Fenomena Makin Marak Perkembangan Teknologi

  • 29 Jun 2026 13:13 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID,Jambi - Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kecerdasan buatan (AI) kini bukan hanya digunakan untuk membantu pekerjaan atau tugas sekolah. Banyak anak muda mulai menjadikan chatbot AI sebagai tempat bertanya tentang kehidupan, hubungan percintaan, hingga kesehatan mental.

Fenomena ini semakin terlihat seiring meningkatnya penggunaan layanan AI seperti ChatGPT, Gemini, dan chatbot sejenis yang dapat diakses kapan saja. Kemudahan mendapatkan jawaban secara instan membuat sebagian orang merasa nyaman mencurahkan keluh kesah kepada AI dibandingkan berbicara dengan orang lain.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada 2026 menemukan bahwa sekitar 19 persen remaja dan dewasa muda pernah menggunakan chatbot AI untuk meminta saran terkait kesehatan mental, seperti saat merasa sedih, cemas, marah, atau stres. Sebagian besar bahkan mengaku merasa terbantu oleh jawaban yang diberikan AI.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa chatbot bukanlah pengganti teman, keluarga, konselor, maupun psikolog profesional. AI dapat memberikan informasi dan membantu pengguna berpikir lebih terstruktur, tetapi tidak memiliki pemahaman emosional dan konteks kehidupan yang sama seperti manusia.

Kekhawatiran lain muncul ketika pengguna mulai terlalu bergantung pada AI untuk mengambil keputusan penting dalam hidup. Beberapa peneliti menilai chatbot dapat memperkuat pandangan yang sudah dimiliki pengguna sehingga berisiko menimbulkan bias atau mengurangi kebiasaan berdiskusi dengan orang lain.

Meski begitu, banyak anak muda menganggap AI sebagai "teman diskusi pertama" sebelum mereka mencari bantuan dari orang yang dipercaya. Penggunaan yang bijak dinilai menjadi kunci agar teknologi ini tetap memberikan manfaat tanpa mengurangi kualitas hubungan sosial di dunia nyata.

Para pakar menyarankan agar AI digunakan sebagai alat bantu untuk mencari informasi dan sudut pandang baru, bukan sebagai satu-satunya sumber nasihat dalam menghadapi persoalan hidup. Karena pada akhirnya, empati, pengalaman, dan dukungan manusia tetap tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....