Televisi, Bisnis Kreativ Penuh Dinamika
- 24 Agt 2026 22:05 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi - Sejarah televisi didasarkan pada penemuan gelombang elektromagnetik pada tahun 1831 yang kemudian berkembang melalui sistem mekanik hingga sistem elektronik modern yang kita gunakan sekarang.
Berikut adalah linimasa perjalanan sejarah televisi di dunia dan perkembangannya di Indonesia:
Era Awal & Sistem Mekanik (Akhir Abad ke-19 – 1920-an)
1884: Ilmuwan Jerman Paul Gottlieb Nipkow mematenkan cakram Nipkow. Alat ini menjadi cikal bakal sistem televisi elektromekanik pertama di dunia.
1900: Istilah "televisi" pertama kali diperkenalkan oleh Constantin Perskyi dalam Kongres Listrik Internasional di Paris.
1926: Insinyur Skotlandia John Logie Baird mendemonstrasikan transmisi gambar bergerak pertama di London. Gambar ini masih berbentuk bayangan hitam-putih dengan resolusi 30 garis vertikal yang sangat kasar.
Peralihan ke Sistem Elektronik & Komersial (1920-an – 1950-an)
1927: Philo Farnsworth berhasil mengembangkan sistem televisi serba elektronik pertama di dunia yang lebih praktis daripada sistem mekanis.
1936: Siaran langsung televisi pertama di dunia yang berskala besar dilakukan pada Olimpiade Berlin di Jerman.
1940-an: Perkembangan televisi sempat terhenti akibat Perang Dunia II. Setelah perang usai, televisi mulai diproduksi massal untuk masyarakat luas.
1953: Sistem televisi berwarna elektronik pertama yang dikembangkan oleh RCA resmi disahkan oleh FCC di Amerika Serikat untuk penyiaran komersial.
Era Digital & Modern (2000-an – Sekarang)
2000-an: Munculnya teknologi layar tipis seperti LCD dan LED menggantikan teknologi TV tabung (CRT) yang besar dan berat. Kualitas gambar meningkat tajam menjadi format High Definition (HD).
2010-an ke atas: Era Smart TV dimulai dengan integrasi koneksi internet. Resolusi gambar meningkat pesat ke format 4K, 8K, hingga teknologi layar fleksibel.
Sejarah Televisi di Indonesia
1962: Penyiaran televisi resmi dimulai di Indonesia dengan berdirinya TVRI (Televisi Republik Indonesia) pada tanggal 24 Agustus 1962. Momen ini bertepatan dengan pembukaan Asian Games IV di Jakarta. Tanggal ini kini diperingati sebagai Hari Televisi Nasional.
1976: TVRI mulai memanfaatkan Satelit Palapa A1 untuk memperluas jangkauan siaran ke seluruh pelosok Nusantara.
1979: Indonesia mulai memperkenalkan siaran televisi berwarna secara bertahap.
1989: Monopoli TVRI berakhir dengan berdirinya stasiun televisi swasta pertama di Indonesia, yaitu RCTI, yang kemudian diikuti oleh stasiun swasta lainnya.
2022: Indonesia resmi melakukan migrasi total dari siaran analog ke siaran digital (Analog Switch-Off) untuk menghasilkan kualitas gambar dan suara yang jauh lebih jernih.
Bisnis media televisi (TV) saat ini berada di fase transformasi radikal akibat disrupsi digital yang masif, perubahan perilaku audiens, dan migrasi penuh ke siaran digital (Analog Switch-Off). Meskipun menghadapi tekanan berat dari platform digital, TV konvensional terbukti masih memegang peran krusial sebagai media yang paling dipercaya oleh pengiklan (brand) karena jangkauan massalnya yang tak tertandingi.
Lanskap, tantangan, dan strategi model bisnis media TV saat ini didominasi oleh poin-poin berikut:
Pergeseran Model Bisnis & Pendapatan
Kue Iklan yang Terbagi: Pendapatan iklan TV tradisional mengalami penurunan karena sebagian besar belanja iklan beralih ke iklan digital (internet advertising) yang menawarkan penargetan audiens lebih spesifik.
Ekosistem Omnichannel: Perusahaan TV tidak lagi bisa mengandalkan model bisnis sederhana seperti "beli program, tayangkan, lalu jual iklan". Konglomerasi media seperti MNC Digital Entertainment dan Trans Media kini mengintegrasikan TV siaran, platform streaming (OTT), aplikasi berita, hingga media sosial dalam satu paket penjualan iklan (omnichannel).
Prospek Pertumbuhan: Berdasarkan data dari laporan PwC Indonesia, pasar TV tradisional di Indonesia sebetulnya masih tumbuh stabil dari proyeksi US$ 2,4 miliar menjadi US$ 2,9 iklim positif penonton makro. TV dinilai unggul untuk momen besar yang ditonton bersamaan, seperti pertandingan olahraga langsung (live sports).
Tantangan Utama Industri TV
Persaingan dengan Konten Kreator: Menjamurnya konten kreator di YouTube, TikTok, dan Instagram secara langsung merebut waktu luang (screen time) generasi Z dan milenial yang cenderung mencari konten sesuai kebutuhan personal mereka sendiri.
Tekanan Finansial & PHK: Sejak gelombang disrupsi digital memuncak, efisiensi besar-besaran terjadi di industri media nasional, termasuk pengurangan karyawan dan restrukturisasi operasional demi menjaga kesinambungan perusahaan.
Aturan TV Digital: Sistem TV Digital saat ini memisahkan penyelenggara jaringan (multiplexing) dan penyelenggara konten. Hal ini memaksa stasiun TV fokus pada produksi konten berkualitas agar bisa bersaing di ratusan kanal baru yang bermunculan.
Strategi Bertahan dan Inovasi Baru
Monetisasi Intellectual Property (IP): Stasiun TV kini memproduksi program yang dapat diturunkan menjadi bisnis off-air. Contohnya seperti yang dilakukan B Universe lewat festival musik lokal atau forum investasi tahunan yang disponsori oleh berbagai korporasi besar.
Aplikasi Streaming Mandiri: Hampir seluruh jaringan TV besar kini memiliki platform OTT sendiri (seperti RCTI+, Vidio dari Emtek, atau format live streaming Bisnis TV) agar tetap bisa diakses oleh masyarakat melalui smartphone.
Pemanfaatan AI: Penerapan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) mulai digunakan secara intensif untuk efisiensi penyuntingan video, pembaca berita virtual, hingga analisis data preferensi penonton.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....