Cahaya Harapan di Tengah Air Pasang
- 03 Des 2025 07:16 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Habis gelap terbitlah terang—itulah yang kini dirasakan warga Kampung Beting, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Kawasan yang pada era 1980-an dikenal sebagai “Kampung Dollar” berkat tambak udang dan ikan yang melimpah itu sempat mengalami kemunduran akibat kerusakan lingkungan dan abrasi berkepanjangan. Tambak mati, ikan menghilang, dan habitat Lutung Jawa ikut terancam.
“Sejak 2005 abrasi dan banjir rob melanda kampung kami hingga tak ada lagi tambak sebagai mata pencaharian,” ujar Mak Unah, salah satu perempuan penggerak di Kampung Beting.
Kini, saat petang tiba dan matahari tenggelam di ufuk barat, wajah Kampung Beting perlahan berubah. Lampu-lampu jalan menyala, menerangi lorong-lorong kampung yang dulu gulita.
Perubahan ini bukan keajaiban yang datang seketika. PLN, bersama komunitas dan pemerintah daerah, menjalankan program PLN Peduli dengan memasang panel surya di atas rawa dan sisa-sisa tambak yang tergenang. Listrik 24 jam kini mengalir ke puluhan rumah, sekolah, dan pos kesehatan.
Menurut Ma’unah, telah dihadirkan berbagai program dari PLN Peduli, komunitas, hingga perangkat desa sehingga kondisi kampung kini lebih tenang. “Dulu kami takut musim hujan karena air laut naik. Sekarang lebih tenang. Kami bersama kelompok masyarakat merawat mangrove, membuat edukasi gratis, dan mengembangkan ekowisata,” ujarnya.
Berbagai program penerangan jalan, perbaikan infrastruktur, hingga kegiatan sosial membawa dampak kepada masyarakat. Usaha mikro—termasuk kerajinan hasil laut—kembali tumbuh.
Penanaman mangrove mampu mengurangi abrasi hingga 40 persen, sekaligus melindungi permukiman dari banjir rob dan menjaga habitat burung migran serta Lutung Jawa. Sementara itu, manfaat listrik bagi kesehatan dan pendidikan semakin dirasakan, terutama oleh anak-anak.
Bagi warga, listrik bukan sekadar lampu yang menyala. Ini tentang ruang gerak yang lebih luas, anak-anak yang bisa belajar tenang, serta aktivitas masyarakat yang kembali hidup.
Kisah “Kampung Tenggelam” ini bukan hanya soal cahaya, tetapi tentang bagaimana energi menjadi pemicu perubahan—mendorong ekonomi, memperkuat pendidikan, dan menumbuhkan kesadaran lingkungan.