Buck Moon akan Hiasi Langit pada 29 Juli, Diiringi Tiga Hujan Meteor Aktif

  • 28 Jul 2026 09:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Fenomena Buck Moon akan mencapai puncak pada Rabu, 29 Juli 2026
  • Tiga hujan meteor aktif turut menghiasi langit, tetapi cahayanya dapat tertutup Bulan Purnama.
  • Pengamatan terbaik dilakukan dari lokasi minim polusi cahaya, sementara Perseids diperkirakan paling optimal diamati pada 12 Agustus.

RRI.CO.ID, Jakarta - Fenomena Buck Moon atau Bulan Purnama Rusa akan menghiasi langit pada Rabu, 29 Juli 2026. Bulan purnama ini menjadi bulan purnama pertama setelah titik balik Matahari musim panas atau summer solstice.

‘Buck Moon’ adalah bulan purnama terjauh dari matahari sepanjang tahun dan salah satu yang terendah di langit. Hal ini dikarenakan bumi berada di aphelion (titik terjauhnya dari Matahari dalam orbitnya).

Kedekatan ‘Buck Moon’ dengan cakrawala akan memperbesar ukuran dan warnanya secara visual, sehingga bulan tampak lebih besar. Melansir NASA, fenomena ini disebut ‘ilusi bulan’.

Nama Buck Moon sendiri berasal dari tradisi di Amerika Utara. Buck Moon merujuk pada masa ketika rusa jantan mulai menumbuhkan tanduk baru setiap bulan Juli.

Berbagai budaya juga mengenal purnama Juli dengan nama lain. Contohnya, Thunder Moon, Salmon Moon, Raspberry Moon, Herb Moon, hingga Hay Moon.

Pengamat disarankan menyaksikan Buck Moon dari lokasi yang tinggi dan jauh dari polusi cahaya perkotaan. Hal ini agar bulan terlihat lebih jelas saat terbit di ufuk timur.

Selain Buck Moon, langit malam juga akan diramaikan oleh tiga hujan meteor aktif. Yakni Southern Delta Aquariids, Alpha Capricornids, dan Perseids.

Southern Delta Aquariids dan Alpha Capricornids diperkirakan mencapai puncaknya pada 30–31 Juli 2026. Sedangkan, Perseids akan memuncak pada 12 Agustus 2026, bertepatan dengan fase Bulan Baru dan gerhana Matahari total.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....