Literasi Digital, Bukan Sekadar Bisa Main Gadget, Tapi Tentang Etika dan Logika

  • 10 Mei 2026 22:18 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID,Jambi – Di era sekarang, pemandangan anak sekolah memegang smartphone adalah hal yang lumrah. Namun, sebuah fenomena menarik sekaligus mengkhawatirkan muncul: banyak orang "mahir" menggunakan teknologi, tetapi "gagap" dalam mencerna informasi. Inilah yang menjadi tantangan besar dalam dunia pendidikan dan sosial kita saat ini—minimnya literasi digital.

Bukan Hanya SoalTeknis

Banyak yang salah kaprah menganggap literasi digital hanya sebatas kemampuan mengoperasikan aplikasi atau media sosial. Padahal, secara ilmiah, literasi digital mencakup kemampuan kognitif untuk mengevaluasi informasi secara kritis.
Di media sosial, arus informasi mengalir tanpa filter. Tanpa kemampuan analisis yang baik, individu terjebak dalamecho chamber sebuah kondisi di mana mereka hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar dan menolak fakta yang berbeda. Dampak sosialnya? Polarisasi, debat kusir di kolom komentar, hingga penyebaran hoaks yang merugikan publik.

Dampaknya pada karakter Siswa

Dalam dunia pendidikan, digitalisasi membawa pedang bermata dua. Di satu sisi, akses ilmu pengetahuan menjadi tak terbatas. Di sisi lain, muncul masalah baru seperti cyberbullying dan penurunan daya konsentrasi akibat paparan konten durasi pendek (short-form content)
Secara psikologis, paparan konten yang terlalu cepat dapat memengaruhi kemampuan otak dalam memproses informasi yang mendalam. Siswa menjadi lebih menyukai hasil instan dan malas melakukan riset mendalam. Inilah mengapa kurikulum pendidikan saat ini mulai menggeser fokus dari sekadar "menghafal materi" menjadi "berpikir kritis".

Etika di Ruang Digital

Selain logika, aspek sosial yang sering terlupakan adalah etika atau netiquette. Di balik layar ponsel, banyak orang merasa anonim sehingga kehilangan empati saat berkomentar. Pendidikan karakter di sekolah kini punya tugas baru: mengajarkan bahwa ada manusia nyata di balik setiap akun media sosial. Sopan santun di dunia nyata harus selaras dengan perilaku di dunia maya.
Kesimpulannya Menghadapi masa depan bukan berarti kita harus menjauhi teknologi, melainkan memperkuat "benteng" mental penggunanya. Literasi digital adalah kunci agar teknologi menjadi alat pemberdayaan, bukan sumber perpecahan. Tugas ini bukan hanya milik guru di sekolah, tapi juga peran orang tua dan lingkungan sosial untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....