Catatan NASA, Musim Es Laut Arktik Stabil sejak 2010, tetapi Es Terus Menipis
- 22 Sep 2026 11:02 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Musim pencairan es laut Arktik kini sekitar 40 hari lebih panjang dibandingkan 1979, tetapi trennya stabil sejak 2010.
- Perubahan pola awan sejak 2010 membuat pola cuaca tahunan semakin berpengaruh terhadap durasi musim pencairan.
- Es Arktik tetap jauh lebih tipis dan kawasan tersebut terus menghangat, sehingga stabilisasi musim pencairan dapat bersifat sementara.
RRI.CO.ID, Jakarta - Musim pencairan es laut di Arktik kini rata-rata berlangsung sekitar 40 hari lebih lama dibandingkan 1979. Studi terbaru yang dipimpin NASA menemukan, tren perpanjangan musim pencairan tersebut mulai stabil sekitar 2010.
Meski demikian, durasi musim pencairan masih mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Mengutip NASA, Selasa, 22 September 2026, peneliti menganalisis pengamatan satelit periode 1979 hingga 2023.
Tujuannya untuk mengetahui waktu es laut mulai mencair pada musim semi dan kembali membeku pada musim gugur. Hasil penelitian menunjukkan, sebagian besar pertambahan durasi musim pencairan terjadi sebelum 2010.
Perubahan tersebut terutama disebabkan oleh es laut yang membeku lebih lambat pada akhir tahun. Pada dekade 2000-an, berkurangnya tutupan es membuat permukaan laut yang lebih gelap semakin banyak menyerap energi matahari.
Kondisi tersebut menambah panas di lautan dan menunda pembekuan es, sehingga memperpanjang musim pencairan. Namun, sejak 2010 perubahan pola awan mengurangi jumlah sinar matahari yang mencapai sejumlah wilayah Samudra Arktik.
Akibatnya, durasi musim pencairan lebih banyak dipengaruhi pola cuaca tahunan dan cenderung stabil dalam jangka panjang. Stabilnya durasi musim pencairan bukan berarti perubahan iklim berhenti memengaruhi Arktik.
Kawasan tersebut masih memanas hampir empat kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Sementara itu, es laut yang tersisa jauh lebih tipis dibandingkan beberapa dekade lalu.
“Dulu, ada lebih banyak es multitahunan yang tidak mencair setiap musim panas. Kini, karena esnya lebih tipis dan jumlahnya berkurang, variabilitasnya jauh lebih besar,” kata Salah satu penulis studi tersebut dan ilmuwan es di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA, Linette Boisvert.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....