Densus 88 Gencarkan Edukasi Antiradikalisme Pelajar

  • 13 Feb 2026 12:35 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi- Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88 AT) Polri menggelar sosialisasi pencegahan paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme di SMA Unggul Sakti Jambi pada Jumat 13 Februari 2026. Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah pencegahan dini terhadap potensi penyebaran paham radikal yang kini menyasar kalangan pelajar.

Dalam kegiatan tersebut, tim sosialisasi Densus 88 mengungkap bahwa pelajar menjadi salah satu target rekrutmen kelompok radikal, baik melalui media sosial maupun platform game online.

Narasumber kegiatan, Ipda Muhammad Azhar dari tim sosialisasi Densus 88 AT, mengatakan bahwa pola radikalisasi saat ini berkembang dan memanfaatkan ruang digital yang dekat dengan kehidupan remaja.

“Radikalisasi kini sudah menyasar para pelajar sebagai target rekrutmen, salah satunya melalui game online. Ini menjadi perhatian serius karena mereka direkrut secara bertahap dan terselubung,” ujar Azhar dalam pemaparannya.

Ia menjelaskan, berdasarkan temuan di lapangan, terdapat kasus dugaan pencucian otak terhadap anak-anak melalui permainan daring seperti Roblox. Modusnya dimulai dari ajakan bermain bersama, lalu anak dimasukkan ke dalam sebuah grup tertutup.

“Sistemnya awalnya hanya ajakan bermain game. Setelah itu mereka dimasukkan ke dalam grup tertentu, kemudian mulai didoktrin dengan narasi kekerasan dan paham kebencian,” jelasnya.

Menurut Azhar, dari proses tersebut kemudian terbentuk kelompok yang dikenal dengan istilah true crime community (TCC). Ia menyebut komunitas tersebut mayoritas beranggotakan anak-anak usia sekolah.

“Dari penelusuran kami, ternyata di Indonesia cukup banyak pelajar yang masuk ke dalam grup yang terafiliasi dengan jaringan true crime community. Puluhan grup ini masih aktif dan teridentifikasi berbahaya karena mengajak anak melakukan kekerasan,” tegasnya.

Densus 88 AT menegaskan bahwa sosialisasi ini bertujuan memberikan pemahaman kepada pelajar agar lebih kritis dan tidak mudah terpengaruh ajakan yang mengarah pada intoleransi maupun kekerasan.

“Kami melakukan upaya pencegahan dini melalui edukasi. Harapannya, para pelajar memiliki daya tangkal terhadap paham radikalisme serta berani melapor jika menemukan indikasi mencurigakan,” tutup Azhar.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran siswa, guru, serta orang tua terhadap potensi ancaman radikalisasi di ruang digital, sekaligus memperkuat peran sekolah sebagai benteng utama dalam menjaga generasi muda dari paparan ideologi kekerasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....