Kisah Loper Koran yang Tak Lekang oleh Waktu
- 13 Mar 2026 09:37 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Di tengah pesatnya gempuran era digital dan menurunnya minat baca masyarakat terhadap media cetak, sosok Suhari (66) masih setia berdiri menawarkan lembaran-lembaran berita di jalanan ibu kota.
Pria asli kelahiran Jakarta yang kini menetap di kawasan Cawang ini telah menggantungkan hidupnya sebagai loper koran selama kurang lebih 15 tahun.
Meski usianya tak lagi muda, Suhari masih harus menjadi tulang punggung keluarga. Dari lima orang anaknya, saat ini ia tinggal bersama istri dan satu anaknya yang masih menetap di rumah.
"Dulu saya sempat ikut jadi sopir mobil, tapi karena satu dan lain hal tidak bisa meneruskan, akhirnya kembali lagi ke koran. Saya merasa cocoknya di sini, kalau kerja yang lain perasaannya kurang pas," ujar Suhari, Jumat, 13 Maret 2026 saat ditemui di sela-sela waktu istirahatnya menjajakan koran.
Suhari menjadi saksi hidup bagaimana masa kejayaan koran perlahan meredup. Ia bercerita bahwa banyak rekan seprofesinya yang memilih banting setir menjadi pengemudi ojek online (ojol) demi penghasilan yang lebih pasti.
"Teman-teman banyak yang pindah ke Gojek. Habisnya, pelanggan (koran) lama-lama pada berhenti karena harga dari korannya juga makin mahal. Jadi mereka pada berhenti berlangganan," ungkapnya.
Menjadi loper koran di jalanan bukanlah tanpa risiko. Pria paruh baya ini membagikan duka yang kerap ia alami, mulai dari cuaca hingga penertiban aparat.
Hujan adalah musuh utamanya. Jika hujan turun tiba-tiba, ia harus buru-buru mencari tempat berteduh agar koran dagangannya tidak hancur lebur. Tak hanya itu, Suhari juga mengaku pernah diamankan oleh petugas Satpol PP.
"Kadang-kadang kena tangkap Satpol PP juga. Waktu itu ditangkap karena jualan di lampu merah, kan memang dilarang. Tapi habis (bagaimana lagi), saya jualan di mana lagi kalau di situ nggak bisa?" keluhnya lirih.
Sistem kerja yang dijalani Suhari adalah sistem setoran. Ia mengambil stok koran pada pagi hari dan baru menyetorkan hasil penjualannya keesokan harinya. Keuntungan yang ia kantongi pun terbilang sangat kecil, hanya sekitar Rp 1.000 dari setiap eksemplar koran yang terjual.
Beroperasi dari pukul 08.00 pagi hingga 16.00 sore, Suhari rata-rata membawa pulang uang sebesar Rp 50.000 hingga Rp 60.000 per hari. Uang tersebut ia gunakan untuk menyambung hidup sehari-hari bersama keluarganya.
Meskipun hidup dalam keterbatasan, Suhari mengaku bukanlah tipe orang yang suka mengeluh. Namun, ketika ditanya mengenai harapan dan perhatian dari pemerintah, ia menyinggung perihal bantuan sosial yang distribusinya dinilai kurang tepat sasaran.
"Harapannya sih pengen supaya bisa jadi lebih enak, bisa dapat bantuan. Cuma caranya saya nggak tahu. Ada bantuan, kadang-kadang cuma didata doang, tapi nggak sampai. Saya punya Kartu Lansia, dapat sih, tapi soal uangnya nggak sampai ke saya, ibaratnya mencong (salah sasaran/diambil pihak lain)," keluhnya.
Di akhir perbincangannya, Suhari hanya berharap agar pemerintah bisa lebih memperhatikan rakyat kecil sepertinya secara nyata, bukan sekadar janji atau pendataan semata. Meski tertatih, esok hari, di jam 8 pagi, Suhari akan kembali turun ke jalan, menantang debu ibu kota demi lembaran rupiah dari selembar koran