Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi” Kebiasaan yang Mengakar di Indonesia
- 06 Mei 2026 09:22 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID,Jambi - Ungkapan “belum makan kalau belum makan nasi” masih sangat lekat di kehidupan masyarakat Indonesia. Meski sudah mengonsumsi makanan lain, banyak orang tetap merasa lapar sebelum menyantap nasi.
Kebiasaan ini ternyata bukan sekadar selera, melainkan hasil dari budaya yang sudah terbentuk sejak lama. Nasi telah menjadi makanan pokok utama di Indonesia selama berabad-abad, terutama sejak berkembangnya pertanian padi di berbagai daerah.
Selain faktor budaya, ada juga pengaruh psikologis. Nasi mengandung karbohidrat tinggi yang memberikan rasa kenyang dan energi. Hal ini membuat tubuh terbiasa menganggap nasi sebagai sumber utama rasa “kenyang sempurna”. Tanpa nasi, sebagian orang merasa belum benar-benar makan.
Di sisi lain, faktor sosial juga ikut berperan. Sejak kecil, banyak masyarakat Indonesia dibiasakan makan dengan nasi sebagai komponen utama, ditemani lauk dan sayur. Pola ini terus terbawa hingga dewasa dan menjadi standar dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, para ahli gizi menjelaskan bahwa konsep “belum makan kalau belum nasi” sebenarnya bisa diubah. Tubuh tetap bisa mendapatkan energi dari sumber karbohidrat lain seperti kentang, jagung, atau umbi-umbian, selama kebutuhan gizi terpenuhi secara seimbang.
Dengan pemahaman yang lebih baik tentang gizi, masyarakat diharapkan dapat lebih fleksibel dalam memilih sumber makanan. Nasi memang bagian dari budaya, namun bukan satu-satunya penentu seseorang sudah makan atau belum.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....