Makna Simbolis Harimau dalam Berbagai Budaya
- 29 Jul 2026 15:02 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi - Harimau memiliki makna simbolis yang penting dalam berbagai budaya. Hewan ini dianggap sebagai salah satu megafauna karismatik dan digunakan sebagai wajah kampanye konservasi di seluruh dunia. Dalam sebuah jajak pendapat daring tahun 2004 yang dilakukan oleh saluran televisi kabel Animal Planet, yang melibatkan lebih dari 50.000 penonton dari 73 negara, harimau terpilih sebagai hewan favorit dunia dengan 21% suara, mengalahkan anjing dengan selisih tipis.
Mitologi, agama, dan cerita rakyat.
Informasi lebih lanjut : Pemujaan harimau
Dalam mitologi Tiongkok dan budaya Tionghoa, harimau adalah salah satu dari 12 hewan dalam zodiak Tionghoa. Dalam seni Tiongkok, harimau digambarkan sebagai simbol bumi dan saingan setara bagi naga Tiongkok – keduanya masing-masing mewakili materi dan roh. Seni bela diri Tiongkok Selatan, Hung Ga, didasarkan pada gerakan harimau dan bangau. Di Tiongkok Kekaisaran, harimau merupakan personifikasi perang dan sering kali mewakili Jenderal angkatan darat tertinggi,[2] sementara kaisar dan permaisuri masing-masing diwakili oleh naga dan feniks. Macan Putih (Hanzi: 白虎; Pinyin: Bái Hǔ) adalah salah satu dari Empat Simbol rasi bintang Tiongkok. Kadang-kadang ia disebut Macan Putih dari Barat (Hanzi: 西方白虎), dan mewakili arah barat serta musim gugur.
Ekor harimau muncul dalam cerita-cerita dari berbagai negara termasuk Tiongkok dan Korea, yang secara umum menyatakan bahwa memegang ekor harimau adalah tindakan yang tidak bijaksana. Dalam mitologi Korea dan budaya Korea, harimau dianggap sebagai pelindung yang mengusir roh jahat dan makhluk suci yang membawa keberuntungan – simbol keberanian dan kekuasaan mutlak. Bagi orang-orang yang tinggal di dalam dan sekitar hutan Korea, harimau dianggap sebagai simbol Roh Gunung atau Raja dari hewan-hewan gunung.[butuh rujukan] Seseorang yang dibunuh oleh harimau akan berubah menjadi hantu pendendam yang disebut "Changgwi" (Hangul: 창귀), dan harus mencari korban berikutnya untuk bertukar nasib agar dapat mati dengan tenang.
Dalam Buddhisme, harimau adalah salah satu dari Tiga Makhluk Tak Berakal, yang melambangkan kemarahan, sedangkan monyet mewakili keserakahan dan rusa melambangkan kerinduan cinta. Bangsa Tungusik menganggap harimau siberia sebagai mahluk yang mendekati dewa dan sering menyebutnya sebagai "Kakek" atau "Lelaki Tua". Suku Udege dan Nanai menyebutnya "Amba". Bangsa Manchu menganggap harimau siberia sebagai "Hu Lin", sang raja. Dalam Hinduisme, dewa Siwa mengenakan dan duduk di atas kulit harimau. Dewi pejuang berlengan sepuluh, Durga, menunggangi harimau betina (atau singa betina) Damon ke medan perang. Di India selatan, dewa Ayyappan dikaitkan dengan seekor harimau. Dingu-Aneni adalah dewa di India Timur Laut yang juga dikaitkan dengan harimau.
Patung kayu Padmasambhava dalam manifestasinya sebagai Guru Dorje Drolo yang menunggangi harimau
Di Bhutan, harimau dipuja sebagai salah satu dari empat hewan perkasa yang disebut "empat kemuliaan", dan seekor harimau betina diyakini telah membawa Padmasambhava dari Singye Dzong ke biara Paro Taktsang pada akhir abad ke-8. Dalam dunia Yunani-Romawi, harimau digambarkan ditunggangi oleh dewa Dionisos. Orang Warli dari India barat menyembah dewa menyerupai harimau bernama Waghoba. Suku Warli percaya bahwa kuil dan pengurbanan kepada dewa tersebut akan membawa koeksistensi yang lebih baik dengan kucing besar setempat, baik harimau maupun macan tutul, dan bahwa Waghoba akan melindungi mereka saat memasuki hutan.
Harimau jadian menggantikan manusia serigala dalam cerita rakyat pengubah wujud di Asia; di India mereka merupakan penyihir jahat, sementara di Indonesia dan Malaysia mereka cenderung lebih ramah. Dalam kepercayaan rakyat Taiwan, Bibi Harimau mengisahkan cerita tentang seekor harimau yang berubah menjadi wanita tua, menculik anak-anak di malam hari dan melahap mereka untuk memuaskan nafsunya.
| Baca juga: Arsip Bukan Sekadar Tumpukan Kertas Usang |
Harimau mejadi salah satu simbol budaya yang melekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
Sebelum kepunahannya, harimau Bali dan harimau Jawa dianggap sebagai lambang para raja yang tergambar dalam berbagai kisah tradisional. Di Pulau Sumatera, rumah bagi satu-satunya subspesies harimau yang tersisa, nama sang raja hutan tak kalah melekat dengan keseharian masyarakat. Para pemuka adat mengajarkan warga untuk hidup berdampingan dengan sang raja hutan. Berbagai nama penanda hormat disematkan pada sosok harimau, memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap salah satu satwa endemik Indonesia tersebut.
Kisah dan kepercayaan lokal di berbagai daerah di Sumatra menyingkap hubungan mendalam antara masyarakat dan harimau. Di Aceh, harimau disapa "Rimueng," bahkan dijelaskan oleh Henri Carel Zentgraaff dalam bukunya Atjeh sebagai penjaga makam tokoh keramat di Teuku Cot Bada, Pidie.
Di Jambi, terutama di kaki Gunung Kerinci, harimau dipercaya sebagai jelmaan sahabat dan prajurit roh leluhur, dengan sebutan "Imaw Srabat" atau "Imaw Ulubalang."
Masyarakat Kerinci bahkan memiliki aturan tidak boleh sembarangan menyebut kata 'harimau' di hutan; jika bertemu, mereka harus menyapanya dengan 'dio', 'diyau', atau 'hantuo' sebagai bentuk penghormatan terhadap makhluk yang diyakini lebih dulu menghuni hutan.
Jika harimau ditemukan mati, masyarakat Kerinci akan melakukan ritual Ngagah Harimau dengan tarian dan syair untuk tiga harimau—Mangku Gunung Rayo, Rintek Ujan Paneh, dan Ulu Balang Tagea—yang diyakini memiliki perjanjian dengan nenek moyang mereka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....