Perlindungan dan Kepastian Hukum bagi Pekerja Outsourcing

  • 01 Mei 2026 13:50 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Menteri Ketenagakerjaan RI, Prof. Yassierli, Ph. D, menerbitkan aturan baru yang mengatur perlindungan dan kepastian hukum bagi pekerja alih daya (outsourcing). Aturan tersebut, antara lain membatasi jenis pekerjaan yang dapat dialihdayakan.

Ketentuan baru yang diterbitkan dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 7 Tahun 2026 tentang Pekerjaan Alih Daya. Yang mengatur bahwa hanya memperbolehkan penggunaan tenaga kerja alih daya pada bidang jasa layanan kebersihan, penyediaan makanan dan minuman, pengamanan, penyediaan pengemudi dan angkutan pekerja, layanan penunjang operasional, serta pekerjaan penunjang di sektor pertambangan, perminyakan, gas, dan kelistrikan.

“Permenaker ini merupakan tindak lanjut atas Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 168/PUU-XXI/2023 yang mengamanatkan adanya pembatasan pekerjaan alih daya,” ujar Yassierli dalam keterangan resminya.

Regulasi itu menjadi langkah konkret pemerintah dalam memastikan praktik alih daya berjalan lebih adil dan memberikan perlindungan yang jelas bagi pekerja.

Dalam aturan ini, perusahaan pemberi kerja yang menyerahkan sebagian pekerjaan kepada perusahaan alih daya wajib memiliki perjanjian tertulis. Perjanjian tersebut sekurang-kurangnya memuat jenis pekerjaan yang dialihdayakan, jangka waktu, lokasi kerja, jumlah pekerja, perlindungan kerja, serta hak dan kewajiban para pihak.

Di sisi lain, perusahaan alih daya juga wajib memenuhi seluruh hak pekerja sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, antara lain terkait upah, upah lembur, waktu kerja dan istirahat, cuti tahunan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), jaminan sosial kesehatan dan ketenagakerjaan, tunjangan hari raya (THR) keagamaan, hingga hak atas pemutusan hubungan kerja (PHK).

Yassierli mengatakan, Permenaker ini juga mengatur sanksi bagi perusahaan pemberi kerja maupun perusahaan alih daya yang tidak memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan. Dan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mematuhi regulasi tersebut secara konsisten dan bertanggung jawab, sehingga seluruh pekerja/buruh dapat terlindungi dan mendapatkan kepastian hukum.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....