Patologi Sosial dalam Masalah Gizi
- 06 Okt 2025 20:57 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Masalah gizi di masyarakat Batak tidak hanya soal medis, tetapi juga bagian dari patologi sosial yang memengaruhi kualitas sumber daya manusia. Kadiman Pakpahan, Wakil Ketua Departemen Patologi Sosial Batak Center mengatakan, edukasi gizi berbasis budaya lokal menjadi solusi untuk mencegah lahirnya generasi rentan.
“Kita tidak bisa bicara tentang generasi cerdas, kuat, dan tangguh kalau kebutuhan gizinya diabaikan,” ujar Kadiman dalam siaran Apresiasi Budaya Batak di Pro 4 RRI Jakarta, Senin 6 Oktober 2025.
Ia menilai kualitas SDM Batak sangat ditentukan oleh pola makan sejak dini. Namun, banyak keluarga Batak kini lebih memilih makanan cepat saji ketimbang pangan tradisional bergizi seperti arsik ikan mas, daun ubi tumbuk, atau natinombur. “Makanan tradisional itu sebenarnya sudah memenuhi prinsip gizi seimbang tinggi protein, serat, dan rendah lemak jahat. Kalau mau meningkatkan kualitas SDM Batak, kita harus kembali ke akar kuliner sendiri,” ucapnya.
Dari perspektif sosial, Kadiman menekankan bahwa lemahnya kesadaran gizi dapat menimbulkan masalah serius. Banyak anak yang mengalami stunting bukan hanya karena faktor ekonomi, melainkan akibat kurangnya pengetahuan orang tua tentang variasi makanan. “Inilah yang kami sebut sebagai patologi sosial dalam konteks gizi, bukan sekadar persoalan medis, tapi juga persoalan budaya dan kebiasaan,” ujarnya.
Temuan ini sejalan dengan penelitian Jurnal Pendidikan dan Konseling Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, yang menyebutkan bahwa patologi sosial adalah perilaku yang melanggar norma masyarakat dan berdampak negatif pada kesehatan mental dan fisik. Rendahnya kesadaran gizi dan budaya konsumtif termasuk bagian dari fenomena tersebut.
Menurut jurnal tersebut, patologi sosial tidak hanya muncul dalam bentuk perjudian atau penyalahgunaan narkoba, tetapi juga dalam gaya hidup konsumtif yang meninggalkan kearifan lokal. “Empat faktor penyebab rendahnya mutu kesehatan mental antara lain minimnya perhatian terhadap pengembangan kepribadian, mulai ditinggalkannya nilai kearifan lokal, serta orientasi hidup materialistik dan konsumtif,” tulis penelitian tersebut.
Batak Center kini mendorong program kolaborasi dengan lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan komunitas kuliner Batak untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya makanan bergizi. Program ini mencakup pelatihan ibu rumah tangga hingga kampanye Balik ke Dapur Batak. “Kami ingin membangun kesadaran bahwa makanan bukan hanya soal kenyang, tapi juga masa depan SDM kita,” kata Kadiman.
Ia menutup pandangan dengan menegaskan bahwa investasi pada gizi sama pentingnya dengan investasi pendidikan dan ekonomi. “Generasi Batak yang kuat secara fisik, cerdas secara mental, dan berkarakter hanya bisa lahir dari tubuh sehat dan asupan bergizi. Fondasinya dimulai dari piring makan kita sendiri,” ujarnya.