Potret Kehidupan Porter Pelabuhan Pelni di Bulan Ramadhan
- 13 Mar 2026 09:10 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk kedatangan dan keberangkatan penumpang di Pelabuhan Pelni, sosok Jepri (31) tampak bersiaga menanti kapal sandar. Pria kelahiran Jakarta yang memiliki garis keturunan Medan ini adalah salah satu dari ratusan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) atau porter resmi yang menggantungkan nasibnya dari barang bawaan penumpang.
Sebelum mengenakan seragam resmi porter pada tahun 2019, Jepri telah lebih dulu merasakan kerasnya kehidupan pelabuhan. Ia dulunya adalah pedagang asongan yang menjajakan air mineral dan mi instan kepada penumpang.
Kini, di bawah naungan Koperasi TKBM Pelabuhan, Jepri bertugas mengangkut barang bawaan penumpang dari darat ke atas kapal maupun sebaliknya (embarkasi dan debarkasi).
Meski berstatus pekerja resmi dan memiliki naungan koperasi, Jepri mengungkapkan bahwa dirinya tidak mendapatkan gaji bulanan tetap. Pendapatannya murni bergantung pada kesepakatan langsung dengan penumpang yang menggunakan jasanya.
"Gaji dari koperasi sih enggak ada, kita dari penumpang saja, sistem tawar-menawar langsung. Kalau sebulan, rata-rata pendapatan sekitar Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta. Itu pun kalau ada pelanggan. Kalau enggak ada, ya zonk (tidak dapat uang)," ungkap Jepri kepada RRI Jakarta, Jumat, 13 Maret 2026.
Jika banyak profesi meraup untung berlipat ganda saat musim mudik Lebaran, hal tersebut rupanya tidak berlaku bagi para porter pelabuhan. Jepri menuturkan, pendapatannya justru kerap menurun saat musim perayaan tiba.
"Malah berkurang kalau Lebaran. Rata-rata penumpang tidak ada yang membawa barang banyak (seperti kargo), paling hanya bawa barang pribadi. Karena penumpangnya padat, banyak yang memilih bawa barang masing-masing," ceritanya.
Pekerjaan sebagai porter menuntut kekuatan fisik yang prima. Sekali jalan, Jepri bisa memanggul beban seberat 35 kilogram hingga 60 kilogram, tergantung jenis barang bawaan seperti koper atau kardus.
Terkait tarif, hitungan standar porter biasanya dipatok di angka Rp 50.000 untuk satu barang (koper/koli). Namun, Jepri bukanlah sosok yang kaku soal uang. Di balik kerasnya persaingan mencari nafkah, ia masih mengedepankan sisi kemanusiaan.
Jika penumpang tidak memiliki uang yang cukup, Jepri menerima bayaran seikhlasnya. Ia bahkan pernah membantu mengangkut barang penumpang tanpa dibayar sepeser pun.
"Pernah ada orang yang enggak bayar karena memang enggak punya uang. Ya sudah, kita bantu saja, ikhlas. Paling kecil pernah dibayar Rp 25.000. Tapi kadang kalau lagi rezeki, bawa empat barang bisa dikasih Rp 200.000," tutur pria yang saat ini menjadi tulang punggung bagi orang tua dan adik-adiknya tersebut.
Bekerja di pelabuhan bukanlah hal yang mudah. Jepri harus bersaing dengan sekitar 140 porter lainnya setiap hari. Tidak jarang ia pulang dengan tangan kosong ke rumah, padahal keluarga menyangka ia selalu membawa uang sehabis bekerja. "Dukanya ya begitu, kadang kita di lapangan kan beratus-ratus orang berebut penumpang," katanya.
Meski demikian, Jepri mengaku tetap menikmati dan nyaman dengan profesinya. Baginya, memberikan pelayanan yang baik kepada penumpang adalah prioritas utama agar citra profesi porter tetap terjaga dan terhindar dari stigma negatif "mahal" atau "memaksa".
"Sukanya karena kerjanya nyaman saja. Yang penting kita melayani penumpang dengan baik, jangan sampai ada keluhan dari nama kita. Kita jaga sendiri nama baik porter, karena kalau viral dibilang porter mahal, kita sendiri yang malu karena tiap hari ketemu (bekerja di sini)," pungkasnya bijak.