Tradisi Arakan Sahur bukan Sekedar Membangunkan Sahur
- 18 Feb 2026 09:19 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi - Tradisi Arakan Sahur menjadi sebuah tradisi yang memiliki keunikan hingga membuat masyarakat di Kuala Tungkal hingga pendatang sangat antusias menunggu tradisi ini diadakan. Tradisi Arakan Sahur merupakan sebuah kegiatan rutin yang dilaksanakan pada bulan ramadhan sekitar jam 22.00 WIB hingga selesai dengan melibatkan banyak massa yang begitu besar di sepanjang jalan di Kuala Tungkal.
Tradisi ini dibawa oleh orang-orang Banjar yang berasal dari Kalimantan Selatan ketika orang banjar tersebut bermigrasi ke Tungkal Ilir pada tahun 1900. Dahulu sebelum adanya teknologi modern seperti alarm atau pengeras suara di Masjid, masyarakat mengendalikan cara-cara tradisional untuk meningkatkan satu sama lain akan waktu sahur. Arakan sahur menjadi salah satu metode efektif dan sekaligus menjadi ajang silaturahmi antar sesama warga.
Tradisi Arakan Sahur bukan hanya sekedar membangunkan sahur, tetapi tradisi ini juga merupakan sebuah pertunjukkan seni dan budaya yang melibatkan partisipasi masyarakat. Tradisi ini dilakukan oleh warga setempat yang berkeliling sambil memainkan berbagai macam alat musik seperti menabuh beduk, bambu buluh, rebana, seruling, angklung hingga alat musik dari besi-besi bekas. Selain memainkan alat musik, muda-mudi masyarakat Kuala Tungkal juga mengenakan berbagai macam kostum yang menarik.
Sebelum pandemi melanda, Arakan Sahur di Kuala Tungkal merupakan tradisi yang sangat menarik dan meriah serta menjadi bagian tak terpisahkan dari semarak bulan suci Ramadhan. Akan tetapi, dengan merebaknya pandemi Covid- 19 pada tahun 2020-2021, kegiatan yang melibatkan khalayak ramai, termasuk Arakan Sahur, terpaksa ditiadakan atau dibatasi secara signifikan.
Pemerintah mengeluarkan peraturan nomor 21 Tahun 2020 yang berisikan tentang penjelasan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam upaya mencegah dan mempercepat penanganan Covid-19. Hal ini tentu berdampak pada pelaksanaan tradisi Arakan Sahur di Kuala Tungkal, jalanan yang biasanya ramai dilalui oleh masyarakat untuk menghadiri tradisi
ini menjadi sunyi.
Dari tahun 2022-hingga kini, tradisi Arakan Sahur di Kuala Tungkal mengalami peningkatan yang signifikan, mulai dari segi pelaksanaan maupun dampaknya terhadap masyarakat dan pariwisata daerah. Memasuki tahun 2022, dengan terkendali serta pelonggaran pembatasan aktivitas masyarakat sesudah Covid-19, semangat untuk kembali menghidupkan tradisi Arakan Sahur di Kuala Tungkal kian membara. Setelah 2 tahun terbatasnya pelaksanaan tradisi Arakan Sahur.
Masyarakat Kuala Tungkal sangat antusias dengan suasana yang meriah dan kebersamaan yang diciptakan oleh tradisi Arakan Sahur. Selain antusias masyarakat, pelonggaran kebijakan, semangat pemulihan, dan kreativitas yang terpendam dalam 2 tahun masa pandemi juga membuat peningkatan tradisi Arakan Sahur pada tahun 2022 menjadi momen penanda kembalinya semarak bulan suci Ramadhan di Kuala Tungkal. Meski pada tahun 2022 pelaksanaan tradisi Arakan Sahur ini hanya dilakukan dua kali selama bulan Ramadhan dan rute perjalanan dipersingkat dengan alasan untuk mematahui protokol kesehatan yang berlaku.
Setelah itu, pada tahun 2023 tradisi Arakan Sahur dilaksanakan dengan konsisten seperti sebelum pandemi Covid-19 melanda, tradisi ini semakin diakui sebagai bagian penting dari identitas masyarakat, sehingga pada bulan suci Ramadhan tahun 2024 Kuala Tungkal kedatangan Menteri Pariwisata Ekonomi dan Kreatif yaitu Sandiaga Salahuddin Uno, yang secara langsung membuka acara tradisi Arakan Sahur ini serta kehadirannya menunjukkan dukungan kuat dari pemerintah pusat terhadap pelestarian tradisi budaya dan pengembangan pariwisata daerah. Tradisi Arakan Sahur tahun 2024 ini terpilih menjadi salah satu dari 110 Karis Event Nusantara (KEN).
Pada tahun 2025 lalu, tradisi ini semakin meriah dan menarik dengan tampilan yang beragam sehingga mengundang antusias masyarakat luar. Tradisi Arakan Sahur ini bukan hanya sekedar perayaan yang meriah tetapi juga wujud pelestarian budaya dan identitas khas Kuala Tungkal. Musik tradisional yang diciptakan oleh muda-mudi masyarkat Kuala Tungkal menjadi daya tarik utama. Selain mempersembahkan musik, tradisi ini juga memperlihatkan maskot dan ornamen yang unik dan kreatif, seperti berbentuk Masjid, Al-Qur’an, kapal nelayan dan lainnya. Secara keseluruhan, tradisi Arakan Sahur di Kuala Tungkal menunjukkan trend yang positif dari tahun ke tahun. Tradisi ini juga memiliki nilai-nilai yang terkandung seperti nilai sosial, nilai religi, dan nilai kebersamaan. Jadi, tradisi ini tidak hanya berhasil dipertahankan tetapi juga semakin berkembang menjadi sebuah festival budaya yang penting bagi masyarakat Kuala Tungkal. (berbagai sumber)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....