Berencana Itu Keren, Cegah Stunting

  • 29 Sep 2026 15:55 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID,Jambi - Stunting tidak selalu dimulai ketika seorang anak lahir. Pencegahannya justru dapat dimulai jauh lebih awal, bahkan sebelum seseorang memasuki jenjang pernikahan.

Pesan itulah yang terus didorong oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN bersama para remaja dan Duta Genre. Perencanaan kehidupan berkeluarga menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang sehat dan berkualitas.

Di Provinsi Jambi, upaya tersebut dilakukan melalui berbagai program yang menyasar remaja dan keluarga. Salah satunya melalui Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) dan Madrasah Siaga Kependudukan (MSK), yang mengintegrasikan pendidikan kependudukan ke dalam proses pembelajaran di sekolah.

Ketua Tim Kerja Pengolahan Kependudukan Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jambi, Yuslidar, menjelaskan bahwa SSK dikembangkan melalui kerja sama dengan Kementerian Pendidikan, sedangkan MSK dilakukan bersama Kementerian Agama.

“Harapannya itu bisa kita bentuk di semua jenjang pendidikan, dari tingkat SD, SMP sampai dengan SMA,” tuturnya.

Pada 2026, Provinsi Jambi mendapat target pembentukan sebanyak 288 sekolah siaga kependudukan di berbagai jenjang pendidikan. Hingga Juli, sebanyak 171 sekolah siaga kependudukan atau MSK telah terbentuk.

Program tersebut bukan sekadar memberikan pengetahuan mengenai kependudukan. Di dalamnya terdapat materi mengenai kesehatan reproduksi hingga perencanaan kehidupan berkeluarga bagi remaja.

Pendidikan tersebut menjadi penting karena masih ada anggapan di kalangan remaja bahwa persoalan stunting bukanlah sesuatu yang berkaitan dengan mereka. Padahal, remaja hari ini merupakan calon orang tua di masa depan.

Duta Genre 2025, Ayu Zafina, mengatakan tantangan terbesar dalam memberikan edukasi kepada remaja adalah membangun kesadaran bahwa mereka merupakan bagian utama dari upaya pencegahan stunting.

“Remaja-remaja kita masih belum sadar bahwa yang menjadi objeknya itu mereka. Mereka belum sadar, kok kenapa edukasi ini ke kami, kan kami belum menikah, kan kami belum punya anak,” katanya.

Menurut Ayu, justru karena belum menikah dan belum memiliki anak, remaja perlu mendapatkan edukasi sejak dini. Pengetahuan yang diperoleh saat ini akan menjadi fondasi ketika mereka memasuki kehidupan berkeluarga.

“Kalian memang sebagai pemeran utama atau objeknya, karena kalian yang bakal menjadi orang tua di masa depan,” katanya.

Karena itu, edukasi kepada remaja tidak cukup hanya dilakukan melalui sosialisasi formal. Pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka juga diperlukan, mulai dari sharing session, permainan edukatif hingga pemanfaatan media sosial.

Cara tersebut sekaligus menjadi strategi untuk menghadapi tantangan lain: derasnya informasi di media sosial.

Menurut Ayu, masih banyak informasi mengenai stunting yang tidak tepat beredar di masyarakat. Salah satunya anggapan bahwa stunting hanya berkaitan dengan anak yang bertubuh pendek dan dapat dicegah sekadar dengan makan dalam jumlah banyak.

Padahal, yang penting bukan hanya banyaknya makanan, tetapi kualitas dan kecukupan gizinya. Pemahaman tersebut perlu ditanamkan sejak remaja, termasuk mengenai kesehatan reproduksi, kebersihan diri dan pemenuhan gizi. Dengan begitu, pengetahuan tersebut tidak baru dicari ketika seseorang akan menikah atau memiliki anak.

“Supaya ketika mereka dewasa nanti, mereka sudah tahu terkait hal itu. Bukan menjadi sesuatu yang mau dicari lagi, tapi karena dasarnya udah ada. Ibaratnya kalau mau bangun rumah, fondasinya itu udah kuat,” tutur Ayu.

Sehat Sebelum Menikah, Siap Sebelum Hamil

Perencanaan sebelum menikah bukan hanya mengenai kesiapan mental, ekonomi atau administrasi. Kondisi kesehatan calon ibu juga menjadi perhatian penting dalam pencegahan stunting.

Salah satu hal yang diedukasi kepada remaja perempuan adalah pencegahan anemia. Konsumsi tablet tambah darah menjadi salah satu upaya yang dilakukan untuk menjaga kondisi kesehatan dan status gizi remaja putri.

Ketika seorang perempuan memasuki usia siap menikah, pemeriksaan status gizi juga penting dilakukan. Salah satunya melalui pengukuran lingkar lengan atas (LILA).

“Kalau sekiranya lingkar lengan atasnya kita ukur di bawah 23,5, berarti remaja perempuan ini terindikasi KEK atau kekurangan energi kronis dan perlu dilakukan rehabilitasi dulu sebelum dia mau menikah,” kata Yuslidar

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menikah dan hamil merupakan dua hal yang perlu direncanakan. Seseorang bisa saja sudah siap menikah, tetapi belum tentu siap secara kesehatan untuk segera menjalani kehamilan.

Karena itu, apabila status gizi calon ibu belum memenuhi kondisi yang diharapkan, prioritasnya adalah memperbaiki status kesehatan dan gizinya terlebih dahulu sebelum merencanakan kehamilan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memutus mata rantai stunting sejak hulu. Sebab, kondisi kesehatan dan gizi ibu sebelum serta selama kehamilan dapat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.

Pendampingan Hingga Calon Pengantin

Upaya pencegahan juga dilakukan melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang berada di desa dan kelurahan.

Tim tersebut melibatkan unsur seperti kader PKK, penyuluh keluarga berencana dan bidan. Salah satu sasaran pendampingannya adalah calon pengantin.

Menjelang pernikahan, calon pengantin mendapatkan pendampingan untuk memastikan kondisi kesehatan dan status gizinya. Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari persiapan agar pasangan tidak hanya siap memasuki kehidupan rumah tangga, tetapi juga siap membangun keluarga yang sehat.

Kemendukbangga/BKKBN juga bekerja sama dengan Kementerian Agama melalui sistem elektronik siap nikah dan siap hamil atau Elsimil. Melalui sistem tersebut, calon pengantin memperoleh edukasi dan pemantauan terkait kondisi kesehatan sebelum memasuki pernikahan.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pencegahan stunting tidak berhenti pada penanganan anak setelah lahir. Intervensinya dilakukan sejak seseorang masih menjadi remaja, kemudian ketika menjadi calon pengantin, hingga memasuki masa kehamilan dan pengasuhan anak.

Memahami Gizi, Bukan Sekadar Kenyang

Persiapan menjadi orang tua juga tidak terlepas dari kemampuan memahami makanan bergizi.

Dalam edukasi kepada remaja, Duta Genre menggunakan modul SIGETING atau Sinergi Remaja Atasi Stunting. Materinya tidak hanya disampaikan melalui ceramah, tetapi juga dikemas dalam permainan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari remaja.

Ayu mencontohkan bagaimana remaja diajak melihat kandungan gizi dari makanan dan minuman yang biasa mereka konsumsi.

“Kadang yang kita lihat dari tampilannya saja seperti susu kotak, padahal kita kira susu kotak itu sehat. Padahal isinya ternyata cuma gula,” tuturnya.

Melalui pendekatan tersebut, remaja diajak memahami bahwa makanan yang terlihat menarik atau sekadar membuat kenyang belum tentu memenuhi kebutuhan gizi.

Pengetahuan ini penting bukan hanya untuk kesehatan mereka saat ini, tetapi juga untuk kehidupan mereka kelak sebagai orang tua. Sebab, pola makan dan pola asuh menjadi bagian dari lingkungan keluarga yang turut menentukan tumbuh kembang anak.

Stunting sendiri tidak hanya berkaitan dengan asupan makanan. Pola pengasuhan, pemantauan tumbuh kembang dan kualitas lingkungan keluarga juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.

Karena itu, pencegahan stunting membutuhkan perubahan cara pandang: bukan sekadar bagaimana mengatasi anak yang sudah mengalami masalah pertumbuhan, tetapi bagaimana memastikan calon orang tua telah memiliki pengetahuan dan kondisi kesehatan yang baik sejak sebelum menikah.

Remaja sebagai Pemeran Utama

Bagi Ayu, remaja tidak seharusnya melihat pencegahan stunting sebagai urusan orang tua atau pasangan yang sudah memiliki anak.

Justru, masa remaja adalah waktu yang tepat untuk mempersiapkan diri. “Jangan pernah berpikir kalau kalian belum bisa berkontribusi untuk pencegahan stunting ini, padahal kalian adalah pemeran utamanya,” kata Ayu.

Ia mengajak remaja untuk menjadi generasi yang sehat, memiliki perencanaan hidup dan berani menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. “Jadilah remaja yang sehat, jadilah remaja yang berencana dan berani menjadi agen perubahan di lingkungan sekitar kita,” katanya.

Pesan tersebut sejalan dengan harapan Kemendukbangga/BKKBN agar penurunan stunting dilakukan secara berkelanjutan, bukan melalui intervensi sesaat.

Keluarga menjadi salah satu fondasi utama. Pemenuhan gizi, pola asuh dan kesehatan anggota keluarga perlu menjadi perhatian bersama. Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, institusi pendidikan, media hingga masyarakat.

Sebab, generasi berkualitas tidak terbentuk secara tiba-tiba. Ia dipersiapkan sejak jauh sebelum seorang anak lahir. Dan bagi remaja, merencanakan kehidupan, menjaga kesehatan, memahami gizi serta mempersiapkan diri sebelum menikah bukan sekadar persiapan menuju pernikahan.

Itulah bagian dari investasi untuk membangun keluarga sehat dan generasi bebas stunting. Berencana itu keren. Karena generasi berkualitas dimulai dari keputusan yang direncanakan sejak hari ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....