Anak Jadi Pelaku Kekerasan: Tragedi yang Tumbuh dari Sunyi Rumah

  • 25 Feb 2026 09:40 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Ketika kekerasan dilakukan oleh anak terhadap orang tuanya sendiri, publik kerap terhenti pada satu pertanyaan: bagaimana mungkin? Namun di balik peristiwa ekstrem itu, tersembunyi rangkaian panjang pengabaian, relasi keluarga yang rapuh, serta kegagalan sistem perlindungan anak membaca tanda bahaya sejak dini.

Kasus kematian satu keluarga di Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada awal tahun 2026 menjadi potret paling telanjang tentang fenomena anak pelaku kekerasan. Awalnya polisi kata peliput kami di daerah ini, Syamsudin Ilyas, menduga kematian ibu dan dua anak itu akibat keracunan, hingga akhirnya terungkap bahwa pelaku adalah anak kandung sendiri yang meracuni keluarganya karena dendam dan konflik berkepanjangan.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Utara Ajun Komisaris Besar Onkoseno Grandiarso Sukahar menyebut peristiwa itu sebagai pembunuhan berencana. “Sebenarnya tersangka sudah mengakui perbuatannya. Namun, perkara ini harus diuji secara ilmiah,” ujar Onkoseno dalam konferensi pers, Jumat, 6 Februari 2026 seperti dilansir Kompas.id.

Kasus Warakas bukan anomali tunggal, melainkan puncak dari konflik yang lama terpendam. Data investigasi kepolisian menunjukkan motif pelaku adalah rasa dendam karena merasa diperlakukan tidak adil dan kerap dimarahi oleh ibunya. "“Dari hasil penyidikan, diketahui bahwa tersangka dengan sengaja meracuni tiga korban hingga meninggal dunia. Motifnya adalah rasa dendam terhadap keluarga karena merasa diperlakukan berbeda dan kerap dimarahi oleh ibunya,” kata Onkoseno seperti dilaporkan peliput RRI Ryan Suryadi pada Jumat, 6 Februari 2026.

Fenomena serupa tercatat dalam laporan Why Kids Kill Parents yang dimuat di Psychology Today. Penelitian berbasis data FBI di Amerika Serikat mencatat lebih dari 300 orang tua tewas setiap tahun pada periode 1977–1986 akibat dibunuh anaknya sendiri, dan sebagian besar pelaku adalah remaja laki-laki yang mengalami kekerasan atau pengabaian dalam keluarga.

Psikolog forensik Kathleen M. Heide menegaskan bahwa mayoritas pelaku bukan anak dengan gangguan jiwa berat. “Pembunuhan itu kerap merupakan tindakan putus asa dari anak yang merasa tidak memiliki jalan keluar lain dari situasi keluarga yang tak tertahankan,” tulis Heide dalam analisanya.

Temuan ilmiah yang dimuat dalam basis data The National Center for Biotechnology Information memperkuat pola tersebut. Sejumlah studi menunjukkan bahwa kekerasan ekstrem oleh anak sering diawali oleh paparan kekerasan verbal, emosional, atau fisik yang kronis, disertai ketiadaan sistem dukungan psikososial di lingkungan terdekat.

Rekomendasi Berita