Efek Terlalu Lama Terpapar Kabut Asap Kebakaran Hutan Bagi Kesehatan
- 16 Sep 2026 07:52 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi - Suspensi partikel padat atau cair kecil di udara (aerosol) akibat pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna.Contoh: Asap rokok, asap kendaraan, atau asap dari kebakaran hutan. (Wikipedia)
Terlalu lama terpapar kabut asap (terutama dari kebakaran hutan/lahan atau polusi berat) dapat memicu iritasi saluran napas hingga meningkatkan risiko penyakit paru-paru kronis, penyakit jantung, dan komplikasi serius pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma atau penyakit jantung.
Berikut gambaran dampak jangka pendek (akut) paparan kabut asap dalam waktu singkat hingga beberapa hari umumnya menyebabkan gejala iritatif yang langsung terasa yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber terpercaya:
1. Mata perih, gatal, berair, dan merah.
2. Tenggorokan kering/terluka, hidung berair, batuk, dan sesak napas.
3. Sakit kepala, pusing, lemas, mual, serta memperburuk asma atau penyakit paru/jantung yang sudah ada.
4. Gejala ini muncul karena partikel halus (terutama PM2.5) dan gas hasil pembakaran mengiritasi selaput lendir hidung, mulut, tenggorokan, serta paru-paru.
Dampak jangka panjang (paparan berulang/berkepanjangan). Jika paparan berlangsung lama atau berulang (minggu hingga bulan, atau selama musim kabut asap tahunan), risikonya meningkat menjadi:
1. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang berkepanjangan, batuk kronis, dan sering sakit sehingga butuh perawatan rumah sakit.
2. Penurunan fungsi paru, emfisema, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
3. Peningkatan risiko kanker paru-paru akibat paparan zat karsinogenik dalam asap.
4. Penyakit jantung koroner, penumpukan plak pada pembuluh darah, dan gangguan kardiovaskular lainnya karena PM2.5 dapat masuk ke aliran darah dan memicu peradangan sistemik.
5. Alergi pernapasan yang menetap dan iritasi mata/kulit kronis; paparan lama juga dikaitkan dengan risiko kanker kulit karena penyerapan zat berbahaya melalui kulit.
Ada pula kelompok yang paling berisiko, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan riwayat asma, PPOK, atau penyakit jantung lebih mudah mengalami komplikasi serius dan memerlukan perhatian ekstra
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....