Apa Itu Black Hole? Simak Fakta Ilmiahnya Menurut NASA
- 05 Okt 2026 14:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pekan Antariksa Sedunia diselenggarakan pada tanggal 4-10 Oktober 2026 sebagai perayaan antariksa global.
- Black hole atau lubang hitam tetap menjadi salah satu fenomena kosmik yang paling menarik perhatian ilmuwan dan publik.
- Meskipun sering digambarkan sebagai penyedot raksasa, black hole secara ilmiah bekerja dengan mekanisme yang berbeda dari analogi tersebut.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pekan Antariksa Sedunia berlangsung pada 4-10 Oktober 2026. Objek ruang angkasa yang disebut black hole masih menjadi salah satu fenomena kosmik yang menarik perhatian.
Black hole atau lubang hitam sering digambarkan seperti penyedot raksasa. Secara ilmiah, objek tersebut tidak bekerja seperti penyedot debu kosmik.
Melansir laman NASA Science, black hole didefinisikan sebagai objek astronomi dengan gravitasi yang tergolong kuat. Bahkan cahaya tidak dapat meloloskan diri dari batas yang disebut event horizon.
Event horizon adalah batas di sekitar black hole. Pada batas itu, kecepatan yang dibutuhkan untuk lolos melebihi kecepatan cahaya.
Di luar event horizon, gravitasi black hole mengikuti prinsip gravitasi objek lain dengan massa sama. Benda yang berada cukup jauh tidak otomatis tertarik masuk ke dalamnya.
Masih melansir NASA Science, benda yang mendekati black hole tetap bisa mengorbit sebelum melewati batas event horizon. Gravitasi baru akan semakin kuat ketika benda bergerak semakin dekat menuju batas tersebut.
Sebagian black hole dikelilingi materi panas yang berputar membentuk accretion disk. Gas dan debu dalam struktur itu perlahan bergerak menuju bagian dalam black hole.
Gesekan dalam accretion disk dapat memanaskan materi hingga jutaan derajat. Proses itu menghasilkan radiasi elektromagnetik, mulai dari gelombang radio, cahaya tampak, hingga sinar-X.
Materi yang masuk terlalu dekat juga bisa mengalami perubahan ekstrem yang disebabkan oleh perbedaan gaya gravitasi. Fenomena peregangan tersebut disebut sebagai spaghettification atau efek tertarik yang menjadi bentuk panjang.
Black hole sendiri tidak bisa terlihat secara langsung karena tidak memancarkan ataupun memantulkan cahaya. Astronom mengamatinya melalui pergerakan materi dan cahaya yang berada di sekitarnya.
Pengamatan terhadap lingkungan black hole juga bisa memperlihatkan efek gravitasi terhadap gas dan bintang di sekitarnya. Fenomena pembelokan cahaya atau yang dikenal sebagai gravitational lensing ikut membantu astronom dalam menemukan black hole tertentu.
Jadi, black hole bukan sebuah objek yang secara otomatis menyedot semua benda di sekitarnya. Pengaruhnya terhadap benda lain tetap mengikuti hukum gravitasi, dengan kondisi ekstrem saat benda mendekati event horizon. (Shafira Nursyifa)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....