Siswa PENABUR Sabet Medali di World Greenmech 2026 Tailan

  • 19 Agt 2026 10:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tiga tim sekolah PENABUR berhasil meraih penghargaan dalam kompetisi World Greenmech 2026 di Stadium Nonthaburi, Tailan, pada 8–9 Agustus 2026.
  • World Greenmech 2026 diikuti 398 tim dan 1.245 siswa dari delapan negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Vietnam, Mongolia, India, Taiwan, Hong Kong, dan Tailan.
  • Prestasi tersebut menjadi bukti siswa PENABUR mampu bersaing di tingkat internasional dalam bidang sains, teknologi, dan robotik.

RRI.CO.ID, Jakarta - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa sekolah PENABUR di ajang internasional. Tiga tim dari SMAK 5 PENABUR, SMPK PENABUR Gading Serpong, dan SMAK 7 PENABUR berhasil membawa pulang penghargaan dalam kompetisi World Greenmech 2026 yang berlangsung pada 8-9 Agustus 2026 di Stadium Nonthaburi, Tailan.

Tim "Kitkat Extreme" dari SMAK 5 PENABUR berhasil meraih medali perak pada kategori R4M Basic, sementara tim "PGS Robotics" dari SMPK PENABUR Gading Serpong meraih medali perunggu di kategori R4M Advanced. Adapun tim dari SMAK 7 PENABUR berhasil memperoleh gelar Merit pada kategori Greenmech Basic.

World Greenmech 2026 diikuti 398 tim dengan total 1.245 peserta dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Para peserta berasal dari delapan negara, yakni Indonesia, Malaysia, Vietnam, Mongolia, India, Taiwan, Hong Kong, dan Tailan.

Untuk Indonesia, terdapat 52 tim yang berhasil lolos ke tingkat internasional setelah melalui proses seleksi ketat di tingkat nasional. Salah satu anggota tim Kitkat Extreme, Jason Anfernee Kurniawan, menjelaskan bahwa kompetisi R4M Basic terdiri atas dua sesi, yakni Building & Practice dan Competition.

"Pada sesi pertama kami harus merakit robot dari awal selama dua jam. Setelah selesai merakit, kami mendapat kesempatan untuk mencoba robot di lapangan kompetisi secara bergiliran dengan tim lain," ujar Jason.

Pada sesi pertandingan, setiap tim hanya mendapat satu kesempatan bermain dengan waktu maksimal dua menit. Kecepatan dan perolehan poin menjadi bagian dari penilaian.

Perjalanan tim Kitkat Extreme tidak sepenuhnya berjalan mulus. Saat pertandingan berlangsung, mereka menghadapi kendala interferensi Bluetooth yang tidak terduga.

"Kami sempat mengalami kendala interferensi Bluetooth, dan etelah menunggu giliran, tim kami akhirnya bermain dan berhasil meraih full score. Namun, terjadi miskomunikasi dengan panitia karena kendala bahasa sehingga kami diberikan kesempatan untuk mengulang," kata Jason.

Pada percobaan kedua, tim yang beranggotakan Jason, David Christopher Halomoan Tambunan, Darren Clementius Leonard, dan Gerald Juan Caleb Halim itu kembali tampil baik, meski harus melalui pertandingan dengan penuh ketegangan.

Keberhasilan tersebut merupakan buah dari persiapan panjang. Tim Kitkat Extreme berlatih selama sekitar sembilan bulan sejak Desember 2025.

Jason mengatakan, persiapan tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga membangun komunikasi, konsistensi, kerja sama, dan sinergi antaranggota.

"Selama proses persiapan ada beberapa kesulitan, seperti miskomunikasi yang membuat situasi tim memanas dan jadwal anggota yang tidak sesuai sehingga sulit latihan bersama. Kami mengatasinya dengan membangun komunikasi lebih intens melalui WhatsApp Group dan melakukan evaluasi bersama," ujarnya.

Dukungan sekolah juga menjadi bagian penting dalam persiapan. Guru dan sekolah memberikan dukungan, mulai dari pembiayaan, penyediaan ruangan latihan, hingga perlengkapan yang dibutuhkan tim.

PGS Robotics Hadapi Tantangan Saat Building

Pengalaman serupa dirasakan tim PGS Robotics dari SMPK PENABUR Gading Serpong yang meraih medali perunggu pada kategori R4M Advanced. Tim yang terdiri atas Lefrant Valeo Rustam, Stefanus Dimas Satria, Kenny Jiang, dan Jonathan Louis Soesanto itu mengaku harus menghadapi berbagai tantangan selama pertandingan.

"Pertandingannya sangat seru dan mendebarkan. Kami sempat takut kalah karena di tengah kompetisi mengalami kesulitan saat persiapan atau building. Kami sempat lupa susunan sehingga waktu pembuatan menjadi lebih panjang," kata tim PGS Robotics.

Kesalahan strategi juga sempat terjadi ketika robot mengambil barang hingga menyebabkan benturan. Tim kemudian melakukan evaluasi dan mengulang proses tersebut sampai mendapatkan hasil maksimal.

Lefrant mengatakan, dirinya bersama Stefanus menjalani persiapan sekitar tujuh bulan sejak seleksi regional hingga tahap internasional. Sementara Kenny dan Jonathan bergabung sekitar dua bulan sebelum kompetisi internasional karena menggantikan anggota tim sebelumnya.

Menurut Lefrant, dukungan guru turut membantu tim melewati berbagai tantangan selama masa persiapan.

Salah satu kendala yang mereka hadapi adalah penggunaan telepon seluler saat latihan building. Perangkat tersebut dibutuhkan untuk proses latihan, tetapi juga dapat mengganggu konsentrasi.

"Kami mengatasinya dengan saling mengingatkan dan mengumpulkan HP apabila proses latihan building sudah selesai," ucapnya.

Dorong Siswa Berani Belajar Robotik

Keberhasilan siswa PENABUR di World Greenmech 2026 juga menjadi bukti bahwa kemampuan sains dan robotik dapat dipelajari siapa saja, termasuk mereka yang belum memiliki kemampuan teknis sebelumnya. Jason pun mengajak siswa untuk tidak takut memulai dari nol.

"Kalian bisa mulai dari nol dan tidak harus memiliki skill unggul. Justru wawasan dan pengalaman banyak didapatkan dari kesalahan yang kita temukan. Jangan pernah takut mencoba sains dan robotik selama memiliki minat dan niat," ujarnya berpesan.

Sementara itu, Stefanus mengingatkan calon peserta kompetisi agar mempersiapkan kondisi fisik dan mental, menjaga kesehatan, serta mampu mengatur waktu. "Persiapkan mental dan fisik kalian, jaga kesehatan dan makan yang teratur, serta ingat untuk membagi waktu dengan baik," katanya.

Jonathan menambahkan, kegagalan dalam proses persiapan maupun pertandingan seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti. "Jangan pernah menyerah, terus mencoba, dan cari solusinya apabila menemukan kesulitan di tengah jalan," ujarnya.

Prestasi tiga tim PENABUR di World Greenmech 2026 menunjukkan kemampuan siswa Indonesia bersaing di tingkat internasional. Khususnya, dalam bidang sains, teknologi, dan robotik.

PENABUR menilai pencapaian tersebut sejalan dengan karakter BEST (Be Tough, Excel Worldwide, Share with Society, Trust in God) yang menjadi nilai yang ditanamkan kepada para siswa. Yakni, memiliki karakter tangguh, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki kepedulian sosial, serta mengandalkan Tuhan dalam kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....