Kartini 2026: Bukan Sekadar Kebaya

  • 21 Apr 2026 07:49 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID,Jambi - Tepat pada peringatan Hari Kartini ke-147, wajah emansipasi perempuan Indonesia telah bermetamorfosis. Jika R.A. Kartini dahulu memperjuangkan hak akses pendidikan lewat surat-surat yang dikirim melintasi samudra ke sahabat di Eropa, generasi perempuan kini menggunakan baris kode pemrograman, kebijakan berbasis data, dan platform kolaboratif untuk menuntut kesetaraan nyata di ruang publik, dunia kerja, dan isu keberlanjutan global.

"Kartini bukan sekadar ikon upacara pagi atau simbol kebaya," ujar Dr. Maya Sari, peneliti gender dan kebijakan publik dari Universitas Indonesia. "Inti warisannya adalah keberanian mempertanyakan batas yang dianggap 'kodrat'. Hari ini, pertanyaan itu dijawab lewat partisipasi perempuan di sektor STEM, kepemimpinan iklim, hingga ruang pengambilan keputusan yang semakin inklusif."

Perubahan itu tak hanya retorika. Berdasarkan laporan ekosistem teknologi Indonesia 2025, lebih dari 35% startup berskala menengah hingga unicorn kini didirikan atau dipimpin oleh perempuan, melonjak signifikan dari satu dekade lalu. Di balik layar, perempuan juga semakin dominan sebagai arsitek pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang etis, memastikan algoritma tidak mengabadikan bias gender, serta merancang teknologi yang memberdayakan, bukan mengawasi.

Namun, kemajuan digital tidak menghapus tantangan baru. Beban ganda, kesenjangan akses internet di wilayah 3T, tekanan kesehatan mental, dan minimnya ruang aman di tempat kerja masih menjadi pekerjaan rumah bersama. "Emansipasi di era modern juga berarti hak untuk beristirahat, kebebasan berbicara tentang well-being tanpa stigma, serta kebijakan kerja fleksibel yang mendukung semua gender," tegas Naura Kusuma, pendiri platform kesehatan mental dan produktivasi bagi perempuan profesional.

Di tingkat akar rumput, gerakan "Kartini Kode" di Yogyakarta dan "Green Women Collective" di Nusa Tenggara Timur membuktikan bahwa aktivisme Kartini kini bersifat kolaboratif dan lintas sektor. Mereka menggabungkan literasi digital, pelatihan pertanian regeneratif, dan advokasi anggaran desa untuk memastikan tidak ada perempuan yang tertinggal dalam transisi hijau maupun ekonomi digital.

Dua belas dekade sejak surat-surat Kartini pertama diterbitkan, semangatnya tak pernah usang; ia hanya bertransformasi. Memperingati Hari Kartini di 2026 bukan tentang mengenang masa lalu, melainkan memperjuangkan masa depan di mana setiap perempuan, dari desa terpencil hingga pusat data, memiliki ruang untuk bermimpi, memimpin, dan mengubah dunia sesuai caranya sendiri.

Selamat Hari Kartini. Mari terus menulis, bukan dengan tinta, tapi dengan tindakan yang inklusif, berkelanjutan, dan berani mendobrak batas.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....