Layanan Jasa Urut Membawa Berkah
- 15 Feb 2025 19:46 WIB
- Jambi
KBRN, Jambi : Usaha kecil dan menengah tidak hanya terbatas pada penjualan produk barang, tapi juga layanan jasa yang diberikan oleh seseorang dengan keahlian tertentu kepada orang lain dengan tarif tertentu yang telah ditentukan atau bahkan ada juga yang tidak menentukan tarif, tapi dibayar berdasarkan kerelaan orang yang menerima jasa, salah satunya urut tradisional.
Layanan jasa urut di Kota Jambi banyak ditemukan di berbagai tempat, mulai urut tradisional hingga urut dengan peralatan modern, bahkan tidak jarang ditemukan spanduk-spanduk bertuliskan promo layanan jasa urut terpampang di tempat-tempat tertentu, bahkan di era digital saat ini ada yang promonya dilakukan melalui media sosial. Pak Selamet, biasa disapa Pak De, sehari2 berprofesi sebagai tukang urut tradisional, berdomisili sekaligus membuka layanan jasanya di belakang Kuburan Cina Kelurahan Rawasari Kecamatan Alam Barajo. Beliau berasal dari Ponorogo.
Awal merantau ke Jambi tahun 1980, Pak De menjalani profesi sebagai penyadap karet. Profesi itu digelutinya lebih kurang 10 tahun, sebelum akhirnya beralih profesi menjadi tukang urut. Beliaupun membuka cerita awal mula menekuni profesinya itu.
"Dulu waktu saya masih kerja sebagai penyadap karet perusahaan, kan banyak yang capek. Entah kenapa teman-teman minta tolong saya buat ngurut. Ada yang ngasih duit, ada yang ngasih rokok, ada juga yang tidak ngasih apa-apa. Lama-lama ada juga orang datang minta bantu urut, entah tahu dari mana, mungkin dapat cerita dari mulut ke mulut dari orang yang pernah saya urut. Nah, mulai ramailah orang datang. Rezeki mulai nambah pula. Karena yang urut mulai banyak, ya terpaksa saya berhenti jadi penyadap karet perusahaan, soalnya mulai susah ngatur waktu" ujarnya.
Pria yang sudah dikaruniai 5 anak dan 6 orang cucu ini bersyukur karena dari profesi yang digelutinya ini ia bisa menyekolahkan kelima anak-anaknya dan menafkahi keluarganya. Tiga diantara anak-anaknya sudah bekerja di perusahaan, tidak ada yang di pemerintahan. "Masing-masing kerja di Lampung, Palembang dan Sarolangun. Alhamdulillah anak-anak sudah mandiri semua" ujarnya. Saat ditanya berapa rata-rata bisa ngurut dalam sehari, ia pun menuturkan :
"Kalau dulu, sehari bisa ngurut sampai 15 orang, bahkan kadang bisa sampai 20 orang. Tapi sekarang, saya batasi, pagi sampai siang 4 orang, habis istirahat siang sampai sore 4 orang. Kalau lebih dari itu terpaksa saya suruh datang besoknya. Soalnya capek, tenaga mulai kurang, maklum sudah tua" jawabnya.
Dari hasil menjual jasanya kini Pak De sudah memiliki rumah sendiri, punya kendaraan, punya tanah tidak jauh dari rumahnya yang dimanfaatkannya unt kebun singkong, ubi, pisang, dan tanaman produktif lainnya yang dimanfaatkan hasilnya untuk kebutuhan sehari-hari. Dari Pak De kita bisa belajar, pekerjaan apapun jika ditekuni akan bisa merubah nasib kita menjadi lebih baik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....