Isu Perubahan Iklim dalam Karya Sastra

  • 20 Apr 2026 08:01 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Sejarah Hari Fiksi Iklim Internasional (International Cli-Fi Day) yang diperingati setiap 20 April berakar dari perkembangan genre sastra yang berfokus pada isu perubahan iklim.

Berikut adalah poin-poin penting sejarahnya:

Asal-usul Istilah: Istilah "cli-fi" (singkatan dari climate fiction) pertama kali diciptakan oleh Dan Bloom, seorang aktivis iklim dan penulis lepas, sekitar tahun 2007 hingga 2011.

Tujuan Peringatan: Hari ini dibentuk untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai ancaman pemanasan global melalui media naratif seperti novel dan film. Fiksi dianggap sebagai cara yang efektif untuk membuat isu iklim yang kompleks terasa lebih nyata secara emosional bagi pembaca.

Perkembangan Genre: Meski istilahnya relatif baru, akar genrenya sudah dimulai sejak abad ke-20 melalui karya-karya penulis seperti J.G. Ballard dan Margaret Atwood. Genre ini mulai meledak secara global sekitar tahun 2013 setelah media besar seperti NPR dan The Guardian mulai mengakui "cli-fi" sebagai gerakan sastra baru yang penting.

Peringatan ini mengajak kita untuk melihat bagaimana aktivitas manusia mengganggu keseimbangan ekosistem dan membayangkan masa depan bumi jika krisis iklim tidak segera ditangani.

Dinamika perkembangan International Cli-Fi Day dan genrenya sendiri mengalami pergeseran yang signifikan dari sekadar "cerita bencana" menjadi alat advokasi kebijakan, yaitu:

Pergeseran Narasi: Awalnya, fiksi iklim sering kali bersifat distopia (fokus pada kehancuran dunia). Namun, dinamika belakangan ini menunjukkan tren ke arah solarpunk, yang menawarkan visi masa depan di mana teknologi dan alam hidup berdampingan secara harmonis.

Akselerasi Digital: Media sosial memainkan peran besar dalam mempercepat penyebaran hari peringatan ini. Komunitas pembaca di platform seperti Goodreads atau BookTok menciptakan lonjakan diskusi setiap tanggal 20 April, yang memicu penerbit untuk meluncurkan lebih banyak judul bertema lingkungan.

Pengakuan Akademik: Fiksi iklim kini tidak hanya dianggap sebagai bacaan populer, tetapi telah masuk ke dalam kurikulum universitas. Dinamika ini membuat hari peringatan tersebut menjadi momen penting bagi para akademisi untuk mendiskusikan krisis iklim dari perspektif humaniora, bukan sekadar sains murni.

Dampak Nyata: Peringatan ini mendorong penulis lokal di berbagai negara untuk menceritakan krisis iklim dari sudut pandang geografis mereka sendiri, sehingga narasi iklim tidak lagi didominasi oleh sudut pandang negara-negara Barat saja.

Implementasi Fiksi Iklim atau Cli-Fi (Climate Fiction) dalam kurikulum universitas di Indonesia mulai berkembang sebagai jembatan antara sains lingkungan dan narasi kemanusiaan. Pendekatan ini bertujuan agar mahasiswa tidak hanya memahami data perubahan iklim secara teknis, tetapi juga secara emosional dan etis melalui karya sastra.

  1. Fokus dalam Kurikulum Sastra dan Budaya
    Di fakultas ilmu budaya (seperti di Universitas Indonesia), fiksi iklim sering dikaji melalui mata kuliah yang menggunakan perspektif Ekokritik.
    Ekokritik dan Sastra Lingkungan: Mahasiswa menganalisis bagaimana karya sastra (novel, cerpen, film) merepresentasikan krisis lingkungan dan hubungan manusia dengan alam.
    Narrative Medicine/Perspektif Kesehatan: Beberapa fakultas, seperti Fakultas Keperawatan UI, bahkan mulai memperkenalkan mata kuliah elektif seperti "Nursing Perspective on Climate Change" untuk melihat dampak iklim terhadap manusia dari sisi praktis dan naratif.
  2. Contoh Karya Cli-Fi dalam Studi Universitas
    Beberapa karya yang sering dijadikan bahan kajian atau eksperimen pemikiran di lingkungan akademis meliputi:
    Kisah dari Pesisir Utara: Mengangkat realitas perubahan iklim di Pekalongan melalui pendekatan novela.
    Mata dan Rahasia Pulau Gapi: Dikaji dalam penelitian akademik untuk melihat kerusakan alam dan keadilan lingkungan.
    Karya Internasional: Teks seperti The Road (Cormac McCarthy) atau Flight Behavior (Barbara Kingsolver) sering digunakan untuk membedah masalah migrasi iklim dan ketidakadilan sosial.
  3. Model Pembelajaran yang Digunakan
    Laboratorium Mental: Menggunakan fiksi sebagai simulasi masa depan untuk menguji konsekuensi pemanasan global tanpa risiko nyata.
    Pembelajaran Lintas Disiplin: Menggabungkan analisis sastra dengan ilmu biologi atau ekonomi untuk memahami "kebenaran" krisis iklim secara utuh.
    Ecological Empathy: Mengasah empati mahasiswa terhadap kelompok marginal yang paling terdampak oleh perubahan iklim.
  4. Integrasi dalam Kurikulum Agama
    Selain universitas umum, institusi seperti Universitas PTIQ Jakarta juga mengeksplorasi integrasi isu iklim ke dalam kurikulum berbasis agama untuk mempersiapkan pemimpin masa depan yang sadar lingkungan.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....