang. Selain untuk membantu mencari informasi dan mengerjakan tugas, chatbot kini juga kerap dimanfaatkan sebagai teman berbicara hingga tempat mencurahkan persoalan pribadi.
Kondisi tersebut memunculkan perhatian para peneliti karena remaja berada dalam fase perkembangan sosial dan emosional yang penting. Sejumlah penelitian terbaru menemukan adanya hubungan antara penggunaan chatbot untuk mendapatkan dukungan emosional dengan berbagai persoalan psikologis pada anak dan remaja.
Salah satu penelitian terbaru yang melibatkan hampir 40 ribu pelajar di Ontario, Kanada, menemukan bahwa lebih dari 21 persen responden menggunakan AI untuk tujuan emosional, seperti mencari nasihat mengenai persoalan pertemanan maupun keluarga. Mereka yang menggunakan AI untuk kebutuhan tersebut tercatat memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami gejala tekanan emosional.
Namun, temuan tersebut menunjukkan hubungan, bukan berarti penggunaan chatbot secara langsung menyebabkan gangguan emosional. Remaja yang sejak awal merasa kesepian, tertekan, atau mengalami masalah hubungan sosial bisa jadi lebih terdorong mencari tempat bercerita melalui chatbot.
Penelitian lain juga menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap munculnya ketergantungan emosional. Chatbot yang dirancang untuk berkomunikasi secara sangat mirip manusia dapat membuat sebagian remaja merasa dipahami, dipercaya, bahkan memiliki kedekatan emosional dengan sistem AI. Kondisi ini berpotensi membuat chatbot menjadi pengganti hubungan sosial apabila penggunaannya tidak terkontrol.
Di sisi lain, chatbot AI tetap memiliki manfaat. Teknologi ini dapat menjadi sarana memperoleh informasi, membantu proses belajar, atau menjadi tempat awal bagi remaja untuk mengungkapkan perasaan. Tetapi, AI tidak memiliki kemampuan manusia untuk memahami seluruh konteks kehidupan, hubungan sosial, dan kondisi emosional seseorang secara utuh.
Karena itu, penggunaan chatbot untuk persoalan emosional sebaiknya tidak menggantikan komunikasi dengan orang tua, guru, konselor, teman yang dipercaya, maupun tenaga profesional.
Orang tua dan pendidik juga perlu membangun literasi digital agar remaja memahami bahwa jawaban chatbot bukan selalu benar dan tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan terkait persoalan psikologis.
Pada akhirnya, tantangannya bukan sekadar melarang remaja menggunakan AI, melainkan memastikan teknologi tersebut digunakan secara bijak. Chatbot dapat menjadi alat bantu, tetapi dukungan emosional manusia tetap penting bagi tumbuh kembang remaja.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....