Agresi Militer Belanda I di Sumatra Dimulai pada 21 Juli 1947 bulan

  • 21 Jul 2026 09:24 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Agresi Militer Belanda I (Operatie Product) di Sumatra dimulai pada 21 Juli hingga 5 Agustus 1947. Belanda melanggar Perjanjian Linggarjati dengan menyerang pusat-pusat ekonomi dan perkebunan strategis di Sumatra Timur (termasuk Medan dan Lubuk Pakam), Palembang, serta Sumatra Barat (Padang) untuk menguasai kembali wilayah Republik.

Rincian operasi dan dampaknya di Sumatra meliputi:

Sumatra Timur: Operasi ini difokuskan untuk melumpuhkan kekuatan militer Republik di sekitar Medan dan menguasai kota-kota penting seperti Lubuk Pakam. Perlawanan sengit dari pejuang Indonesia membuat Belanda melakukan operasi pembersihan hingga ke daerah Tanah Karo.

Sumatra Barat & Selatan: Kota Padang menjadi titik utama serangan Belanda, sementara Palembang dan wilayah lain menjadi target strategis untuk menguasai aset perkebunan dan infrastruktur.

Pelanggaran Perjanjian: Agresi ini dianggap sebagai pengingkaran terhadap Perundingan Linggarjati, memicu kecaman dunia, dan akhirnya dihentikan pada awal Agustus 1947 melalui resolusi Dewan Keamanan PBB.

Pada Agresi Militer Belanda I (Juli–Agustus 1947), wilayah Keresidenan Jambi tidak mengalami kontak senjata frontal secara besar-besaran seperti di Sumatra Timur. Namun, Jambi menjadi target blokade ekonomi yang ketat dan serangan udara taktis kolonial. Belanda berfokus mengisolasi Jambi karena posisi geografisnya yang strategis dan keberadaan ladang minyak penting.

Berikut rincian peristiwa Agresi Militer I Belanda di wilayah Jambi:

Belanda mengincar Lapangan Terbang Paal Merah (sekarang Bandara Sultan Thaha) melalui serangan udara insidental. Langkah ini bertujuan memutus jalur transportasi udara dan komunikasi logistik militer Republik di Sumatra bagian tengah.

Pertempuran dan Serangan Udara di Lapangan Terbang Paal Merah merupakan salah satu titik krusial dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan RI di wilayah Sub-Teritorial Jambi. Fasilitas vital ini diincar secara masif oleh militer Belanda karena perannya sebagai transit logistik udara dan kedekatannya dengan sumber bahan bakar pesawat hasil kilang minyak bumi Jambi.

Berikut rincian peristiwa, latar belakang, dan jalannya pertempuran di Lapangan Terbang Paal Merah:

Mengapa Menjadi Target Utama?

Akses Logistik Utama: Lapangan Terbang Paal Merah (sekarang Bandara Sultan Thaha) adalah pintu masuk utama pergerakan udara di Jambi yang menghubungkan jalur Sumatra bagian tengah dan selatan.

Persediaan Minyak Pesawat: Jambi merupakan produsen penting minyak bumi melalui instalasi penyulingan minyak PERMIRI di Kenali Asam. Keberadaan bahan bakar inilah yang membuat pertahanan pangkalan udara Paal Merah menjadi sangat penting bagi kelangsungan armada udara Republik.

Jalannya Serangan dan Pertahanan AURI

Kekuatan yang Minim: Pada masa awal agresi, lapangan terbang ini hanya dipertahankan oleh pasukan AURI berkekuatan sangat kecil. Pertahanan pangkalan dipimpin langsung oleh Komandan Kapten Soeryono dan Wakil Komandan Letnan Dua Makky Perdana Kusuma dengan kekuatan kurang dari satu seksi (hanya sekitar 20 personel).

Serangan Udara Taktis: Belanda menggempur pangkalan ini menggunakan keunggulan armada udara mereka. Pengeboman dan rentetan tembakan dari udara ditujukan untuk melumpuhkan instalasi navigasi dan membersihkan pertahanan darat pangkalan agar bisa diduduki oleh pasukan darat atau penerjun payung (Operoperatie Ekster).

Puncak Pertempuran Sengit

Serangan Balasan Pejuang: Setelah Belanda menguasai objek vital ini, pasukan Republik tidak tinggal diam. Pada akhir Desember 1949, pasukan gabungan TNI melancarkan serangan udara darat atau gerilya fajar untuk merebut kembali kedudukan Belanda di Lapangan Terbang Paal Merah, Kenali Asam, dan Tempino.

Gugurnya Para Perwira: Meskipun serangan dilakukan secara gencar, peralatan tempur pertahanan udara Belanda yang canggih mematahkan serangan hari pertama. Dalam rapat darurat pimpinan pertambangan minyak Letkol R. Sudarsono bersama komandan lapangan Mayor Marzuki, diputuskan untuk bertempur sampai titik darah penghabisan. Gempuran balik udara Belanda yang masif mengakibatkan kerugian besar di pihak Republik, termasuk gugurnya Mayor Marzuki dan Kapten Maryono.

Akibat jatuhnya komplek pertahanan Paal Merah dan sektor minyak Tempino, posisi pertahanan pejuang Jambi di sektor selatan (jalur Bayung Lencir) terputus, memaksa sisa pasukan memundurkan garis pertahanan ke wilayah pedalaman Bungo Tebo.

Blokade Ekonomi di Kenali Asam

Kawasan ladang minyak Kenali Asam diisolasi melalui penyumbatan ekonomi di sekitar jalur perairan Jambi. Blokade ini memicu kelangkaan kebutuhan pokok bagi rakyat dan mempersulit perdagangan luar negeri Jambi yang saat itu mengandalkan sistem barter dengan Singapura.

Konsolidasi Pertahanan Sub Teritorial Jambi (STD)Sadar akan ancaman invasi darat yang bisa terjadi kapan saja, komandan pertahanan Jambi, Kolonel Abunjani, beserta wakilnya Letnan Kolonel Raden Soedarsono, langsung memperkuat barisan pertahanan:

Pembentukan Pasukan Khusus: TNI membentuk unit khusus pengaman lahan minyak serta tim gerilya pimpinan M. Sayuti Makalam.

Pertahanan Jalur Bungo Tebo: Di wilayah Bungo Tebo, pejuang membentuk Kompi Merdeka dan memasang barikade kayu besar di sepanjang tebing untuk menghadang pergerakan tentara Belanda.

Taktik Parit: Pejuang menebang pohon dan membuat parit di perbatasan antar-dusun guna memutus total jalur transportasi darat jika musuh merangsek masuk.

Kesiapsiagaan Jambi pada Agresi I ini menjadi fondasi penting bagi para pejuang. Ketika Belanda benar-benar melancarkan serangan darat total pada Agresi Militer II (Desember 1948), TNI Jambi langsung siap menerapkan taktik perang gerilya dan bumi hangus instalasi minyak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....