Rotan Indonesia Menjadi Primadona dengan Harga Tinggi
- 19 Apr 2026 23:29 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi - Rotan merupakan sekelompok palem (familia Arecaceae/Calameae) yang tumbuh memanjat atau merambat, terutama di hutan hujan tropis Asia Tenggara. Dikenal memiliki batang panjang, kuat, lentur, dan beruas padat (tidak berongga), rotan adalah Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) utama yang dimanfaatkan untuk bahan baku mebel (kursi, meja), kerajinan anyaman, dan tali temali.
Indonesia memproduksi sebagian besar rotan dunia, sekitar 85% dari total pasokan global, dengan produksi tahunan fluktuatif antara 594.944 hingga 1.778.955 batang dari 2019-2023.
Untuk populasinya, rotan tersebar di berbagai wilayah seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, dengan potensi hutan mencakup 9,9 juta hektar di 20 provinsi dan lebih dari 300 spesies di Indonesia, 90% produksi berasal dari hutan alam, sementara 10% dari budidaya dengan luas kebun sekitar 50.000 hektar, terutama di Kalimantan Tengah. Potensi produksi nasional diperkirakan mencapai 573.890 ton per tahun dari 16 provinsi yang disurvei.
Produksi rotan meningkat menjadi 1.778.955 batang pada 2023, setelah fluktuasi dari 1.182.590 batang (2019) ke titik terendah 594.944 batang (2020). Di Sulawesi Selatan saja, potensi mencapai 673.166 ha dengan produksi hingga 2.627.361 ton/tahun pada 1996, meski data terbaru menunjukkan variasi regional.
Sementara dari sisi harga, rotan bagi petani meningkat dari Rp900/kg menjadi minimal Rp1.400/kg berkat skema sertifikasi lestari di Sulawesi dan Kalimantan. Rotan kulit (fitrit) dijual Rp25.000–Rp45.000/kg, sementara kulit rotan Rp45.000–Rp120.000/kg di Kalimantan Timur. Harga ini dipengaruhi tata niaga dan bisa naik dengan pengelolaan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....