Percepat Pencapaian SDGs, BRIN Dorong Skema Co-Funding Pendanaan Riset dengan UNDP
- 03 Jun 2026 13:56 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BRIN mendorong penguatan kolaborasi pendanaan riset dengan United Nations Development Programme (UNDP) melalui skema co-funding dan hibah.
- Penguatan kolaborasi riset internasional merupakan suatu keniscayaan yang mau tidak mau harus kita optimalkan melalui berbagai skema pendanaan kolaboratif.
- BRIN telah membangun kerja sama pendanaan internasional senilai sekitar Rp142 miliar melalui tiga kolaborasi multilateral dan sembilan kolaborasi bilateral dengan berbagai lembaga pendanaan luar negeri.
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan kolaborasi pendanaan riset dengan United Nations Development Programme (UNDP) melalui skema co-funding dan hibah. Hal ini guna mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN, Raden Arthur Ario Lelono, mengatakan pendanaan merupakan salah satu kunci dalam pengembangan ekosistem riset dan inovasi nasional. “Penguatan kolaborasi riset internasional merupakan suatu keniscayaan yang mau tidak mau harus kita optimalkan melalui berbagai skema pendanaan kolaboratif,” kata Arthur dalam kegiatan BRIN-UNDP Working Session bertajuk Identifying Priority Areas for Collaboration to Accelerate SDGs Implementation, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Rabu 3 Juni 2026.
Hingga saat ini, BRIN telah membangun kerja sama pendanaan internasional senilai sekitar Rp142 miliar melalui tiga kolaborasi multilateral dan sembilan kolaborasi bilateral dengan berbagai lembaga pendanaan luar negeri. Arthur menjelaskan terdapat tiga model kerja sama pendanaan yang dapat dikembangkan bersama UNDP.
Pertama, pendanaan hibah yang disalurkan langsung kepada penerima grant. Kedua, hibah yang dikelola melalui LPDP sebelum disalurkan kepada peneliti melalui skema pendanaan kompetitif.
Ketiga, model no money cross-border policy, yakni masing-masing negara mendanai penelitinya sendiri dalam satu proyek kolaboratif. Dalam model ketiga, dana dari Indonesia hanya digunakan untuk mendukung peneliti Indonesia, sementara mitra luar negeri memperoleh pendanaan dari lembaga pendanaan negaranya masing-masing.
Menurut Arthur, ketiga mekanisme tersebut dapat menjadi dasar bagi pengembangan proyek hibah maupun co-funding BRIN-UNDP yang berfokus pada topik-topik prioritas SDGs dan kebutuhan pembangunan nasional. Lebih lanjut, Arthur menjelaskan BRIN memiliki dua kelompok besar skema pendanaan, yaitu pendanaan riset dari tahap hulu hingga hilir, serta pendanaan untuk hilirisasi dan pemanfaatan hasil riset oleh industri dan startup.
Salah satu skema yang dinilai potensial untuk dikolaborasikan dengan UNDP adalah Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kolaborasi yang memungkinkan pengembangan mekanisme co-funding. “Kami berharap diskusi hari ini dapat menginisiasi proyek hibah maupun co-funding dari UNDP dengan topik-topik spesifik yang sesuai kebutuhan nasional, sehingga dapat meningkatkan dukungan dan modalitas riset secara keseluruhan,” katanya berharap. (tnt)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....