Ilmu Sosial dan Humaniora Jadi Fondasi Penting menuju Indonesia Emas 2045
- 15 Jul 2026 11:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Program Studi Magister Sosiologi FISIP Universitas Nasional (UNAS) menggelar Seminar dan Talkshow Nasional bertema "Peran Ilmu Sosial dan Humaniora Menuju Indonesia Emas 2045" bersama Komisi X DPR RI, Diktisaintek Berdampak, dan APSSI.
- Seminar menjadi wadah kolaborasi antara perguruan tinggi, DPR RI, BRIN, kementerian, dan organisasi profesi untuk memperkuat kontribusi ilmu sosial dan humaniora menuju Indonesia Emas 2045.
- Para narasumber sepakat ilmu sosial dan humaniora merupakan fondasi penting untuk memastikan kemajuan teknologi dan ekonomi menghasilkan pembangunan yang berkeadilan dan berorientasi pada manusia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Peran ilmu sosial dan humaniora dinilai menjadi faktor penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Kemajuan ekonomi dan teknologi yang ditargetkan pemerintah dinilai perlu diimbangi dengan penguatan karakter, moral, integritas, serta keadilan sosial di tengah masyarakat.
Hal tersebut mengemuka dalam Seminar dan Talkshow Nasional bertajuk "Peran Ilmu Sosial dan Humaniora Menuju Indonesia Emas 2045" yang digelar Program Studi Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nasional (UNAS), di Kampus UNAS, Jakarta Selatan, Selasa, 14 Juli 2026.
Kegiatan yang merupakan bagian dari Workshop Bina Talenta tersebut diselenggarakan bekerja sama dengan Komisi X DPR RI, Diktisaintek Berdampak, dan Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI).
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Himmatul Aliyah, mengatakan regulasi yang mendukung penguatan ilmu sosial dan humaniora sebenarnya telah tersedia. Baik melalui Undang-Undang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi maupun Undang-Undang Pendidikan Tinggi.
Menurut dia, pencapaian target Indonesia Emas 2045 tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi. Namun, juga kualitas sumber daya manusia yang memiliki karakter dan integritas.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora BRIN, Dr. Muhammad Najib Azca, menilai target Indonesia Emas 2045 tidak boleh hanya dipahami sebagai capaian angka-angka pembangunan.
Ia menekankan pentingnya penguatan peran ilmu sosial dan humaniora dalam penyusunan kebijakan publik. Termasuk, melalui peningkatan pendanaan riset dan penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, BRIN, dan lembaga legislatif.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor I Universitas Nasional, Prof DrErna Ermawati Chotim, M.Si, menyoroti perlunya keseimbangan antara pengembangan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dan ilmu sosial-humaniora.
Menurutnya, penguatan kedua bidang tersebut perlu dilakukan secara beriringan agar pembangunan nasional tidak hanya menghasilkan kemajuan teknologi Tetapi, juga memperhatikan dampak sosial dan budaya.
Ketua Umum APSSI periode 2026–2030, Dr Tyas Retno Wulan, M.Si, memperkenalkan konsep SHAPE (Social Sciences, Humanities, Arts for People and Economy) sebagai mitra strategis STEM dalam pembangunan. Ia mengingatkan pentingnya regenerasi akademisi dan peneliti sosial-humaniora untuk mendukung kebutuhan Indonesia di masa depan.
Para narasumber sepakat bahwa ilmu sosial dan humaniora memiliki peran strategis. Terutama, dalam memastikan kemajuan teknologi dan ekonomi dapat memberikan manfaat yang merata bagi masyarakat.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, legislatif, kementerian, dan organisasi profesi juga dinilai menjadi langkah penting dalam memperkuat kontribusi ilmu sosial dan humaniora menuju Indonesia Emas 2045.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....