Petani Rorotan Keluhkan Dampak Operasional RDF
- 09 Mar 2026 12:42 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Kehadiran fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar atau Refuse Derived Fuel (RDF) di kawasan Rorotan, Jakarta Utara, mulai menuai keluhan dari warga sekitar. Fasilitas yang digadang-gadang sebagai solusi masalah sampah Jakarta ini justru diduga membawa dampak buruk bagi kesehatan warga dan lahan pertanian setempat.
Seorang petani warga Karang Tengah yang tinggal hanya berjarak sekitar 100 hingga 200 meter dari lokasi RDF, mengungkapkan keresahannya. Ia menuturkan bahwa bau menyengat dari tumpukan sampah sangat mengganggu, terutama pada masa awal uji coba operasional.
Dampak polusi udara tersebut dirasakan langsung oleh keluarganya. Petani tersebut menceritakan bagaimana istrinya mengalami sesak napas parah akibat bau sampah yang menusuk.
"Baunya menyengat sekali, sampai istri saya tidak kuat napas. Katanya napasnya 'nyengrak' (tertahan) di tenggorokan," ungkap sumber tersebut saat diwawancarai di lokasi persawahan, Rabu 4 Maret 2026.
Tidak hanya sang istri, anaknya pun mengalami batuk-batuk akibat kualitas udara yang memburuk. Ia mengaku sempat panik dan harus membeli obat-obatan di malam hari demi meredakan gejala yang dialami keluarganya.
"Saya lihat istri saya sampai tidak tega. Sempat batuk juga, akhirnya saya belikan obat warung biar agak mendingan. Alhamdulillah reda, tapi baunya itu memang kuat sekali," tambahnya.
Selain masalah kesehatan, operasional RDF juga dikhawatirkan mencemari sumber air irigasi pertanian. Petani setempat menyoroti kondisi air di Kali Gendong yang kini berubah warna menjadi hitam pekat, kondisi yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Air di Kali Gendong itu hitam banget. Biasanya tidak sehitam ini," ujarnya.
Kondisi ini memicu kecemasan di kalangan kelompok tani. Pasalnya, mereka kini terpaksa mengairi sawah menggunakan air yang diduga tercemar limbah tersebut.
Petani khawatir hal ini akan mempengaruhi kualitas padi atau bahkan menyebabkan gagal panen, mengingat ini adalah pertama kalinya mereka bercocok tanam berdampingan dengan operasional RDF.
"Jujur kami khawatir. Kami belum pernah mencoba tanduran (tanaman) kena air limbah RDF. Kita belum tahu hasilnya nanti bagaimana, karena belum panen," jelasnya dengan nada cemas.
Meski merasakan dampak negatif, para petani memilih untuk tidak gegabah melakukan protes tanpa bukti yang kuat. Mereka masih menunggu hasil panen untuk melihat dampak nyata terhadap pertanian mereka.
"Kami tidak mau langsung menuduh tanpa bukti. Kita lihat prosesnya dulu. Kalau nanti terbukti ada dampak (gagal panen), baru kami akan protes melalui jalur kelompok tani atau Gapoktan," tegasnya.
Terkait drainase, ia mengakui adanya upaya pembersihan eceng gondok oleh petugas "Pasukan Oranye" dari dinas terkait di sekitar Malaka dan Marunda, namun belum ada perbaikan signifikan pada saluran air atau gorong-gorong untuk mencegah pencemaran lebih lanjut ke area persawahan.
Warga berharap pemerintah dan pengelola RDF segera mengambil tindakan mitigasi agar operasional pengolahan sampah tidak mengorbankan kesehatan masyarakat dan mata pencaharian petani setempat.