Kebaya Menjadi Salah Satu Warisan Budaya Tak Benda UNESCO
- 08 Des 2024 20:27 WIB
- Jambi
KBRN,Jambi: Kebaya resmi menjadi salah satu Warisan Budaya Tak benda UNESCO. Tetapi, Indonesia tidak menjadi satu-satunya negara pengusul kebaya. Jadi, kebaya bukan hanya milik Indonesia karena sejumlah negara di Asia juga punya hak atas kepemilikan kebaya sebagai warisan budayanya.
Mengutip dari laman resmi UNESCO, kebaya diajukan Indonesia dengan sejumlah negara Asia lainnya seperti Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Pengajuan kebaya sebagai warisan budaya multi-nation ini dilakukan pada 2022 lalu. Pada waktu itu, pemerintah Indonesia sepakat untuk mengajukan kebaya sebagai warisan budaya bersama dengan keempat negara lainnya. Banyak sekali teori mengenai asal-usul kebaya, dilansir dari laman SeAsia, beberapa bahkan juga percaya bahwa kebaya berasal dari wilayah China.
Faktanya, kebaya memang tidak hanya jadi representatif satu negara saja. Hampir semua orang setuju bahwa kebaya merupakan salah satu busana tradisional yang dikenal di seluruh wilayah Asia Tenggara, termasuk Asia.
Perjalanan kebaya memang telah melampaui batas geografis dan waktu. Kebaya diperkirakan muncul pertama kali pada abad ke-15 di era Kekaisaran Majapahit, yang berpusat di Jawa Timur. Pakaian kebaya terus berkembang seiring pengaruh budaya asing dan dinamika sosial di Nusantara, menjadikannya simbol adaptasi budaya yang kaya.
Kata 'kebaya' diyakini berasal dari bahasa Arab 'qaba', yang berarti 'pakaian'. Diksi ini kemudian diadaptasi melalui bahasa Portugis sebagai 'cabaya'. Awal kemunculannya, kebaya dikenakan oleh kaum aristokrat dan bangsawan, kemudian menyebar ke kalangan rakyat jelata pada abad ke-17. Dengan adanya pengaruh budaya China dan Islam ikut membentuk desain kebaya, terutama dalam hal teknik pemakaiannya dan bahan.
Lalu kebaya diadopsi oleh kerajaan-kerajaan di sekitar Indonesia, seperti di daerah Riau, Johor, dan Aceh. Hubungan dagang dengan negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand, Filipina, dan Malaysia semakin mempercepat penyebaran kebaya. Kemudian kebaya dikaitkan dengan pakaian wanita Dinasti Ming yang berciri lengan panjang dan terbuka yang memperkuat pengaruh China dalam perkembangan kebaya.
Di masa penjajahan Belanda, kebaya juga mengalami transformasi menjadi pakaian formal untuk wanita Eropa di Indonesia. Desain kebaya diperindah dengan penggunaan kain sutra, bordir halus, dan warna-warna yang lebih kaya. Perubahan tersebut menjadikan kebaya sebagai simbol status sosial dan gaya hidup yang elegan.
Di komunitas Peranakan Tionghoa di Melaka, Penang, Singapura, dan Indonesia, kebaya berkembang menjadi kebaya encim. Blus kebaya ini sering dihiasi dengan bordir halus bertema flora dan fauna, serta dipadukan dengan sarung batik bercorak cerah.
Kebaya juga melambangkan perpaduan budaya Melayu, China, dan Eropa, terutama dalam penggunaan aksesori seperti kasut manek, cucuk sanggul, dan sabuk perak.