CARA Membaca relief Borobudur kembali mencuat setelah sejarawan Wenri Wanhar merilis buku terbaru berjudul "Sri Buddha: Karena Hari Ini Tumbuh Masa Lalu". Ia menawarkan pendekatan berbeda dalam menafsirkan kisah yang terukir pada dinding candi, yang selama ini lebih banyak dibaca dari sudut pandang sejarah Buddhisme klasik.
Wenri Wanhar menyampaikan bahwa gagasan dalam bukunya lahir dari upaya panjang menjemput cerita dari masa lampau. Ia berkata bahwa masa lampau tetap aktual bila ditafsir dengan kesadaran hari ini, ujar Wenri. Buku tersebut ia tulis setelah bertahun-tahun meninggalkan dunia kewartawanan dan memilih menelusuri kisah sejarah yang terlipat.
-1920x1080/h9k5od2mj7k5zh6.jpeg)
Lembaran halaman buku karya sejarawan Wenri Wanhar yang menjelaskan metode baru membaca relief Borobudur melalui ajaran Buddhi. “Ini cara yang kita dapat dari kelampauan dan bukan satu-satunya kebenaran,” ujar Wenri. (Foto: istemewa)
Buku Sri Buddha: Karena Hari Ini Tumbuh Masa Lalu memuat cara membaca relief Borobudur berdasarkan pemahaman akan ajaran Buddhi. Ia mengatakan bahwa metode itu bukan kebenaran mutlak, namun hanya upaya berbagi cerita yang disampaikan alam raya kepada dirinya, ucap Wenri. Baginya, setiap pembacaan terhadap Borobudur menyimpan kemungkinan yang sama besar untuk benar maupun salah.
"Ini cara yang kita dapat ketika menjemputnya dari kelampauan. Mungkin yang lain juga punya caranya sendiri-sendiri. Silahkan saja. Kita hanya menceritakan cara yang diberitahukan alam raya kepada kita. Dan kita tidak akan pernah merasa cara kita inilah yang paling benar. Tidak. Ini hanya sekadar berbagi cerita." ujarnya.
Dalam bukunya, Wenri menuliskan bahwa lakon utama dalam Wirupa Borobudur adalah Indra Jati dari Hyang. Ia menyebut tokoh itu sebagai pembawa ajaran Buddhi atau ajaran yang berlandaskan kesadaran dan keseimbangan. "Ajaran Buddhi inilah--sebagaimana ditulis di halaman terakhir buku Karena Hari Ini Tumbuh Masa Lalu--yang dijadikan kurikulum ajar di Kadatuan Sriwijaya," kata Wenri.
Ia menjelaskan bahwa Indra Jati dari Hyang di Bhumi Jawa dikenal sebagai Hyang Semar. Ia menilai bahwa kesesuaian itu menunjukkan hubungan lintas tradisi antara Sumatera dan Jawa dalam narasi kuno Nusantara, ujar Wenri. Namun ia tetap merendah bahwa temuan tersebut hanya segenggam daun dari rimbun pengetahuan masa lampau.
Wenri menemukan bahwa tokoh yang ia sebut sebagai Hyang Semar muncul dalam benang cerita relief Borobudur. Ia menyatakan bahwa figur itu membawa pesan keselarasan melalui ajaran Buddhi. Ia mengaku belum mengetahui seluruh tokoh lain dalam Wirupa Borobudur, namun ia hanya menuliskan apa yang sudah dapat ia verifikasi, kata Wenri.
Ia mengatakan bahwa ajaran Buddhi mengajarkan sikap rendah hati dan larangan merasa paling benar. Ia menegaskan bahwa bila seseorang menyalahkan orang lain, maka ia sudah salah terlebih dahulu, ujar Wenri. Prinsip itu menjadi dasar mengapa ia memilih berhati-hati dalam menafsirkan setiap fragmen relief.

“Relief Borobudur menyimpan ajaran Buddhi yang terlipat,” kata Wenri Wanhar. (Foto: istimewa)
Laman PT Taman Wisata Candi yang kami akses pada Jumat, 21 November 2025, menjelaskan bahwa Borobudur dibangun antara tahun 780 hingga 840 oleh Dinasti Sailendra. Pendirian candi itu dimaksudkan sebagai tempat pemujaan dan ziarah yang memandu manusia untuk menjauhkan diri dari nafsu dunia. PT Taman Wisata Candi mencatat bahwa struktur Borobudur dibangun berdasarkan kosmologi tribuana yang membagi candi menjadi tiga alam besar.
Pada zona Kamadhatu, terdapat 160 relief tentang hukum sebab akibat. PT Taman Wisata Candi menyebut foto seluruh relief itu kini tersimpan di Museum Borobudur. Zona berikutnya adalah Rupadhatu yang memuat lebih dari 1.300 relief tentang perjalanan spiritual menuju pembebasan.
Pada zona tertinggi Arupadhatu, stupa-stupa berbentuk lingkaran berbicara tentang kesunyian dan kesempurnaan. PT Taman Wisata Candi menuliskan bahwa zona itu menjadi simbol rumah Tuhan. Pada bagian puncak, stupa utama dibiarkan kosong sebagai ruang kontemplasi tentang kemurnian tertinggi.
Wenri menguraikan bahwa ajaran Buddhi merupakan satu sistem pengetahuan Nusantara yang berakar pada keselarasan alam. Ia menyebut bahwa konsep Buddhi masih hidup dalam bahasa sehari-hari, seperti budi pekerti atau balas budi, kata Wenri. Ia menilai bahwa hal itu menunjukkan kearifan lama yang tidak benar-benar hilang.
Ia menyatakan bahwa Buddhi adalah suluh batin bangsa yang memandu manusia menuju kebahagiaan lahir dan batin. Ia merumuskan bahwa Borobudur adalah citraloka atau lanskap ajaran yang merekam puncak kecerdasan jiwa dan raga, ucap Wenri. Menurutnya, metode membaca relief harus dimulai dari kesadaran akan hubungan manusia dengan alam.
Wenri menegaskan bahwa Borobudur masih menyimpan rahasia besar yang belum terungkap. Ia menyebut bahwa sebagian tokoh dalam Wirupa Borobudur belum ia ketahui secara pasti. Ia mengatakan bahwa ia hanya menuliskan apa yang menjadi bagiannya, ujar Wenri.
Ia menyampaikan bahwa buku ini merupakan seri pertama dari rangkaian penulisan Sri Buddha. Ia berencana merilis seri kedua dengan judul Lingga Yoni Sriwijaya pada waktu mendatang, kata Wenri. Baginya, menafsir relief Borobudur adalah perjalanan panjang yang tidak pernah selesai.