Ada Tiga Harta yang Sebenarnya Milik Kita
- 05 Agt 2026 13:00 WIB
- Jambi
Poin Utama
- Umat muslim sering kali terjebak dalam keinginan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya
- Rasululloh SAW mengingatkan bahwa makanan yang kita makan hanya bersifat sementara
- Sederhanalah dalam berpakaian, karena yang demikian itu termasuk bagian dari keimanan
- Harta yang paling bernilai dalam pandangan Islam adalah harta yang kita sedekahkan atau berikan kepada orang lain
RRI.CO.ID, Jambi – Dalam program acara dialog interaktif Mutiara Pagi di Programa satu RRI Jambi, narasumber Ustadz Muhammad Irfan Ilmi, M.Pd.I menyampaikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai umat muslim sering kali terjebak dalam keinginan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Kita berusaha keras untuk memiliki kekayaan yang melimpah, rumah yang megah, dan berbagai barang mewah lainnya.
Namun, Islam mengajarkan kita untuk merenungi kembali apa yang sebenarnya menjadi harta kita. Rasululloh SAW menjelaskan bahwa harta yang benar-benar milik kita ternyata hanyalah tiga, sebagaimana hadist Rasululloh, yang artinya:
“Hamba berkata, ‘Harta-hartaku.’ Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan.” (Hadist riwayat Muslim).
1. Harta yang Kita Makan
Harta pertama yang benar-benar milik kita adalah makanan yang kita konsumsi. Ketika kita makan, makanan tersebut akan memberikan energi dan kekuatan kepada tubuh kita, namun pada akhirnya akan sirna.
Rasululloh SAW mengingatkan bahwa makanan yang kita makan hanya bersifat sementara, karena setelah makanan tersebut dicerna, manfaatnya pun hilang seiring berjalannya waktu.
Dalam Al-Qur’an, Alloh Subhana Wata’ala juga mengingatkan kita tentang pentingnya mengonsumsi makanan yang halal dan baik:
“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah: 168).
Ayat ini mengajarkan bahwa sekalipun makanan menjadi salah satu bentuk harta kita, tetaplah menjaga kehalalan dan kualitasnya menjadi prioritas kita. Harta ini tidak akan kita bawa ke akhirat, tetapi memiliki dampak pada kesehatan dan kualitas hidup kita di dunia.
2. Harta yang Kita Kenakan
Jenis harta kedua yang benar-benar milik kita adalah pakaian dan barang-barang yang kita kenakan, yakni pakaian. Pakaian memberikan perlindungan dan kenyamanan bagi tubuh kita, tetapi seiring waktu, pakaian tersebut pun akan usang dan tidak lagi kita gunakan.
Ini mengingatkan pada kita bahwa pakaian dan barang-barang yang kita beli hanyalah sementara dan akan kehilangan nilainya seiring berjalannya waktu.
Rasululloh SAW dalam kehidupannya selalu berpenampilan sederhana dalam berpakaian. Meskipun beliau memiliki kemampuan untuk memiliki pakaian yang lebih mewah, Tetapi Rasulullah saw. berpakaian sederhana. Sederhana bukan berarti compang-camping dan terlihat menjatuhkan citra diri. Namun, makna sederhana di sini berarti menggunakan pakaian yang bersih, menutup aurat, serta tidak berlebihan untuk pamer.
Rasululloh SAW bersabda:
“Sederhanalah dalam berpakaian, karena yang demikian itu termasuk bagian dari keimanan.” (H.R. Abu Dawud).
| Baca juga: Ngerinya Listrik Padam Masal |
Hadist tersebut menekankan bahwa sikap sederhana dalam berpakaian lebih utama dibandingkan dengan menghabiskan harta untuk sesuatu yang hanya akan menjadi usang. Islam mengajarkan bahwa pakaian seharusnya mencukupi kebutuhan kita tanpa berlebihan, karena sesungguhnya pakaian adalah salah satu harta yang tidak kekal.
3. Harta yang Kita Berikan (Sedekah)
Harta yang ketiga, dan yang paling bernilai dalam pandangan Islam adalah harta yang kita sedekahkan atau berikan kepada orang lain. Inilah harta yang sesungguhnya akan kita kumpulkan dan dapat membawa manfaat bagi kita di akhirat.
Rasululloh SAW mengajarkan bahwa harta yang kita sedekahkan akan menjadi pahala yang abadi dan tidak akan pernah sirna, berbeda dengan harta yang kita makan atau kenakan.
Alloh Subhana Wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (balasan) bagi siapa yang Dia kehendaki.” (Q.S. Al-Baqarah: 261).
Ayat ini menggambarkan betapa besar pahala dari sedekah yang kita berikan. Sedekah adalah harta yang tidak akan habis, bahkan Alloh Subhana Wata’ala akan melipatgandakannya di sisi-Nya. Imam Al-Ghazali dalam “Ihya Ulumuddin” juga menjelaskan bahwa sedekah merupakan investasi yang tidak pernah merugi, karena setiap kebaikan yang kita berikan akan menjadi simpanan di akhirat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....