Menguatkan Nalar Belajar dari Sekitar dengan Praktik Numerasi di Kelas

  • 30 Mar 2026 16:00 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID.Jambi - Di sebuah ruang kelas sederhana di SDN 54/IX Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, pembelajaran numerasi tidak lagi identik dengan angka-angka abstrak di papan tulis. Bagi Marwan, S.Pd., sebagai guru sekolah dasar yang telah mengabdi sejak akhir 2000-an, konsep seperti rasio justru menjadi lebih hidup ketika dihubungkan langsung dengan keseharian siswa.

Pada suatu pagi, pembelajaran dimulai dengan penjelasan sederhana tentang rasio. Alih-alih langsung masuk ke rumus, Marwan mengajak siswa mengamati benda-benda di sekitar mereka botol minum dan gelas plastik yang akrab digunakan sehari-hari. Dari situ, siswa diajak memahami perbandingan secara alami: berapa banyak air dalam satu botol jika dituangkan ke beberapa gelas, atau bagaimana membandingkan volume antar wadah.

“Kalau anak langsung diberi angka, kadang mereka bingung. Tapi kalau dari benda yang mereka kenal, mereka lebih cepat paham,” ujar Marwan.

Untuk memperkuat pemahaman, ia menggunakan media presentasi sederhana berupa tayangan visual. Namun, inti pembelajaran tetap pada pengalaman langsung. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil, masing-masing diberi tugas untuk melakukan percobaan sederhana menggunakan botol dan gelas plastik. Mereka mengamati, mencatat, lalu mendiskusikan hasilnya bersama kelompok.

Di akhir kegiatan, setiap kelompok mempresentasikan temuan mereka di depan kelas. Proses ini tidak hanya mengasah pemahaman konsep rasio, tetapi juga melatih keberanian berbicara dan kemampuan menyampaikan gagasan.

Belajar Sambil Bermain

Bagi Marwan, anak-anak usia sekolah dasar pada dasarnya berada dalam fase bermain. Karena itu, pembelajaran harus dirancang agar selaras dengan dunia mereka.

“Anak-anak itu masa bermain. Jadi belajar harus sambil bermain,” katanya.

Pendekatan ini juga ia terapkan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Saat mempelajari jenis akar tumbuhan, misalnya, siswa diajak langsung mengamati lingkungan sekitar sekolah. Mereka membedakan antara akar tunggang dan akar serabut melalui pengalaman nyata, bukan sekadar membaca dari buku.

Pengalaman belajar di luar kelas ini, menurut Marwan, memberi dampak yang lebih kuat. Siswa menjadi lebih aktif, rasa ingin tahu mereka tumbuh, dan materi pelajaran lebih mudah diingat.

Tantangan di Ruang Kelas

Namun, pembelajaran aktif bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala utama adalah pengelolaan kelas, terutama dalam memastikan setiap siswa tetap terlibat dan memahami proses yang berlangsung.

“Tantangannya itu di pengawasan. Bagaimana memastikan anak benar dalam prosesnya, bukan hanya hasil akhirnya,” ungkapnya.

Perbedaan kemampuan siswa juga menjadi perhatian tersendiri. Dalam satu kelas, ada siswa yang cepat memahami, tetapi ada pula yang membutuhkan pendampingan lebih intensif. Untuk itu, Marwan berupaya membangun interaksi yang lebih dekat dengan siswa, sekaligus mendorong kerja sama antar teman.

Meski demikian, ia merasakan bahwa pendekatan berbasis pengalaman justru mempermudah siswa dalam memahami materi. Respons siswa pun cenderung lebih positif dibandingkan pembelajaran konvensional.

Belajar dan Bertumbuh sebagai Fasilitator

Lahir di Tanjung Jabung pada 6 Juli 1981, Marwan memulai perjalanan sebagai tenaga honorer. Ia pernah mengajar di sekolah satu atap dan sekolah dasar unggulan sebelum akhirnya ditempatkan di SDN di wilayah Bukit Baling sejak 2011.

Sejak 2021, ia dipercaya sebagai Fasilitator Daerah (Fasda) Tanoto Foundation. Peran ini membuka ruang belajar baru baginya, tidak hanya dalam praktik pembelajaran, tetapi juga dalam pengembangan diri.

“Banyak yang sebelumnya saya tidak tahu, saya pelajari di sini. Termasuk melatih keberanian berbicara di depan banyak orang,” katanya.

Salah satu pengalaman yang berkesan adalah keterlibatannya dalam program penguatan numerasi melalui skema Hibah dari Tanoto Foundation. Bersama tim, ia menyiapkan proyek yang harus melalui beberapa kali perbaikan sebelum akhirnya layak dipresentasikan di hadapan dinas pendidikan.

“Sampai tiga kali kami ulang. Kami belajar dari kesalahan, memperbaiki, sampai benar-benar siap,” ujarnya.

Pengalaman tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas teknisnya, tetapi juga membentuk ketekunan dan komitmen terhadap kualitas.

Menginspirasi dari Praktik Sederhana

Inspirasi Marwan dalam mengajar banyak datang dari kumpulan praktik baik yang ia pelajari melalui Tanoto Foundation. Namun, dalam praktiknya, ia sering mengembangkan ide secara spontan, menyesuaikan dengan kondisi kelas dan kebutuhan siswa.

Baginya, pembelajaran tidak harus selalu rumit atau berbasis teknologi tinggi. Justru dari pendekatan sederhana dan kontekstual, pemahaman siswa dapat tumbuh lebih kuat. Meski demikian, ia mengakui masih terus belajar, terutama dalam hal manajemen

Mengajak Guru Terus Bergerak

Sebagai fasilitator daerah, Marwan tidak hanya berfokus pada kelasnya sendiri. Ia juga aktif mengajak rekan-rekan guru untuk bersama-sama mengembangkan praktik pembelajaran yang lebih baik.

“Mari kita semangat mendampingi siswa dengan menggunakan praktik-praktik baik. Dengan begitu, pendidikan kita bisa semakin berkualitas,” ujarnya.

Bagi Marwan, perubahan pendidikan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Dari kelas kecil di daerah, melalui botol plastik dan gelas sederhana, nalar siswa dapat tumbuh—dan dari situlah kualitas pendidikan perlahan dibangun program dan penyusunan proposal.

“Saya masih banyak belajar, sering lebih banyak mendengar,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....