APAVMI Soroti Pentingnya Data Akurat Industri Audio Visual

  • 25 Jul 2026 00:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Penggiat Peralatan Audio Visual dan Musik Indonesia (APAVMI), menyoroti pentingnya data akurat perkembangan industri audio visual dan musik. Disampaikannya dalam konferensi pers PRO AVL Indonesia 2026 akan berlangsung pada 28–31 Juli 2026 di NICE PIK 2.

Ketua Umum APAVMI, Hendry Kaihatu, mengatakan data bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) belum sepenuhnya mencerminkan kontribusi industri. Ia mengatakan kondisi ini terjadi karena masih banyak pelaku usaha yang belum melaporkan data bisnisnya.

Akibatnya, data yang terkumpul belum lengkap sehingga nilai kontribusi industri belum tergambar secara menyeluruh. Hendry menjelaskan, APAVMI juga membandingkan data dengan hasil kajian dari Universitas Indonesia (UI).

"Data UI menunjukkan angka yang lebih besar karena diperoleh melalui FGD dan riset yang lebih mendalam. Penghitungan BPS selama ini masih banyak berfokus pada sektor pertunjukan, seperti penjualan tiket konser dan perilisan album," ujar Hendry Kaihatu saat ditemui awak media dalam acara konferensi pers PRO AVL Indonesia 2026 akan berlangsung pada 28–31 Juli 2026 di NICE PIK 2, Gandaria City, Jumat, 24 Juli 2026.

Sementara itu, aktivitas impor, ekspor, dan perdagangan peralatan musik belum seluruhnya masuk dalam perhitungan. Karena itu, Hendry berharap pelaku industri lebih terbuka dalam melaporkan data usahanya.

"Data yang lebih lengkap akan membantu pemerintah melihat kontribusi nyata industri audio visual dan musik. Dengan begitu, sektor ini dapat memperoleh perhatian yang lebih besar dalam penyusunan kebijakan dan pengembangan industri nasional," kata Hendry.

Hendry mengatakan, sejumlah produsen alat musik dalam negeri telah berhasil menembus pasar internasional melalui berbagai pameran global. Menurutnya, perusahaan importir peralatan audio visual dan musik juga memberikan kontribusi ekonomi yang cukup besar.

Hendry juga mendorong adanya insentif, seperti kemudahan perpajakan atau tax holiday bagi pelaku usaha yang patuh membayar pajak. Menurut Hendry, penerimaan negara masih didominasi oleh sektor perpajakan.

"Kerja sama antara pemerintah dan pelaku industri perlu terus diperkuat. Data yang lebih akurat akan menunjukkan besarnya kontribusi industri audio visual dan musik terhadap perekonomian nasional," kata Hendry.

Melalui PRO AVL Indonesia 2026, Hendry berharap industri ini tidak hanya menjadi ajang bisnis, tetapi juga mendapat perhatian yang lebih besar. Ia pun mengajak media untuk turut mengangkat potensi industri audio visual dan musik yang selama ini belum banyak disorot.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....