Menata Masa Pensiun Agar Tetap Aktif dan Produktif
- 28 Feb 2026 05:27 WIB
- Jakarta
RRI.COI.ID,Jakarta - Masa pensiun kerap dianggap sebagai akhir dari produktivitas, namun tidak bagi Yunismar, pelaku UMKM bumbu masak asal Minang yang menjadi narasumber dalam wawancara bersama Jo Adithya (Host RRI Jakarta).
Dalam Program 'Teras UMKM" ,Yunismar membagikan kisah bagaimana ia menata masa pensiun agar tetap aktif, mandiri, dan bernilai secara ekonomi melalui usaha Bumbu Bundo. Berawal dari sati produk rendang, usahanya berkembang menjadi beberapa varian seiring permintaan pasar dan pengalaman mengikuti bazar.
Yunismar menjelaskan bahwa perencanaan pensiun sudah ia pikirkan sejak lima tahun sebelum masa purna tugas . Berbekal jiwa dagang yang memang lekat dengan budaya Minang, ia mulai memberanikan diri terjun ke dunia usaha meski sempat merasa malu dan ragu. “Awalnya saya agak malu ikut bazar, tapi saat orang bilang produk saya enak dan dicari-cari, dari situ tumbuh percaya diri,” ujar Yunismar. Baginya, pensiun bukan berarti berhenti berkarya, melainkan mengalihkan energi ke hal yang lebih bermakna.
Dalam perjalanannya, Yunismar menekankan pentingnya legalitas usaha sebagai fondasi UMKM yang ingin naik kelas. Ia mendapatkan pendampingan dari Jakpreneur Kecamatan Cakung untuk mengurus NIB, PIRT, sertifikasi halal, HAKI merek, BPOM, hingga saat ini sedang dalam proses HACCP. “Legalitas itu penting, apalagi kalau kita mau masuk pasar yang lebih luas, bahkan internasional,” katanya. Upaya tersebut membuahkan hasil ketika produknya lolos kurasi dan mengikuti International Food Festival Expo (IVE) di Jeonju, Korea Selatan pada 2024 dan kembali diundang pada 2025.
Menjawab kekhawatiran banyak calon wirausaha soal modal, Yunismar menyarankan untuk memulai dari skala kecil. Menurutnya, yang terpenting adalah produk dikenal dan dipercaya konsumen. “Untuk modal, jangan langsung besar. Skop kecil dulu, yang penting produk dikenal orang. Pelan-pelan nanti bisa jadi besar,” tuturnya. Selain keuntungan finansial, ia juga merasakan manfaat lain seperti jaringan pertemanan, pelatihan, dan pengalaman baru.
Menutup perbincangan, Yunismar mengajak para pendengar, khususnya UMKM dan calon pensiunan, untuk mengubah mindset. Ia membedakan antara sekadar berjualan dan menjadi pebisnis. “Kalau pebisnis itu selalu meng-upgrade diri, nambah ilmu, ikut pelatihan. Jadi bukan cuma jualan habis, tapi membangun usaha,” pungkasnya. Kisah Yunismar menjadi contoh bahwa dengan perencanaan, keberanian, dan kemauan belajar, masa pensiun dapat ditata menjadi fase hidup yang lebih produktif dan bermakna.