Ada kalanya Dapur Praktek Berpindah ke Layar

  • 29 Sep 2026 15:57 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID,Jambi-Bagi sebagian siswa, pagi hari di sekolah mungkin dimulai dengan suara bel. Tapi bagi siswa jurusan kuliner, pagi juga berarti suara peralatan dapur, aroma masakan, dan tangan yang sibuk mengolah bahan makanan.

Ada adonan yang harus diuleni.Ada bahan yang harus ditimbang.Ada kompor yang harus dinyalakan. Dan ada guru yang berdiri di samping siswa, memastikan setiap langkah dilakukan dengan benar.

Namun, kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi membuat semua aktivitas itu harus berubah. Ruang praktik yang biasanya dipenuhi aktivitas siswa, untuk sementara berganti menjadi ruang belajar di rumah.

Layar telepon genggam dan komputer menjadi tempat bertemunya guru dan siswa. Bagi Utari Damayanti Septya, guru kuliner SMKN 4 Kota Jambi, perubahan cara belajar ini justru menghadirkan lebih banyak tantangan. “Suka dan dukanya terlebih kalau untuk yang kejuruan, apalagi kejuruan kuliner. Dukanya lebih banyak.”katanya.

Salah satu persoalan terbesar adalah praktik. Tidak semua siswa memiliki peralatan memasak yang lengkap di rumah. Kalaupun peralatannya tersedia, praktik kuliner tetap membutuhkan pendampingan guru.

Terlebih bagi siswa kelas sepuluh yang baru mengenal dunia kuliner setelah sebelumnya duduk di bangku SMP. “Kalau yang namanya praktik pengolahan makanan, pasti lebih membutuhkan bimbingan dari gurunya. Karena hal baru mungkin bagi mereka, apalagi di kelas 10, karena dia kan peralihan dari SMP ke SMK, mengetahui dunia kuliner, dunia yang baru bagi mereka." tuturnya.

Hampir dua pekan pembelajaran jarak jauh juga berarti ada materi yang harus dikejar. Bagi sekolah kejuruan, ketertinggalan praktik bukan persoalan sederhana.

Guru akhirnya memberikan tugas tambahan. Namun, tugas dari rumah tidak selalu mudah bagi siswa. Sebab bagi mereka, belajar kuliner bukan hanya membaca atau mencari informasi di internet. Mereka ingin memegang langsung objek yang dipelajari.

“Mereka itu lebih senang langsung memegang objeknya daripada mereka harus mencari di internet atau membayangkan sesuatu yang mereka sebenarnya belum tahu juga.” katanya.

Akibatnya, ada tugas yang terlambat dikumpulkan. Ada pula siswa yang kurang antusias. Dan ketika pembelajaran tatap muka kembali dibuka, praktik yang tertunda harus segera dikejar.

Bagi Utari, persoalan ini semakin penting karena siswa kelas sebelas akan memasuki masa magang di dunia industri. Sebelum terjun ke tempat kerja, mereka harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup.

“Kalau dibilang PR, PR banget lah, Mbak. Masalahnya kita juga harus memenuhi target, karena nanti kalau yang kelas 11, itu anaknya di semester 5, mereka harus turun magang ke industri.”jelasnya.

Target pembelajaran tetap harus berjalan. Namun, kondisi kabut asap membuat waktu belajar tidak bisa sepenuhnya berlangsung seperti biasa. Apakah akan ada waktu tambahan untuk mengejar ketertinggalan?

Utari mengatakan, keputusan itu masih harus dikoordinasikan dengan pihak sekolah dan dinas terkait. Di sisi lain, bagi siswa, belajar dari rumah sebenarnya punya sisi menyenangkan.

Aisyah, siswa SMKN 4 Kota Jambi, mengaku pagi hari terasa jauh lebih santai. Tidak perlu terburu-buru mandi dan bersiap ke sekolah. Tidak perlu memakai seragam.

Tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi. “Suko dungonya, kalau suko itu kita tidak perlu mandi pagi gitu. Kalau pagi-pagi kan kebiasaannya kalau ke sekolah itu berdebak-debuk. Terus siapin barang-barang lah.”

Pagi yang biasanya penuh persiapan berubah menjadi lebih santai. Waktu pun terasa lebih fleksibel. Biaya transportasi juga bisa dihemat. Tapi ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh belajar dari rumah. Pertemuan dengan teman dan guru. “Dukanya, minim interaksi. Tidak ada ketemu kawan-kawan. Tidak ada ketemu guru.”

Bukan hanya interaksi yang berkurang. Memahami pelajaran juga menjadi lebih sulit. Menurut Aisyah, penjelasan guru ketika PJJ cenderung lebih singkat. Belum lagi ketika sinyal internet bermasalah. Kadang siswa harus tertinggal materi, tugas, bahkan informasi mengenai absensi.

“Terus sulit paham materi itu lebih sulit. Karena guru kurang dalam menjelaskan saat PJJ. Guru itu lebih mempersingkat penjelasan. Terus juga sinyal internet yang sering gangguan kadang. Jadinya saat Zoom atau ngisi tugas tidak ada informasi. Jadinya ketinggalan. Terus saat absen juga ketinggalan.kata Aisyah.

Karena itu, ketika siswa kembali diperbolehkan datang ke sekolah, meski dengan waktu belajar yang terbatas, Aisyah merasa senang. Ada teman yang kembali ditemui. Ada guru yang kembali bisa diajak berbicara langsung. Dan yang paling penting. Pelajaran terasa lebih mudah dipahami.

“Rasanya setelah boleh sekolah walaupun waktunya masih terbatas senang. Karena kita bisa bertemu kawan, canda-canda. Dalam pelajaran itu lebih cepat memahami. Karena kita langsung berinteraksi dengan guru.”katanya.

Kabut asap akhirnya tidak hanya mengubah tempat siswa belajar. Ia mengubah cara guru mengajar. Mengubah cara siswa memahami pelajaran. Dan memaksa sekolah mencari cara agar kompetensi yang seharusnya diperoleh di ruang praktik tidak hilang begitu saja.

Bagi Utari, kondisi ini juga menjadi pengingat bahwa siswa harus lebih mandiri Internet, kata dia, bisa menjadi salah satu sumber belajar ketika guru dan siswa tidak dapat bertemu secara langsung.

“Jadi untuk siswa harus lebih mengeksplor sendiri. Sekarang banyak sumber-sumber belajar yang ada, sudah dipermudah dengan internet yang ada di mana-mana sekarang.”tuturnya.

Namun, belajar bukan satu-satunya hal yang harus dijaga. Kesehatan tetap menjadi perhatian. Siswa diminta menggunakan masker, terutama mereka yang memiliki gangguan pernapasan. Sebab di tengah kabut asap, menjaga kesehatan menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri. “Anak-anak di sini juga kadang bandel-bandel, sudah disuruh pakai masker, alasannya malah tambah susah nafas.” Dapur praktik mungkin sempat sepi.

Kompor mungkin sempat tidak menyala. Bahan makanan yang biasanya disentuh langsung harus digantikan oleh gambar dan video di layar. Namun, proses belajar tidak benar-benar berhenti.

Guru tetap mencari cara. Siswa tetap mencoba memahami. Dan ketika pintu sekolah kembali terbuka, ada semangat yang ikut kembali masuk bersama mereka. Karena bagi siswa kuliner, ada keterampilan yang memang tidak cukup hanya dibaca.

Ada yang harus disentuh. Dicoba. Diperbaiki. Dan dipraktikkan. Kabut asap boleh memindahkan ruang kelas. Tetapi semangat untuk belajar, tidak harus ikut berpindah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....