Misi Pandora Mulai Pelajari Atmosfer Planet Ekstrasurya dan Bintang Induknya

  • 26 Agt 2026 12:59 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Misi Pandora mulai mengamati atmosfer sedikitnya 20 planet ekstrasurya.
  • Pandora dirancang memisahkan sinyal atmosfer planet dari pengaruh cahaya bintang induknya.
  • Data Pandora akan membantu penelitian planet berpotensi layak huni di masa depan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Misi Pandora milik NASA mulai melakukan pengamatan terhadap planet ekstrasurya dan bintang yang mengorbitinya. Pandora merupakan misi terbaru NASA sekaligus satelit pertama yang diluncurkan melalui program Astrophysics Pioneers.

Mengutip lamannya, Rabu, 26 Agustus 2026, misi ini akan menganalisis komposisi atmosfer sedikitnya 20 planet ekstrasurya. Ini termasuk keberadaan kabut, awan, dan air.

Data Pandora diharapkan membantu mengatasi kesenjangan pengetahuan mengenai pengaruh cahaya bintang terhadap pengukuran atmosfer planet ekstrasurya. Misi ini dirancang untuk memisahkan sinyal yang berasal dari planet dan bintang induknya secara lebih akurat.

Hasil pengamatan tersebut akan memperkuat pemahaman mengenai karakteristik atmosfer planet di luar Tata Surya. Temuannya juga akan menjadi dasar dalam menafsirkan hasil pengamatan Teleskop Antariksa James Webb.

Data tersebut turut mendukung pengembangan observatorium masa depan yang berfokus mencari dunia yang berpotensi layak huni. Detektor inframerah-dekat Pandora bahkan merupakan perangkat cadangan yang sebelumnya dikembangkan untuk James Webb.

Pesawat ruang angkasa Pandora dinyatakan dalam kondisi sehat dengan seluruh instrumen berfungsi sesuai harapan. Setelah menyelesaikan proses pengujian dan commissioning, tim misi kini memulai kegiatan ilmiah.

Pandora diluncurkan ke orbit rendah Bumi pada 11 Januari 2026 lalu. Dalam misinya, Pandora berperan sebagai satelit kecil yang dikembangkan melalui program Astrophysics Pioneers NASA.

Pandora memiliki sejumlah keunggulan yang membedakannya dari misi lainnya. Satelit ini membawa teleskop berbahan aluminium berdiameter sekitar 45 sentimeter.

Satelit itu juga akan mengamati planet dan bintang induknya secara bersamaan menggunakan cahaya tampak dan inframerah. Selain itu, Pandora dapat mengamati target dalam waktu lebih lama dibandingkan teleskop unggulan seperti James Webb.

Pengamatan jangka panjang membantu ilmuwan membedakan perubahan pada bintang dengan sinyal yang berasal dari atmosfer planet. Para ilmuwan mempelajari atmosfer planet ekstrasurya ketika planet melintas di depan bintangnya dari perspektif Bumi.

Dalam peristiwa transit tersebut, sebagian cahaya bintang melewati atmosfer planet sebelum mencapai teleskop. Interaksi cahaya dengan molekul atmosfer meninggalkan jejak kimia pada panjang gelombang tertentu.

Namun, permukaan bintang tidak seragam dan dapat memengaruhi hasil pengukuran atmosfer planet. Bintang memiliki area yang lebih panas dan terang serta wilayah lebih dingin dan gelap yang menyerupai bintik matahari. Area tersebut dapat berubah ukuran dan posisi seiring bintang berotasi.

Air menjadi salah satu molekul penting yang dicari untuk memahami komposisi dan kondisi fisik atmosfer planet ekstrasurya. Pandora dirancang untuk memisahkan gangguan sinyal dari bintang sehingga keberadaan air dan molekul lainnya dapat dianalisis lebih akurat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....