Kue Kubang Boyo Manis dan Gurih, Legendaris Khas Jambi
- 18 Feb 2026 09:15 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi - Kue Kubang Boyo (atau sering disebut Buayo Berendam) adalah jajanan pasar legendaris khas Jambi yang memiliki tampilan unik menyerupai punggung buaya yang sedang muncul di permukaan air.
Kue ini memadukan rasa manis dari isian dan gurih dari kuahnya:
Adonan Kulit: Terbuat dari campuran tepung ketan dan sari pandan (memberi warna hijau alami) yang teksturnya kenyal.
Isian (Unti): Berupa parutan kelapa yang dimasak dengan gula merah (gula aren).
Kuah Santan: Kue "berendam" dalam siraman kuah santan kental yang dimasak dengan sedikit tepung terigu dan garam untuk memberikan cita rasa gurih.
Makna Filosofis
Secara simbolis, kue ini melambangkan kedamaian dan pengendalian diri. Bentuk buaya yang sedang berendam tenang mencerminkan sikap tidak menyerang dan ketenangan jiwa, meskipun buaya dikenal sebagai hewan yang kuat dan menakutkan.
Tradisi Penyajian
Menu Takjil: Sangat populer dan banyak dicari saat bulan Ramadhan sebagai menu berbuka puasa karena perpaduan rasa manis-gurihnya yang menggugah selera.
Penyajian Unik: Secara tradisional, kue ini sering disajikan di dalam wadah yang terbuat dari kulit jeruk bali atau mangkuk kecil sebelum disiram kuah santan.
Kue Kubang Boyo (atau sering disebut Buaya Berenang) adalah kudapan legendaris khas Jambi yang memiliki akar sejarah dan filosofi mendalam bagi masyarakat setempat.
Berikut adalah poin-poin utama sejarah dan maknanya:
- Asal-Usul Nama
Nama "Kubang Boyo" secara harfiah berarti "Kubangan Buaya" dalam bahasa lokal. Penamaan ini didasarkan pada visualisasi kue:
Bentuk: Adonan ketan hijau yang dibentuk lonjong menyerupai punggung buaya.
Penyajian: Kue diletakkan dalam siraman kuah santan kental yang tampak seperti air kolam atau kubangan tempat buaya berendam. - Makna Filosofis
Bagi masyarakat Jambi, kue ini bukan sekadar makanan, melainkan simbol nilai kehidupan:
Simbol Kedamaian: Sosok "buaya" yang tenang di dalam kuah melambangkan ketenangan dan sikap tidak menyerang jika tidak diganggu.
Pengendalian Diri: Buaya dipandang sebagai hewan yang kuat namun mampu menahan diri, mengajarkan pentingnya kontrol diri bagi manusia. Karakteristik Tradisional
Bahan Utama: Terbuat dari tepung ketan yang dicampur sari daun pandan, dengan isian unti kelapa (campuran kelapa parut dan gula merah).
Konteks Sosial: Secara historis, kue ini merupakan hidangan istimewa yang sering muncul pada acara adat atau sebagai takjil favorit saat bulan Ramadan. (berbagai sumber)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....