Fenomena “Payday Syndrome” di Kalangan Masyarakat Modern

  • 17 Apr 2026 11:26 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Istilah payday syndrome semakin sering terdengar, terutama di kalangan pekerja muda di perkotaan. Fenomena ini merujuk pada kebiasaan menghabiskan gaji dalam waktu singkat setelah hari pembayaran, yang kemudian diikuti dengan kesulitan keuangan di akhir bulan.

Dalam beberapa tahun terakhir, para pakar keuangan pribadi menilai bahwa payday syndrome bukan sekadar masalah gaya hidup, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor psikologis. Rasa “reward” setelah bekerja keras selama sebulan mendorong banyak orang untuk berbelanja impulsif, mulai dari makan di restoran, membeli barang yang tidak direncanakan, hingga berlibur singkat.

Menurut pengamat ekonomi, kemudahan akses terhadap layanan digital seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok turut memperparah kondisi ini. Promo besar-besaran yang sering bertepatan dengan tanggal gajian membuat masyarakat semakin tergoda untuk berbelanja.

Dampak dari payday syndrome tidak bisa dianggap remeh. Banyak individu akhirnya bergantung pada pinjaman jangka pendek atau layanan “paylater” untuk memenuhi kebutuhan di akhir bulan. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat menimbulkan siklus utang yang berkelanjutan.

Untuk mengatasi masalah ini, para ahli menyarankan penerapan manajemen keuangan yang disiplin. Membuat anggaran bulanan, memprioritaskan kebutuhan dibanding keinginan, serta menyisihkan dana darurat sejak awal menerima gaji menjadi langkah penting. Selain itu, edukasi finansial juga dinilai perlu ditingkatkan, terutama bagi generasi muda.

Fenomena payday syndrome menjadi pengingat bahwa peningkatan pendapatan tidak selalu sejalan dengan kesehatan finansial. Tanpa pengelolaan yang bijak, kebiasaan konsumtif justru dapat menimbulkan tekanan ekonomi dalam jangka panjang.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....