Gaya Hidup Hemat ala Anak Muda

  • 30 Mei 2026 10:05 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Tantangan finansial yang dihadapi generasi muda saat ini semakin kompleks. Kehadiran media sosial dan kemudahan transaksi digital sering kali memicu perilaku konsumtif yang tidak terkontrol. Akibatnya, banyak anak muda mengeluhkan tabungan yang selalu menipis di akhir bulan meski sudah bekerja keras.

Menanggapi fenomena tersebut, akademisi sekaligus pengamat ekonomi dari Jambi, Ahmad Soleh, menyatakan bahwa akar masalah dari kegagalan berhemat bukan terletak pada nominal pendapatan, melainkan pada kebiasaan menuruti gengsi. Menghindari pengeluaran impulsif demi tren sesaat adalah langkah awal yang wajib dilakukan.

Ahmad Soleh menekankan bahwa berhemat bukan berarti menyiksa diri dengan tidak menikmati hasil jerih payah. Melainkan, melatih diri untuk lebih cerdas dan strategis dalam mengalokasikan setiap rupiah yang dimiliki sejak usia muda.

"Banyak anak muda terjebak dalam gaya hidup yang dipaksakan hanya demi konten atau pengakuan lingkungan sekitar. Padahal, esensi dari berhemat adalah kemampuan menunda kesenangan kecil hari ini untuk mengamankan kebebasan finansial yang jauh lebih besar di masa depan," ujar Ahmad Soleh saat diwawancarai, Jumat, 29 Mei 2026.

Strategi Praktis Pangkas Pengeluaran Bocor

Guna membantu anak muda keluar dari jebakan finansial, Ahmad Soleh membagikan beberapa metode praktis untuk menekan pengeluaran tanpa harus kehilangan kebahagiaan masa muda:

Identifikasi 'Faktor Latte' (Pengeluaran Kecil yang Rutin): Sadar atau tidak, pengeluaran kecil yang konsisten seperti membeli kopi kekinian setiap sore, biaya langganan aplikasi yang jarang dipakai, hingga ongkos pesan-antar makanan, jika diakumulasikan bisa menyedot hingga 30 persen penghasilan bulanan.

Terapkan Aturan 24 Jam sebelum Belanja: Ketika tergoda membeli barang non-primer secara daring, tunggu selama 24 jam. Strategi ini sangat efektif untuk meredakan emosi sesaat (impulse buying) dan memberi waktu bagi otak untuk berpikir rasional apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan.

Gunakan Metode 'Koper' (Kotak Persentase): Begitu menerima pemasukan, langsung potong minimal 10 hingga 20 persen untuk ditabung atau diinvestasikan ke instrumen likuid. Sisa uang itulah yang kemudian diatur untuk kebutuhan hidup dan hiburan, bukan sebaliknya.

"Kuncinya ada pada konsistensi. Lebih baik konsisten menabung Rp200 ribu setiap bulan daripada menabung Rp2 juta tapi hanya sekali setahun. Jangan tunggu sisa gaji untuk menabung, karena biasanya gaji tidak akan pernah bersisa jika tidak dipaksa di awal," tambah Ahmad Soleh.

Melalui kedisiplinan mengelola keuangan dan keberanian untuk berkata tidak pada pengeluaran yang tidak penting, akademisi Jambi ini optimis generasi muda dapat membangun fondasi ekonomi yang kokoh dan terhindar dari jeratan utang konsumtif di masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....