Siloam Perkuat Neuroscience lewat Teknologi dan Kolaborasi
- 19 Sep 2026 16:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Siloam menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia, teknologi, dan kolaborasi dalam pengembangan layanan neuroscience di Indonesia. Hal tersebut disampaikan dalam Press Conference The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026, Sabtu, 19 September 2026.
Chief Medical Officer Siloam International Hospital, Grace Frelita, mengatakan pengembangan layanan neuroscience, juga peningkatan kompetensi tenaga medis. Saat ini, terdapat sekitar 152 neurolog yang tersebar di jaringan Siloam di Indonesia.
Siloam juga terus mengembangkan pendidikan dan kompetensi dokter melalui program pendidikan dokter spesialis (PPDS). "Saya harap semakin banyak dokter memiliki kemampuan yang baik sehingga pelayanan neuroscience dapat menjangkau lebih banyak pasien," ujar Grace Frelita saat di temui awak media dalam acara Press Conference The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026, Sabtu, 19 September 2026.
Banyaknya masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri, sekitar 70-80% pasien ditemui saat kunjungan ke rumah sakit di Penang. Membangun kepercayaan masyarakat penting untuk menunjukkan Indonesia memiliki tenaga medis, teknologi, dan fasilitas mampu memberikan pelayanan kesehatan berkualitas.
Neurosurgeon, Prof. Julius July, menegaskan pentingnya teknologi yang berjalan beriringan dengan pengetahuan dan keterampilan tenaga medis. Menurut Prof. Julius, teknologi membantu dokter melihat dan menangani kondisi yang sulit diamati secara langsung.
Perkembangan teknologi juga memungkinkan operasi bedah saraf dilakukan dengan sayatan yang lebih kecil. “Teknologi itu bersinergi dengan pengetahuan kita dan menjadi pendamping dalam tindakan medis,” Ujar Prof. Julius July saat ditemui awak media dalam acara Press Conference The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026, Sabtu, 19 September 2026.
Prof. Julius mencontohkan teknik endoskopi yang memungkinkan operasi dilakukan melalui lubang kecil sekitar 2 hingga 2,5 sentimeter. Teknologi tersebut membantu mengoptimalkan tindakan sekaligus meminimalkan kerusakan jaringan.
Prof. Julius menekankan penggunaan teknologi harus diimbangi dengan pelatihan dan peningkatan kompetensi tenaga medis. Pemerataan teknologi dan tenaga terlatih penting agar masyarakat di berbagai daerah tidak harus selalu datang ke Jakarta.
Hal senada disampaikan Neurologist dan Neurological Pain Subspecialist, Prof. Yusak Mangara Tua Siahaan. Menurut Prof. Yusak, kolaborasi penting dalam perkembangan ilmu neurologi, terutama artificial intelligence (AI) dan brain-computer interface (BCI).
"Pemanfaatan BCI untuk membantu pasien stroke membutuhkan kerja sama antara dokter neurologi dan ahli AI. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu memahami komunikasi dan keinginan pasien yang mengalami keterbatasan akibat stroke," ujar Prof. Yusak Mangara Tua Siahaan saat di temui awak media dalam acara Press Conference The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026, Sabtu, 19 September 2026.
Prof. Yusak menegaskan bahwa pengembangan teknologi AI tidak dapat dilakukan oleh dokter saraf saja. Penanganan pasien neurologi juga membutuhkan kolaborasi dengan berbagai bidang, seperti radiologi, patologi anatomi, neuropatologi, dan laboratorium.
Kolaborasi diperlukan mulai dari diagnosis, pencegahan hingga pengobatan pasien. Menurut Prof. Yusak, dengan diagnosis, pencegahan, dan pengobatan yang tepat, outcome pasien akan lebih baik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....