Investasi Emas Bagi Pemula, Perhatikan Beberapa Hal Ini

  • 29 Jun 2026 19:47 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID,Jambi — Pergerakan harga emas batangan belakangan ini tengah mengalami tren koreksi yang cukup dalam. Setelah sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa pada awal tahun, harga emas Antam saat ini terpantau melandai ke kisaran Rp2,64 juta per gram. Bagi sebagian investor pemula, penurunan harga ini sering kali memicu kekhawatiran akan berakhirnya tren keuntungan.

Namun, dari sudut pandang akademis, situasi pasar saat ini justru dinilai sebagai siklus normal dan momentum yang sangat strategis. Akademisi dari Universitas Jambi (Unja), Ahmad Soleh, memberikan analisis tajam berbasis pembacaan grafik teknikal mengenai kapan harga logam mulia ini diprediksi akan kembali melesat naik.

Membaca Siklus Grafik: Emas Sedang Berada di Area Support

Ahmad Soleh menjelaskan bahwa jika dilihat dari grafik pergerakan harga emas jangka menengah, koreksi yang terjadi saat ini merupakan fase konsolidasi yang sehat. Istilah teknisnya, emas sedang menguji titik jenuh penurunan atau area support.

"Secara teknikal, grafik menunjukkan harga emas tertahan di kisaran batas bawah psikologisnya. Penurunan dari level puncaknya beberapa bulan lalu bukan berarti emas kehilangan daya tarik, melainkan pasar sedang mengambil napas akibat penguatan nilai tukar rupiah dan penyesuaian kebijakan suku bunga global," ujar Ahmad Soleh, Senin, 29 Juni 2026.

Beliau menambahkan bahwa area support kuat saat ini berada di rentang Rp2,53 juta hingga Rp2,64 juta per gram. Selama harga emas tidak menembus ke bawah angka tersebut, tren besar jangka panjangnya masih terkategori bullish (berpotensi naik kembali).

Prediksi Kapan Emas Bakal Naik Kembali?

Berdasarkan analisis siklus historis dan proyeksi makroekonomi, Ahmad Soleh memperkirakan harga emas berpotensi kuat untuk kembali merangkak naik secara signifikan pada kuartal terakhir tahun ini hingga awal tahun depan.

Ada beberapa indikator utama yang mendasari prediksi tersebut:

Siklus Musiman Akhir Tahun: Secara historis, akhir tahun selalu diiringi dengan peningkatan permintaan fisik emas secara global untuk kebutuhan festival, perayaan budaya, dan penutupan buku portofolio institusi besar.

Arah Kebijakan Suku Bunga: Pasar mengantisipasi pelonggaran kebijakan moneter atau pemotongan suku bunga oleh bank sentral global pada paruh kedua tahun ini. Ketika suku bunga mulai turun, emas sebagai aset tanpa imbal hasil otomatis akan kembali dilirik karena nilainya menjadi lebih kompetitif dibandingkan obligasi atau deposito.

Faktor Geopolitik: Ketidakpastian ekonomi global yang masih membayang membuat fungsi emas sebagai aset aman (safe haven) tetap memegang peranan krusial.

"Secara teknikal grafik, jika harga mampu bertahan di area konsolidasi saat ini dan menembus titik resistensi pertama di kisaran Rp2,68 juta hingga Rp2,75 juta kembali, maka jalan menuju rekor tertinggi baru akan terbuka lebar di akhir tahun atau awal tahun depan," jelasnya.

Strategi Terbaik: "Serok Bawah" Secara Bertahap

Menghadapi momentum harga yang sedang turun, Ahmad Soleh menyarankan para investor di Jambi, khususnya anak muda, untuk tidak panik dan justru memanfaatkan strategi belanja bertahap atau Buy on Weakness.

Daripada menunggu harga menyentuh titik terendah yang sangat sulit diprediksi secara absolut, metode mencicil (DCA) saat grafik sedang melandai adalah pilihan paling bijak.

"Saat harga emas naik tinggi, banyak yang menyesal kenapa tidak beli dari dulu. Sekarang, saat grafiknya sedang memberi kesempatan diskon, justru jangan takut. Ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan akumulasi atau 'serok bawah' secara konsisten. Ingat, emas adalah instrumen jangka panjang; penurunan hari ini adalah potensi keuntungan di masa depan," pungkas Ahmad Soleh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....