Mandeh Siti Manggopoh Sang Pejuang Perang Belasting

  • 21 Apr 2026 07:42 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Kemunculan Hindia Belanda di Sumatera Barat dimulai pada awal abad ke-17 M. Pada abad ini banyak kapal-kapal Hindia Belanda yang singgah di Sumatera Barat, tepatnya di Pelabuhan Tiku. Namun Hindia Belanda mulai menguasai Minangkabau pada tahun 1905 M. Pada awalnya kedatangan mereka murni sebagai pedagang yang ingin membeli hasil bumi. Namun, lama-kelamaan, mereka datang bukan hanya untuk berdagang, tetapi untuk menjajah. Masyarakat pribumi pun melakukan perlawanan yang berakar dari semangat keagamaan, dipelopori oleh para tokoh agama laki-laki maupun perempuan.

Dalam konteks Minangkabau, perempuan memiliki ruang dan tempat yang cukup unik dalam perkembangan politik. Keunikannya terletak pada porsi yang diberikan pada mereka, seperti tertuang dalam naskah maupun kabar klasik dalam masyarakat Minangkabau. Aktivitas perempuan dalam percaturan politik Minangkabau sebenarnya sudah berlangsung sangat lama, bahkan dapat dikatakan bahwa partisipasi perempuan dalam politik telah muncul sejak Minangkabau itu ada. Ini bisa kita lihat dalam cerita-cerita klasik Minangkabau di mana perempuan selalu memiliki porsi tersendiri dari setiap kisah yang diceritakan.

Siti Manggopoh adalah salah satu nama perempuan yang mempunyai peran dalam politik dan perlawanan terhadap penjajah, namun namanya sering terlupakan. Ia adalah satu dari sekian nama perempuan yang namanya terpinggirkan dalam catatan sejarah perjuangan. Peran dan kiprahnya dalam melawan dan mengusir penjajah tidak bisa dilupakan begitu saja. Siti Manggopoh bukan hanya seorang pejuang perempuan,

namun lebih dari itu ia adalah seorang ulama perempuan yang mampu mengobarkan semangat juang masyarakat dalam mengusir penjajah. Sayangnya, biografi dan jejak perjuangannya sedikit sekali yang menuliskan dan sumber-sumber tentang riwayat hidup tokoh satu ini sangat langka. Siti Manggopoh yang akrab dipanggil Mandeh Siti, memiliki latar belakang dari Nagari Manggopoh di Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Meskipun tidak diketahui nama lengkapnya, nama belakangnya berasal dari nagari tempat ia berjuang.

Siti tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah umum karena waktu itu di desanya belum ada sekolah. Satu-satunya pendidikan yang ia dapatkan adalah dengan belajar di surau atau masjid, termasuk mempelajari tentang bagaimana adat istiadat di Minangkabau. Masa kecilnya dihabiskan di kampung halamannya. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang memegang teguh ajaran Islam. Ia tumbuh menjadi seorang gadis pemberani. Siti memiliki teman kecil laki-laki bernama Dullah, Udin, dan Ali, sedangkan yang perempuan ada Limah dan Leka.

Beberapa catatan tentang dirinya menyebutkan bahwa teman-teman sebayanya yang pria pun merasa segan untuk sekadar menggodanya. Tumbuh dalam lingkungan saudara laki- laki membuat Siti kecil terbiasa ikut ke surau, pasar, sawah, bahkan ke gelanggang persilatan yang tempo dulu hanya diikuti oleh kaum laki-laki. Orang tua dan kakak-kakaknya mengajari dan mendidiknya menjadi perempuan pemberani.

Pada tahun 1908, Siti melakukan perlawanan terhadap kebijakan ekonomi Belanda melalui pajak uang (belasting). Peraturan belasting dianggap bertentangan dengan adat Minangkabau, karena tanah adalah kepunyaan komunal atau kaum di Minangkabau. Pada tanggal 16 Juni 1908, Belanda sangat kewalahan menghadapi tokoh perempuan Minangkabau ini, sehingga meminta bantuan kepada tentara Belanda yang berada di luar nagari Manggopoh. Perang ini kemudian dinamai Perang Belasting.

Dengan siasat yang diatur sedemikian rupa oleh Siti, dia dan pasukannya berhasil menewaskan 53 orang serdadu penjaga benteng. Sebagai perempuan, Siti Manggopoh cukup mandiri dan tidak tergantung kepada orang lain. Ia memanfaatkan naluri keperempuanannya secara cerdas untuk mencari informasi tentang kekuatan Belanda tanpa hanyut dibuai rayuan mereka.

Ia pernah mengalami konflik batin ketika akan mengadakan penyerbuan ke benteng Belanda. Konflik batin tersebut adalah antara rasa keibuan yang dalam terhadap anaknya yang erat menyusu di satu pihak dan panggilan jiwa untuk melepaskan rakyat dari kezaliman Belanda di pihak lain. Namun ia segera keluar dari sana dengan memenangkan panggilan jiwanya untuk membantu rakyat.

Tanggung jawabnya sebagai ibu dilaksanakan kembali setelah melakukan penyerangan. Bahkan anaknya, Dalima, dia bawa melarikan diri ke hutan selama 17 hari dan selanjutnya dibawa serta ketika ia ditangkap dan dipenjara 14 bulan di Lubuk Basung, Agam, 16 bulan di Pariaman, dan 12 bulan di Padang. Mungkin karena anaknya masih kecil atau karena alasan lainnya, akhirnya Siti Manggopoh dibebaskan. Namun suaminya dibuang ke Manado.

Siti Manggopoh meninggal pada 22 Agustus 1965 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Lolong, Padang.

Status : Meskipun telah ditetapkan sebagai Perintis Kemerdekaan sejak 1964, perjuangan untuk menyematkan gelar Pahlawan Nasional secara resmi masih terus bergulir di tengah masyarakat Minang. ()

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....