Pesawat X-59 NASA Lakukan Penerbangan Supersonik untuk Pertama Kalinya

  • 09 Jun 2026 17:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pesawat X-59 NASA untuk pertama kalinya terbang melebihi kecepatan suara pada Jumat, 5 Juni 2026 lalu.
  • X-59 mencapai kecepatan tertinggi sekitar Mach 1,1 dan ketinggian 43.400 kaki.
  • X-59 dirancang untuk terbang dengan kecepatan supersonik sambil hanya menghasilkan bunyi dentuman pelan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pesawat eksperimental X-59 milik NASA menandai tonggak sejarah penting pada Jumat, 5 Juni lalu. X-59 untuk pertama kalinya terbang melebihi kecepatan suara, untuk mendemonstrasikan kemampuan supersoniknya yang senyap pada akhir tahun ini.

Pilot uji coba NASA, Jim “Clue” Less, lepas landas dan mendarat di Pangkalan Angkatan Udara Edwards di California, Amerika Serikat. Mengutip NASA, Selasa, 9 Juni 2026, X-59 mencapai kecepatan tertinggi sekitar Mach 1,1 dan ketinggian 43.400 kaki.

Penerbangan X-59 dimulai pada pukul 11:08 pagi PDT dan berlangsung selama 81 menit. Tim berfokus pada kualitas penerbangan pada kecepatan subsonik dan kemudian supersonik.

”X-59 sedang bersiap untuk debut supersoniknya yang senyap. Dalam beberapa hari ke depan, kami berharap dapat mengambil langkah berikutnya dan mencapai kecepatan Mach 1,4,” kata Administrator NASA, Jared Isaacman.

Jared juga mengapresiasi tim serta Lockheed Martin Skunk Works atas bantuan mereka sampai ke titik tersebut. Ia berharap, capaian ini menjadi yang pertama dari banyak kolaborasi dalam membangun portofolio pesawat X NASA.

X-59 sendiri dirancang untuk terbang dengan kecepatan supersonik sambil hanya menghasilkan bunyi dentuman pelan, bukan ledakan sonik keras. Dalam penerbangan ini, sebuah pesawat pengiring F-15 milik NASA terbang di dekatnya untuk memantau X-59.

Ledakan sonik yang keras dari F-15 menutupi suara apa pun yang dihasilkan oleh X-59. “Penerbangan ini merupakan bukti kepemimpinan Amerika yang tak tergoyahkan dalam bidang sains, teknik, dan inovasi kedirgantaraan,” kata Asisten Presiden AS untuk Sains dan Teknologi serta Direktur Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi, Michael Kratsios.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....