Riset BRIN Identifikasi Mekanisme Toleransi Karet terhadap Kering Alur Sadap

  • 26 Jun 2026 18:46 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

Pendekatan transkriptomik memberikan peluang untuk memahami mekanisme biologis yang mendasari respons tanaman karet terhadap penyakit kering alur sadap atau tapping panel dryness (TPD). Pendekatan ini memungkinkan identifikasi gen dan jalur biologis yang terlibat dalam respons tanaman terhadap gangguan fisiologis sehingga dapat mendukung pengembangan varietas karet yang lebih adaptif dan produktif.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Juwartina Ida Royani, menjelaskan bahwa pendekatan transkriptomik mampu memetakan pola ekspresi gen secara menyeluruh ketika tanaman mengalami kondisi stres.

“Pendekatan transkriptomik memungkinkan kita melihat pola ekspresi gen secara menyeluruh sehingga dapat diketahui gen mana saja yang aktif maupun yang mengalami penekanan selama tanaman merespons kondisi tertentu. Informasi tersebut sangat penting untuk memahami mekanisme molekuler yang mendasari toleransi tanaman terhadap penyakit,” jelas Juwartina dalam Webinar EstCrops_Corner #27 bertajuk Inovasi Teknologi Pemuliaan dan Budidaya untuk Mendukung Produktivitas Karet Berkelanjutan, Selasa (23/6/2026).

TPD merupakan salah satu kendala utama dalam budidaya karet karena menyebabkan berkurangnya hingga terhentinya aliran lateks pada bidang sadap. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap penurunan produktivitas tanaman.

Menurut Juwartina, TPD tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan dipengaruhi oleh interaksi faktor genetik, fisiologis, dan lingkungan. Intensitas penyadapan yang tinggi, stres metabolik, ketidakseimbangan fisiologis, serta akumulasi stres oksidatif menjadi beberapa faktor yang berkontribusi terhadap munculnya gangguan tersebut.

“Selama ini upaya penanganan TPD masih banyak dilakukan melalui pendekatan budidaya dan manajemen lapangan. Namun, untuk memperoleh solusi yang lebih berkelanjutan, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam mengenai respons biologis tanaman pada tingkat molekuler,” ujarnya.

Untuk memahami respons tersebut, penelitian transkriptomik dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari pengambilan sampel tanaman, isolasi RNA, sekuensing, analisis bioinformatika, hingga interpretasi biologis data. Melalui tahapan tersebut, peneliti dapat mengidentifikasi perubahan ekspresi gen yang berkaitan dengan kemampuan tanaman dalam menghadapi TPD.

Hasil analisis menunjukkan adanya sejumlah jalur biologis yang berperan dalam mekanisme toleransi terhadap kering alur sadap. Salah satu temuan diperoleh dari pengamatan pada klon karet PB260 yang menunjukkan tingkat toleransi lebih baik dibandingkan tanaman yang mengalami TPD.

“Pada tanaman yang lebih toleran, ditemukan aktivasi sistem pertahanan yang lebih efektif. Mekanisme tersebut melibatkan peningkatan aktivitas antioksidan untuk mengurangi dampak stres oksidatif, pengaturan transport air yang berfungsi menjaga tekanan turgor sel, serta aktivasi jalur sinyal tertentu yang berperan dalam respons terhadap cekaman,” ungkapnya.

Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi peran faktor transkripsi dalam mengatur ekspresi berbagai gen yang terlibat dalam proses perlindungan dan pemulihan jaringan tanaman. Biosintesis metabolit sekunder turut teridentifikasi sebagai komponen yang berkontribusi dalam menjaga stabilitas sel dan meningkatkan kemampuan tanaman menghadapi tekanan lingkungan.

Juwartina mengatakan bahwa temuan tersebut dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi pemuliaan karet yang lebih presisi.

“Temuan-temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi pemuliaan tanaman karet yang lebih presisi. Dengan memahami gen dan jalur biologis yang berperan, kita dapat mendukung pengembangan varietas yang lebih adaptif, produktif, dan memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap gangguan fisiologis,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa integrasi teknologi omik, termasuk transkriptomik, akan semakin penting dalam mendukung riset pertanian modern. Pendekatan berbasis bukti ilmiah tersebut diharapkan dapat mempercepat pengembangan inovasi serta mendukung keberlanjutan sektor perkebunan karet di Indonesia. (sh,nurm/ed:ade, jnn)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....